Langsung ke konten utama

Atlas Catalan 1375 Masehi: Tarpobana dan Raja di Sumatera

 Atlas Catalan1, merupakan peta yang dibuat oleh Abraham Ceques2, dia merupakan pembuat peta yang berasal dari Majorca (Mallorca3) Spanyol. Peta ini dibuat selama 1370an Masehi, dianggap sebagai peta terlengkap pada masanya4 .

Gambar: fosil73.wordpress

Adapun yang menarik dari Atlas Catalan ini, dilengkapi dengan Laut, Garis Mata Angin sebagai Pemandu Navigasi laut, Gambar Gambar Pulau kecil dan Potensi Mineral yang dimiliki, Untaian Pegunungan, Batas Kerajaan, Pusat Kerajaan berupa Benteng, Gambar Raja/Penguasa, Makhluk Mitologi, serta deskripsi singkat wilayah dan lainnya. Pada peta ini dapat ditemui beberapa kerajaan serta pulau yang ada di abad 14 Masehi. Salah satunya adalah Illa (Isla) Trapobana yang merupakan pulau Sumatera yang ada di wilayah Indonesia di masa sekarang. Trapobana (selanjutnya Sumatera) yang terdapat pada bagian kanan bawah lembar ke 4 peta tersebut.

Illa (Isla) Trapobana dalam Atlas Catalan 1375 Masehi
Foto: 
fosil73.wordpress

Gambar di atas merupakan gambaran bagaimana situasi yang ada di sumatera, pada gambar dapat lihat bahwa daerag tersebut memilik banyak daerah tinggi/perbukitan/pegunungan digambarkan daerah tinggi tersebut mengelilingi pulau tersebut, terlihat ada 8 benteng yang tersebar pada pulau itu, pulau terbagi oleh aliran sungai menjadi 3 bagian, 2 benteng terdapat pada bagian kiri, ditengah ada 3 benteng, sedangkan pada bagian kanan yang memiliki ukuran yang lebih luas terdapat 3 benteng. Adapun nama dari 3 benteng tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Hopinar (Benteng bagian kiri atas)
  2. Levoa (Benteng bagian kiri bawah)
  3. Menlay (Benteng tengah atas)
  4. Inalao (Benteng tengah tengah)
  5. Aqueftaqútat Essefta Fev Ferfeteo (Benteng tengah bawah)
  6. Dinlay (Benteng kiri kanan atas)
  7. Mdaro (Benteng kiri kiri atas)
  8. Tanpa Nama (Benteng Kiri Tengah)

Gadjah
Foto: fosil73.wordpress

Selain Benteng, terdapat gambar Gadjah, seperti yang diketahui Gajah Sumatera merupakan salah satu subspesies gajah yang ada di asia dan merupakan penghuni asli pulau sumatera. Dalam Atlas Catalan pada bagian punggung gajah terdapat semacam alas sepertinya gadjah tersebut dijadikan sebagai kendaraan pengangkut manusia atau moda transportasi5 pada zaman tersebut. Posisi Gadjah sangat dekat dengan Benteng, sangat mungkin gadjah tersebut juga dijadikan sebagai moda transportasi benteng dalam pertahanan.

Raja Illa (Isla/Pulau) Trapobana (Sumatera) Tahun 1375 Masehi
Foto: fosil73.wordpress

Pada Atlas Catalan terdapat juga gambar seorang Raja Bermahkota yang sedang duduk diatas Lapik. Tokoh Raja yang duduk di Trapobana ini cukup menarik untuk ditelusuri, peta yang dibuat dalam rentang tahun 1370an Masehi ini mengidentifikasi ada seorang raja yang menguasai pulau tersebut. Sebagaimana yang diketahui pada rentang tahun 1347 sampai dengan 1375 Penguasa Pulau Emas/Svarnnadwipa di Swarnnabhuni adalah Adityawarman bergelar Udayadityavarman (or Adityavarmodaya) Pratapaparakramarajendra Maulimalivarmadewa6. Sehingga sangat mungkin dalam peta tersebut gambar Raja tersebut adalah Gambar dari Adityawarman.

Pada bagian atas dari Sumatera terdapat deksripsi singkat yang menerangkan mengenai yang ada di sekitar pulau tersebut, alih teksnya tertulis sebagai berikut:

Deskripsi Atlas Catalan mengenai Illa (Isla) Trapobana 1375 Masehi
Foto: fosil73.wordpress

Foto: fosil73.wordpress

Pembacaan Ulang Teks:

la Illa trabobana / aquefta. alfellade F Las Taptras

Magna cadlei. derrera deoviet.. / en aquefra fila hagens

de gram difendia dete altres / cranalguns muts de aquefra

illa hahome desram forma cocos / XXI coldes / IXI

com agigants / 2 molt negreso.. / 2 houfans de Paho,

AlunoMenjentosBorneosBlanchaeftrayo, filo, podn,

Suer / in aquesfa ilia ha cafaun any . y.eftiuoziil

Pierno / 2 dueouegades layn hi florexen les arbies

2 les berbes / 2 . laderera illa dseos indie./ 2 ha bunda molt en oz 2 enargent / Zenpedres preciofel

Peta peta pada tahun 1300 yang menggambarkan kondisi Indonesia serta Sumatera khususnya sangat terbatas, Atlas Catalan tahun 1375 ini sangat membantu dalam menambah khasanah dalam mengenal wilayah yang ada di Indonesia terlebih dalam hal kebudayaan.

Sumber:

  1. Catalan Atlas. 1375 Century.
  2. Travelers Along Silk The Roads, 10th Century To The Present @Pitt: The Catalan Atlas
  3. History of Manjorca
  4. Ibid 2
  5. Yacob, Dharwis Widya Utama. 2017. Naskah Sumber Arsip Moda Transportasi Tradisional. Arsip Nasional Republik Indonesia.
  6. Surat Keputusan No 77/M/2019 Penetapan Cagar Budaya; Delapan Belas Prasasti Adityawarman. Direktur Jendral Kebudayaan, Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan.


Disalin dari laman fosil73.wordpress


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...