FB Cover Minang Indo | Berjudi, menyabung ayam, mengadu balam (burung puyuh), meminum arak, merupakan beberapa di antara penyakit masyarakat (pekat) yang membudaya di Ranah Minangkabau di permulaan abad ke sembilan belas. Tradisi ini lumrah dilakukan kaum adat ketika itu sehingga terjadilah pertentangan berkepanjangan antara kaum adat dengan kaum ulama yang mengharamkan perbuatan tak bernilai syariat itu.
Semua perbuatan tersebut dilakukan segelintir kaum adat sebagai kegiatan perintang-rintang hati, permainan, untuk melalai-lalaikan waktu. Parahnya semua permainan itu punya taruhan, yang kalah harus membayar kepada yang menang. Tak urung keributan terjadi, bunuh membunuh, hingga rebutan perempuan. Kondisi ini lambat laun merusak tatanan masyarakat Minangkabau.
Kondisi yang tidak sehat itu menjadi perhatian serius kaum ulama. Berbagai pendekatan sudah dilakukan namun tidak mangkus. Hingga di tahun 1802 pulanglah tiga orang ulama muda dari Mekah, yaitu Haji Miskin di Pandai Sikek (Luhak Agam), Haji Abdurrahman di Piobang (Luhak Limo Puluh) dan Haji Muhammad Arif di Sumanik yang juga dikenal dengan Tuanku Lintau[1] (Luhak Tanah Datar).
Ketiga ulama muda ini membawa ajaran Wahabi dari Mekah. Hamka dalam bukunya “Ajahku” (Djajamurni Jakarta, cetakan ketiga 1967: 26) menulis, di akhir abad kedelapan belas terjadi pergolakan politik di Mekah. Kaum Wahabi di negeri itu beraliran keras agar umat Islam kembali kepada ajaran tauhid yang asli dari Rasulullah. Gerakan itu mereka lakukan karena banyak umat Islam telah melakukan penyimpangan yang terlalu jauh dari ajaran Islam. Aliran ini didirikan oleh Syech Muhammad bin Abdil Wahhab. Paham Wahabi sempat menyebar keseluruh jazirah Arab hingga menaklukkan tanah Hejaz (Mekah-Madinah).[2]
Keberhasilan kaum Wahabi di Mekah itu menimbulkan kesan di hati ketiga ulama muda asal Minangkabau; Haji Miskin, Haji Piobang dan Haji Sumanik. Usai menuntut ilmu di Mekah, mereka pun pulang kampung untuk mengamalkan ajaran Islam yang sejati. Mereka melihat orang Minang ketika itu baru berlabel Islam saja, tetapi belum mengamalkan Islam secara kaffah. Mereka pulang membawa semangat baru dan merindukan kejayaan Islam di Ranah Minangkabau.
Catatan Admin:
[ Pada hal. 15, disini kata-kata, yang patut dicermati. Ditulis bahwa tiga Haji (Haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji Piobang) yang pulang awal abad 19 tersebut "Mereka pulang membawa semangat baru" dan "Mereka pulang hendak membawa faham baru itu dan hendak menanamkan Islam yang sejati" (paragraf pertama, hal. 15). Dari dua kalimat kunci ini, tidak ada ada penyataan "sharih" dari Prof. Hamka bahwa ketiga Haji itu pulang membawa faham Wahhabi. Kalimat pertama, Prof. Hamka, menunjukkan bahwa tiga haji tadi hanya membawa semangat [beragama]. Cuma kalimat kedua terdapat kata-kata "faham baru", namun diiringi dengan kata tunjuk "itu", yang juga tidak sharih (jelas). Pembaca hanya akan mengira-ngira bahwa kata "itu" akan kembali pada kaum/faham Wahhabi, tapi ini tertolak oleh fakta-fakta yang diuraikan Prof. Hamka sendiri ] selegkapnya silahkan baca: Memahami paderi dalam 'Ayahku' atau klik DISINI
Tentu saja ketiga ulama muda ini mendapat perlawanan yang keras pula dari Kaum Adat. Gejolak pun terjadi. Tuanku Sumanik mendapat perlawanan hebat di negerinya hingga ia terpaksa pindah ke Lintau. Haji Miskin juga mendapat perlawanan yang tak kalah berat di Pandai Sikek hingga terpaksa pindah ke Ampek Angkek. Hanya Tuanku di Piobang yang tidak banyak mendapat tantangan.
