SOEKARNO DI SUMATERA BARAT TAHUN 1942
“Sejarah Peci Nasional”
Ciloteh Sejarah - Tepat jam 10.45 telepon gengam saya berdering, saya lihat sekilas ada foto bapak mantan Sekda Yendri Tomas, terdengar suara “Hallo, Pak Saiful ,masih ingat dengan suara saya? Kemudian saya berpura-pura lupa karena akhir-akhir ini banyak yang menelpon ujung-ujungnya menawarkan kerjasama penjualan mobil. “Maaf pak saya, telah strok sejak Maret 2025, mungkin lupa dengan suara yang menelpon ini! Jawab saya sambil memastikan siapa tokoh yang menelpon saya.
Kemudian terdengar balasan “Saya Yendri Tomas, mantan Sekda. Tadi saya menelpon Lina Medona menanyakan jika ada menyimpan sejarah tentang Soekarno di Sumatera Barat tahun 1952 untuk membuat sebuah tulisan oleh teman saya, tetapi Lina Medona memberi nomor Saiful, kemungkinan ada menyimpan dokumen tentang Soerkarno ditahun 1952 ini “ Jawab Pak Yendri Tomas.
Pertanyaan seperti ini adalah salah satu obat bagi saya dalam rangka pemulihan stroke, karena dapat mengembalikan memori kolektif yang pernah tersimpan dalam memori otak. Menulis membantu saya untuk merehabilitasi kemampuan motorik, kognitif, dan emosional yang sering terganggu pasca stroke.
Otak saya kemudian mencerna dan berpikir kemudian menjawab “Seingat saya dan yang pernah saya baca, Soekarno tidak pernah datang ke Sumatera Barat di tahun 1952, tetapi yang pernah saya baca adalah pada tahun 1942, dan saya ada menyimpan beberapa catatan sejarahnya.
Karena Pada tahun 1952, setelah adanya Negara Republik Indonesia Serikat (RIS) pasca Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) 1948-1949 dan kemudian dilanjutkan yang dikenal dengan Mosi Integral Natsir yang akhirnya Presiden Soekarno secara resmi membubarkan RIS pada 17 Agustus 1950 dan Indonesia kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Kegiatan Presiden Soekarno pada tahun 1952 yang pernah saya baca adalah pergi berkunjung ke Ploso Jombang dan Sukabumi, Peresmian Pabrik sepatu Bata di Kalibata Jakarta Selatan dan mencetuskan akronim “PETANI” Penyangga Tatanan Negara Indonesia” dalam rangka menggalakkan program swasembada pangan untuk menjamin stabilitas nasional.
Nanti akan saya akan carikan beberapa catatan Soekarno di Sumtera Barat di Tahun 1942” Ujar saya.
“Iyalah, Pak Saiful, apabila sudah dapat rangkuman tulisan tersebut hubungi saya kembali“ Ujar Tuan Yendri Tomas.
*****
Kedatangan Soekarno ke Sumatera Barat pada tahun 1942 tercatat dalam beberapa buku sejarah adalah :
Pada 1942, Kala itu, Soekarno dibawa oleh Belanda ke Sumatera Barat usai menjalani pengasingan di Bengkulu. Namun sejarah berkata lain, ketika Belanda terdesak oleh Jepang, mereka berencana mengasingkan Soekarno ke Australia menggunakan kapal yang disiapkan di Padang. Langkah ini didasari oleh kekhawatiran Belanda bahwa Soekarno akan dimanfaatkan Jepang untuk kepentingan propaganda anti-Belanda.
Mengutip Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat, disebutkan bahwa rumah Ema Idhamlah yang kemudian digunakan sebagai tempat menginap bagi Sukarno selama di Padang. Bahkan tidak hanya sekedar menginap, rumah Ema Idham itu kemudian dimanfaatkan Sukarno sebagai tempat untuk menghimpun dan mengonsolidasikan kekuatan untuk melawan penjajah di Kota Padang.
Untuk itu, rumah Singgah Bung Karno, telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Walikota Padang dengan nama Rumah Ema Idham. Hal ini tertuang dalam Keputusan Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Padang Nomor 03 Tahun 1998 Tentang Penetapan Bangunan Cagar Budaya dan Kawasan Bersejarah di Kotamadya Padang.
*****
Soekarno bertahan di Padang selama lima bulan, sejak Februari hingga Juli 1942. Selama ia berada di Padang. Dalam sejarahnya, Soekarno dan istrinya Inggit Ganarsih pernah berkunjung secara khusus ke pesantren pimpinan Syekh Abbas Abdullah di Padang Japang (Padang Jopang), Kecamatan Guguak, Limapuluh Kota, Sumbar.
Dalam kunjungan itu, Bung Karno meminta saran, 'bagaimana sebaiknya negara Indonesia ini didirikan?'.
Kemudian, Syekh Abbas Abdullah memberikan peci hitam kepada Soekarno sambil berpesan “Bahwa jika kelak negara Indonesia berdiri, maka ia haruslah didasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. Anggaplah peci ini sebagai simbol yang mewakili sumbangsih yang diberikan masyarakat Minangkabau dalam sejarah perjuangan melawan kolonial. Tak hanya sumbangan tenaga, namun juga sumbangan dalam bentuk gagasan. Maka jadikanilah peci hitam itu sebagai peci nasional dan simbol bangsa Indonesia kelak !.”ujar Syekh Abbas Abdullah
Pertemuan antara Bung Karno dengan Syeikh Abbas Abdullah memang hanya berlangsung sebentar. Namun, konsep 'Ketuhanan Yang Maha Esa' terpatri dalam pikiran Bung Karno. Bahkan, ia masih ingat, Syeikh Abbas juga mengingatkan, jika konsep ketuhanan dihilangkan, maka revolusi tidak akan membawa hasil yang diharapkan.
Setelah berada di Padang selama lima bulan, Bung Karno bertemu Komandan Gerakan F-Kikan, Kolonel Fujiyama, yang sudah mengetahui keberadaannya. Bung Karno dengan terpaksa menyetujui perjanjian dengan Jepang.
Meski demikian, setelah bertahun-tahun, konsep tentang sila pertama yang ia dapat dari Padang Jopang masih tetap diingat. Akhirnya, pada 1 Juli 1945, di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Bung Karno mengajukan lima prinsip dasar negara Indonesia --yang nantinya akan menjadi Pancasila.* Peci hitam menjadi peci nasional.
Ditulis kembali oleh H. Saiful Guci SP di Lapau eSPe Kasiah Bundo Jorong Pulutan Nagari Koto Tuo Kecamatan Harau Kabupaten Lima Puluh Kota. 27 Oktober 2025.
================
Baca juga: Dari Darul Funun Padang Jopang...
* Dasar Negara Usulan Soekanor adalah:
- Kebangsaan Indonesia
- Internasionalisme atau Peri Kemanusiaan
- Mufakat atau Demokrasi
- Kesejahteraan Sosial, dan
- Ketuhanan Yang Maha Esa

Komentar
Posting Komentar