Langsung ke konten utama

Srivijaya di masa pendudukan Chola (1030-1115)

Ilustrasi Gambar: kreately.in
Antara tahun 1025, Rajendra Chola, Raja Chola dari Tamil Nadu di India Selatan, melancarkan serangan laut terhadap pelabuhan Sriwijaya di Asia Tenggara Maritim. Pada tahun 1030 ia menaklukkan Kadaram (Kedah kini), ibukota Srivijaya kala itu? mendudukinya selama beberapa waktu dan menangkap Sangrama Vijayottunggawarman.

Ekspedisi Rajendra terhadap Sriwijaya merupakan suatu peristiwa unik dalam sejarah India dan hubungan damai timbal baliknya dengan negara-negara Asia Tenggara. Semenjak saat itu Sumatra dan Semenanjung Malaya berada di bawah keluasaan Rajendra Cola? Sementara mandala[1] yang lainnya melepaskan diri.
Menurut catatan Burma, Kyanzittha, penguasa Pagan (Burma) bertemu dengan keluarga kerajaan Chola dengan mengirimkan seorang duta besar ke kaisar Chola. Dalam sebuah prasasti di Pagan, ia bahkan mengklaim telah mengubah Chola menjadi Buddha melalui surat pribadi yang ditulis di atas kertas emas.
Ada juga bukti yang menunjukkan bahwa Kulottunga, yang di masa mudanya, berada di Sri Vijaya, (Kedah? Palembang?) memulihkan ketertiban dan mempertaankan pengaruh Chola di daerah itu. Virarajendra Chola menyatakan dalam prasastinya, tertanggal pada tahun ke-7 pemerintahannya (1063M), ia kembali menaklukkan Kadaram dan mengembalikannya kepada rajanya yang datang dan menyembah kakinya. Ekspedisi ini dipimpin oleh Kulottunga atas nama pamannya Virarajendra Chola.
Sebuah prasasti Kanton menyebutkan Ti-hua-kialo sebagai penguasa Sri Wijaya. Menurut sejarawan, penguasa ini sama dengan penguasa Chola Ti-hua-kialo (diidentifikasi dengan Kulottunga) yang disebutkan dalam sejarah Song dan yang mengirim kedutaan ke Cina. Menurut Tan Yeok Song, editor prasasti Sri Vijayan di Kanton, Kulottunga tinggal di Kadaram setelah ekspedisi angkatan laut tahun 1067 M dan mengangkat kembali rajanya sebelum kembali ke India Selatan dan naik takhta.
Pada 1077 M, raja Chulien (Chola) Ti-hua-kialo mengirim kedutaan ke istana Cina dicatat sebagai San Fo Tsi. Sastri mengidentifikasi dengan Kulottunga. Usaha perdagangan. Pada 1089 M, penguasa Sri Vijayam mengirim dua duta utusan ke istana Kulottunga, meminta dia untuk memperbarui hibah lama ke biara Buddha (Chulamani Vihara) di Nagapattinam yang dibangun selama periode Rajaraja Chola I.
Raja Khmer Suryawarman II (1113-1150) yang mendrikan Angkor Thom yang terkenal itu mengirim misi ke dinasti Chola dan mempersembahkan sebuah batu berharga kepada Kulottunga pada tahun 1114 M. Sepeninggal Koluttungga di tahun 1122 Suryavarman II menjadi satu-satunya kandidat untuk meneruskan tahta Khmer-Champa dan hampir seluruh mandala eks Srivijaya berhasil disatukan olehnya.

Disalin dari kiriman FB Riff ben Dahl

Catatan kaki oleh admin:

[1] Mandala ialah daerah bawahan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...