Menyerahkah ulama-ulama itu? Tidak!. Haji Miskin kemudian mendapat teman seperjuangan yang setia di Agam. Mereka adalah Tuanku Nan Renceh di Kamang, Tuanku di Kubu Sanang, Tuanku di Ladang Laweh, Tuanku di Padang Luar, Tuanku di Galung, Tuanku di Koto Ambalau dan Tuanku di Lubuk Aur. Kedelapan ulama ini bertekad sehidup semati dan mereka pun terkenal dengan sebutan “Harimau Nan Salapan”. Prinsip Harimau Nan Salapan, ajaran murni Islam harus ditegakkan di setiap nagari meskipun pedang harus bicara!.
Catatan Admin:
Banyak versi tentang Harimau Nan Salapan, dari sekian banyak versi, nama yang selalu muncul sebagai anggota dalam setiap versi ialah Tuanku Nan Renceh yang diduga pemimpin dari Harimau Nan Salapan sekaligus menjadi Imam (pemimpin) Paderi pertama. Selengkapnya silahkan baca DISINI
Meski mendapat pertentangan di sana sini, namun banyak juga nagari-nagari di Agam yang masyarakatnya mulai kembali menganut ajaran Islam secara benar. Harimau Nan Salapan telah menjadi “penjaga akidah umat” yang selalu berada di garda terdepan. Satu persatu nagari-nagari di Agam ditaklukkan, yang melawan mereka bakar.[3] Nagari yang takluk diangkat seorang Tuan Kadhi dan Tuan Imam. Tuan Kadhi untuk menjaga perjalanan hukum Syarak dan Tuan Imam untuk memimpin peribadatan sembayang dan bulan puasa.[4] Maka segala penyakit masyarakat seperti judi, minuman keras, menyabung ayam dan mengadu balam lenyap. Perempuan mesti menutup rambutnya sebab rambut adalah aurat. Di setiap halaman rumah mesti ada batu hampar[5] yang gunanya untuk membasuh kaki akan sembahyang.
Itulah sekelumit nostalgia tentang Harimau Nan Salapan. Cakar dan taringnya tajam dalam menegakkan falsafah Minangkabau, “adat basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah”. ***
@TAMBAHAN@
Istilah Harimau Nan Salapan sudah memasyarakat di Ranah Minang sejak dimulainya perjuangan pengusiran penjajah oleh Abdullah Tuangku Nan Renceh 1803. Masa itu diperkirakan Nan Renceh berumur 35 tahun. Kiprah Tuangku Nan Renceh dalam perjuangan mengusir kaum penjajah sudah termashur dengan Perang Kamang.
Disebut sebagai Harimau Nan Salapan karena jumlah anggotanya delapan orang, yaitu : Tuangku Nan Renceh, Tuangku Kubu Sanang, Tuangku Ladang Laweh, Tuangku Padang Lua, Tuangku Galuang, Tuangku Koto Ambalau, Tuangku Pamansingan dan Tuangku Haji Miskin.
Sepak terjang Harimau Nan Salapan juga dikenal di Daerah Tapanuli Selatan. Masyarakat Tapanuli Selatan (Mandailing dan Angkola) yang pada masa itu mayoritas masih menganut Pagan (semacam animisme), berhasil diislamkan oleh Pongkinangolngolan Sinambela yang bergelar Tuanku Rao, Hamonangan Harahap bergelar Tuanku Tambusai, Mansur Marpaung bergelar Tuanku Asahan, Jatenggar Siregar bergelar Tuanku Ali Sakti dan sejumlah pemuda lain yang belajar agama Islam serta taktik perang dengan Tuangku Nan Renceh di Kamang, Luhak Agam, Minangkabau.
Menurut DP Asral, seorang pengamat sejarah Minangkabau asal Bukittinggi, gelar tuangku mereka sandang bukan semata karena mereka paham dan mengerti serta mengamalkan ajaran Islam dengan baik. Tetapi lebih disebabkan mereka berani berjauang memimpin pasukan menyerang kaum penjajah. Artinya merekalah orang-orang terkemuka, atau disebut saja sarjana masa itu.[6]
Kata Onggang Parlindungan dalam buku Tuangku Rao, Harimau Nan Salapan, juga dikenal sebagai Presedium Negara Darul Islam Minangkabau pada masanya. Tuangku Nan Renceh mereka tunjuk sebagai Ketua Presedium. Cita-cita Nan Renceh sangat besar. Dia ingin membebaskan Tanah Jawi (Nusantara) ini dari kegelapan dan cengkraman penjajah.
