Langsung ke konten utama

Perebutan pengaruh antara Khatolik (Portugis) dan Islam (Ternate) di Makassar.

 

Pict: IDN Times

FB Edi Kurniawan - Pada abad XVI, dan lebih khusus lagi pada tahun 1544, Sulawesi bagian Selatan telah mendapat upaya misionaris. Di prakarsai oleh orang awam Antonio de Payva dan dilanjutkan oleh pastor bernama Vicente Viegas yang datang ke Makassar dari Malaka[1] pada tahun 1545 dan bekerja disana selama tiga tahun sebelum kembali ke Malaka. Sejak upaya misionaris Makassar ini telah disebutkan berkali-kali dalam berbagai surat dari Misionaris, tetapi tidak ada kelanjutan dari karya tersebut.
17 November 1556, P. Bilthasar Diaz S.J. menulis tentang Makassar, “bahwa“ disana tinggal tiga pangeran Kristen, yang jika tidak ada yang pergi untuk “membantu misi mereka" maka akan binasa (keluar dari Khatolik)”
3 Desember 1559, dia kembali lagi mengirim sepucuk surat kepada Provinsial Jesuit di Goa India: "Maqua'ar (Makassar), "sebuah negara yang sangat besar, masih seluruhnya kafir[2] (menurutnya: belum mengenal agama samawi "Kristen maupun Islam". Vicente Viegas telah ada di sana dan telah mempertobatkan empat pangeran dan beberapa orang biasa. Dan semuanya yang lainnya juga ingin menjadi Kristen.
Saya telah memutuskan untuk mendapatkan rincian lebih lanjut tentang negara ini, "karena negara ini memiliki reputasi yang baik di wilayah ini." Betapa pentingnya bagi P. Diaz terlihat dari hal ini, bahwa ia kembali ke Makassar dengan catatan tambahan pada surat yang sama: "Setelah saya menulis hal di atas, saya telah menerima laporan lebih lanjut tentang Makassar".
Sekarang saya tahu pasti bahwa Mahomedanisme (Islam)[3] belum ada memeluk. Alasannya adalah karena mereka makan daging babi. Masih ada beberapa pangeran yang pernah menjadi Kristen. “Saya sekarang telah mengatur dengan komandan Malaka bahwa dia akan mengirimkan surat kepadanya melalui kapal yang telah ada sebelumnya. Ini akan menjadi negara yang paling disukai untuk misi Kristen yang ada di 'wilayah' ini).
Tepat lima tahun kemudian, 3 Desember 1564, P. Diaz menulis lagi tentang Sulawesi Selatan dan sekarang mengirim surat kepada Romo Laynez, Jenderal Jesuit di Roma. “Saya telah menyurati Provinsi kami untuk mengirim para Bapa (Romo) ke Machassar, yang berbatasan dengan Ambueno (Ambon). Ada “beberapa kerajaan di negeri ini, semuanya masih kafir. Meskipun ajaran Mahomed (Islam) sering dikhotbahkan disana, mereka tidak pernah menerimanya. Karenanya mungkin kita memiliki harapan yang baik untuk menghasilkan "banyak buah" (Misi kekristenan).
Seorang saudagar yang datang tahun ini dari daerah ini mengatakan kepada kami, “bahwa beberapa kepala suku ini membawakan kepadanya sebuah lukisan kami “Nyonya terkasih" (Bunda Maria) untuk menyembah Dia. Dari sini tampak bahwa pertobatan mereka akan mudah. Salah satu pemimpin negara ini telah menjadi seorang Kristen di sini. Kami berharap teladannya akan menarik banyak orang, karena dia memiliki pengaruh yang besar di antara mereka. Banyak orang lain akan “dibaptis” tahun ini, karena masih “kafir” datang ke kota perdagangan ini (Makassaar) dari semua sisi.
Sayangnya, harapan yang menguntungkan itu tidak terwujud. Pada tahun 1580 Sultan Baab (Baabullah) dari Ternate, lawan yang ditakuti Portugis di Kepulauan Hindia, bersekutu dengan Radja Makassar. Francois Valentijn meriwayatkan hal ini dan mengatakan bahwa Baabullah bahkan menuntut agar Raja Makassar yang disebut Pattingaloang harus menjadi seorang Mohammedan (Islam) dan meninggalkan agama "Kristen" (khatolik) yang telah diperkenalkan di sana oleh Portugis, meskipun mereka "orang-orang Makassar" belum mempelajari Kristen (Khatolik) lebih dari hanya menyandang nama”.
Sumber : Onder de Compagnie - geschiedenis
der katholieke missie van Nederl.-Indië, 1606-1800. *B.J.J. Visser.

=========================

Catatan Kaki oleh Admin:

[1] Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511

[2] Kafir merupakan istilah dalam Agama Islam, permasalahan penggunaan kata ini muncul hari ini karena kata tersebut juga diadopsi oleh penganut Kristen dengan panafsiran yang sama. Sehingga hal ini menjadi sengketa.

[3] Mohamadinesm merupakan sebutan orang Kristen terhadap Islam pada masa abad pertengahan hingga masa kolonial mereka. Mereka menamakan demikian karena melihat dari sudut pandang mereka. Dalam sudut pandang mereka yang Kristen, dimana mereka juga menyebut diri mereka sebagai Pengikut Kristus, dan yang dimaksud dengan Kristus ialah Yesus. Mereka menyamakan antara konsep teologi mereka dengan agama lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...