IG Kutipan Awak | Di tengah kebanggaan orang Minangkabau terhadap adat dan gelar kehormatan, sebuah kritik tajam datang dari Djamari Chaniago. Menko Polkam itu menyuarakan kegelisahan yang selama ini mungkin hanya dibicarakan di ruang-ruang kecil, apakah gelar datuak masih benar-benar dijaga kehormatannya, atau sudah mulai kehilangan makna?
Dalam sebuah forum di Sespim Lemdiklat Polri, ia menceritakan pengalaman yang cukup menggelitik sekaligus menohok. Tanpa pernah saling mengenal sebelumnya, seorang ketua adat tiba-tiba datang menawarkan dirinya untuk diangkat sebagai datuak. Sebuah kehormatan yang dalam adat Minangkabau seharusnya lahir dari proses panjang dan penuh pertimbangan.
Djamari justru mempertanyakan logika di balik tawaran tersebut. Mengapa seseorang baru dianggap bagian dari Minangkabau setelah memiliki jabatan? Padahal, menurutnya, identitas Minang sudah ia sandang sejak lama bahkan sejak masa taruna dengan nama Chaniago yang melekat pada dirinya.
Bagi Djamari, gelar datuak bukan sekadar simbol adat. Ia adalah amanah moral. Karena itu, ia balik bertanya kepada sang ketua adat, apa manfaatnya bagi dirinya, dan apa manfaatnya bagi orang Minang jika gelar itu diberikan begitu saja?
Kritiknya menjadi semakin tajam ketika menyinggung kasus yang pernah menghebohkan Sumatera Barat, yakni skandal narkoba yang menjerat Teddy Minahasa, mantan Kapolda Sumbar yang sebelumnya juga pernah diberi gelar datuak. Baginya, peristiwa itu menjadi contoh bagaimana kehormatan adat bisa runtuh jika prosesnya tidak dijaga dengan ketat.
Djamari juga menegur kalangan akademisi di Universitas Andalas. Ia menilai para intelektual tidak boleh sekadar diam ketika melihat sesuatu yang dinilai keliru dalam praktik sosial. Diam, menurutnya, sama saja dengan membiarkan kesalahan terus berulang.
Di akhir ceritanya, Djamari mengambil sikap tegas: ia menolak tawaran gelar datuak tersebut. Sebuah keputusan yang sekaligus menjadi pesan keras bahwa menjaga marwah adat bukan hanya tugas ninik mamak, tetapi tanggung jawab seluruh masyarakat Minangkabau.
---
Transkrip Video
Komentar
Posting Komentar