Catatan admin:
Mangaraja Onggang Parlindungan sangat banyak mendapat kritik atas bukunya 'Tuanku Rao'. Salah satunya darai Buya Hamka yang membuat satu buku khusus untuk mengiritik buku Parlindungan. Buku tersebut berjudul; Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao. Istilah 'Tanah Jawi' tidak dikenal di Minangkabau, 'TulisanJawi dikenal' di Minangkabau dengan nama Tulisan Arab Melayu. Demikian juga kata 'Nusantara' juga tidak dikenal, karena kata itu baru lahir dari seorang Belanda bernama Douwes Dekker pada tahun 1887. Dalam literatur asli Minangkabau dan Melayu digunakan kata Alam Minangkabau yang merujuk kepada wilayah beradatkan Minang dan Alam Melayu untuk keseluruhan wilayah jazirah kepulauan yang sekarang bernama Indonesia, Malaysia, Brunai, dan Filipina.
Sebagai langkah awal, Kelompok Delapan ini membuka selimut hitam yang mengatapi Minangkabau. Masyarakat Minang yang pada masa itu terlena dengan kebiasaan bersuka ria, menikmati hidup dengan keramaian judi dan sabung ayam, menjadi sasaran utama untuk dibersihkan.
Sejarah mencatat, usaha pembersihan ini tidak semudah membalik telapak tangan. Sebab, kaum adat yang suka menikmati hidup duniawi, merasa kesenangannya terusik. Karena itu mereka pun mengadakan perlawanan terhadap gerakan kaum putih yang dipimpin Nan Renceh. Berkat ketegasan dan kematangan rencana dari kaum putih ini pula, akhirnya Ranah Minang bisa juga dikuasai kaum ulama.
Selanjutnya, perjuangan Harimau Nan Salapan menghasilkan perdamaian antara kaum adat dan kaum agama di Minangkabau pada tahun 1834. Perdamaian ini pula yang dikenal sebagai Kesepakatan Bukit Marapalam yang membuahkan istilah ABS-SBK (Adat Basandi Syarak – Syarak Basandi Kitabbullah). Tuangku Nan Renceh sendiri tidak hadir dalam upaya perdamaian ini karena dia gugur dalam pertempuran melawan Belanda di Bukittinggi, 1826.
Catatan admin:Menurut Buya Mas'ud Abidin, Sumpah Sati Bukik Marapalam terjadi pada masa Raja Yang Dipertuan Sakti pada bulan Sya'ban 804 H/ 1403 M. Propaganda yang mengatakan bahwa fasafah ABS-SBK lahir guna mendamaikan Perang Paderi berasal dari kalangan orientalis/ sekluar guna mengerdilakan posisi Syari'at Islam sebagai dasar utama dari Adat Minang.
Jika dicermati, apa yang dilakukan Tuangku Nan Renceh selama perjuangannya, sebagaimana sejarah juga mencatat, tentulah tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Trio Haji yang pulang dari Mekah di akhir abad ke 18. Mereka adalah Haji Piobang, Haji Sumanik dan Haji Miskin. Ketiga orang ini memiliki keahlian masing-masing dalam menanamkan paham wahabi di Ranah Minang.
Beberapa catatan menyebutkan, Piobang adalah seorang lulusan Universitas Al-Azhar yang sempat menjadi tentara Mesir kemudian bergabung dengan tentara Turki melawan Napoleon. Terakhir Piobang berpangkat kolonel. Haji Sumanik berpangkat mayor, dia kawan Piobang di Al-Azhar yang juga ikut melawan tentara Napoleon. Sedangkan Haji Miskin merupakan seorang berpengetahuan luas tentang Islam lama mengambara di Jazirah Arab.
Catatan oleh Admin:
Kaum Wahabi sangat benci dengan institusi Al Azhar, tidak mungkin seorang lulusan Al Azhar dimasa lalu merupakan penganut Wahabi.
Paragraf di atas membuktikan bahwa sumber utama dari tulisan ini ialah Buku Tuanku Rao yang dikarang oleh Mangaraja Onggang Parlindungan yang telah mendapat kritik dari Buya Hamka. Buku Tuanku Rao sendiri lebih menyerupai novel, dengan banyak dramatisir, masalah pada sumber penulisan.
Trio Haji inilah yang sejak kepulangan mereka ke kampung halaman, mendampingi Nan Renceh dalam berjuang menegakkan syariat Islam di Ranah Minang. Mereka pula yang membina angkatan perang, serta meletakkan fondasi perjuangan melawan kaum penjajah.
Tentara padri bentukan Haji Piobang, bukannya tentara kampungan. Tetapi sudah terstruktur rapi hingga ke desa (nagari-nagari). Kepala Nagari merupakan komandan tentara di pedesaan.
Beberapa litelatur mencatat, dalam menegakkan syariat Islam di Minangkabau masa itu, masing-masing Tuangku di daerah kekuasaannya menerapkan sistem lihat batu tapakan (batu yang menjadi injakan terakhir ketika naik ke atas rumah). Apa bila dalam pemeriksaan di pagi hari batu ini tidak basah oleh air wuduk shalat subuh, maka orang yang ada di atas rumah itu dianggap tidak Islam. Eksekusi pun dijalankan di tempat. Hukumannya beragam, mulai dari cambukan sampai hukum pancung.
Untuk daerah Luhak Tanah Data, masa itu dikenal ketegasan Taungku Lintau (atau disebut juga Tuangku Alim Tahu). Beliau ini terkenal dengan prajuritnya yang sangat aktif memeriksa batu tapakan setiap pagi di setiap rumah-rumah penduduk. Derap langkah kaki kuda prajurit ini sangat di takuti oleh orang-orang pelanggar syariat agama.
Tapi, semua ini adalah cerita masa lalu. Kini hanya tinggal kenangan. Soal basah atau tidaknya batu tapakan di rumah-rumah penduduk menjelang sembahyang subuh, tidak ada lagi yang akan memeriksa dan mengingatkannya, kecuali diri mereka masing-masing.
Sc: MAJELIS MUJAHIDIN BUKITTINGGI
=========
Lebih lanjut mengenai Sejarah Paderi silahkan klik DISINI
=========
Catatan kaki:
[1] Dikenal juga dengan nama Haji Sumanik
[2] Dalam buku yang sama Buya Hamka juga membantah tuduhan bahwa Paderi itu Wahabi karena karakter Mujahid Paderi tidak sesuai dengan karakter Wahabi, dan Buya tidak pernah menyebut secara tersurat kalau ketiga haji itu berfaham Wahabi. Beliau justeru menjelaskan bahwa para Mujahid Paderi ialah para Sufi. Silahkan Baca: Memahami paderi dalam 'Ayahku' atau klik DISINI
[3] Proses pembakaran kampung-kampung oleh Paderi berasal dari sumber-sumber Belanda, kita mesti hati-hati dengan berbagai tulisan tentang Paderi yang digunakan untuk mempropagandakan ideologi tertentu atau pemahaman tertentu dalam beragama.
[4] Paderi tidak didominasi oleh kalangan ulama sahaja melainkan juga terdapat para penghulu yang berpihak kepada Paderi. Dalam nagari-nagari yang menerima atau berhasil ditaklukan Paderi sistem adat tetap berdiri dengan menambahkan jabatan keagamaan (Islam) dalam struktur adat. Paderi tidak Anti Adat, Paderi anti Maksiat.
[5] Dalam sumber lain disebutkan nama batunya ialah 'Batu Tapak an' yakni sebuah batu air berbentuk pipih lebar yang biasanya juga digunakan sebagai 'batu sandi'. Terletak di depan rumah, tepatnya di sebelah cibuak yang dipakai untuk mengambil air guna membasuh kaki tatkala hendak masuk rumah. Setiap pagi batu ini akan diperiksa, apabila kering/ tidak basah maka tandanya penghuni rumah tidak menunaikan Shalat Subuh dan akan segera dihukum. Hal mana berlaku sendiri kepada saudara perempuan dari ibu Tuanku Nan Renceh, saudara perempuan - yang menurut beberapa sumber disebut dengan panggilan berbeda, seperti: ibu, etek, bibi - dihukum mati oleh Tuanku Nan Renceh.
[6] dalam adat Minangkabau, panggilan 'Tuanku' merupakan panggilan kepada raja, para pembesar kerajaan, atau orang yang menjadi pucuk dalam nagari. Maknanya ialah seorang pemimpin yang didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting. Pada masa Paderi gelar ini disematkan kepada para ulama di Minangkabau yang bermakna bahwa merekalah pemimpin dalam hal Syari'at, seperti pepatah Minangkabau; pergi tempat memberi kabar, pulang tempat member berita, umpama kayu besar di tengah koto, dahannya tempat bergantung, batangnya tempat bersandar, akarnya tempat bersila, daunnya perak suaso, bunganya ambil untuk sunting, buahnya boleh dimakan, tempat berteduh ketika hujan, tempat berlindung ketika panas. Gelar ini kemudian terus dipakai hingga hari ini, walau penggunaannya sudah semakin berkurang karena panggilan 'ustad' sudah banyak digunakan.

Komentar
Posting Komentar