Langsung ke konten utama

DJAMBI abad 12 - 13 - 14

 

Ilustrasi Gambar: dradio.id

DJAMBI abad 12 - 13 - 14 dst ....( Sumatra Tengah ) .

Abad ke-12.

Pada permulaan abad ke 12 Keradjaan Melaju dapat berdiri sendiri lepas dari kekuasaan Sriwidjaja, bahkan pada tahun 1183 keradjaan Melaju dapat merebut kekuasaan Sriwidjaja ditanah Semenandjung Melaka. Demikianlah dalam abad ke 12 negeri Sriwidjaja dari sedikit kesedikit berkurang kekuasaannja hingga keradjaan besar itu hanja tinggal sedikit sadja terbatas didaerah Palembang jang sekarang ini. Disamping itu negeri Melaju dengan pesatnja sampai dapat menggantikan Sriwidjaja dalam menguasai perniagaan Selat Melaka.

Pada tahun 1286.

Kekuasaan Melaju dipegang oleh radja bangsa Sjailendera djuga jang berkedudukan di Ulu Batang Hari, didaerah Siguntur sekarang. Pada masa itu keradjaan Melaju disebut Keradjaan Darmaseraja. Jang memerintah ditanah Melaju pada sebelum adanja Keradjaan Darmaseraja itu tidak dapat diketahui, hanja setelah adanja Keradjaan Darmaseraja itu terdapat bekas-bekas (tulisan diatas batu tjandi) jang menundjukkan bahwa jang memerintah keradjaan Darmaseraja itu adalah keturunan keluarga Sjailendera. Dari hal ini dapat diduga bahwa petjahnja keradjaan Sriwidjaja itu adalah disebabkan perselisihan anggota-anggota keluarga Sjailendera jang achirnja bertjerai-berai. Djuga diduga bahwa selagi berada dibawah kekuasaan Sriwidjaja, negeri Melaju sebagai djadjahan dari Sriwidjaja, oleh salah seorang dari keluarga Sjailendera didirikan pusat keradjaannja di Ulu Batang Hari (Siguntur).

Pada tahun 1275 - 1293.

Sementara itu dipulau Djawa telah berdiri keradjaan jang besar kekuasaannja jaitu keradjaan Tumapel-Singasari dibawah pemerintahan Seri Kartanegara. Pada tahun 1275 Seri Kertanegara mengutus peradjuritnja ke negeri Melaju untuk menundukkan keradjaan ini. Perutusan Tumapel-Singosari kenegeri Melaju ini dinamakan ,,Pemelaju". Utusan Pemelaju ini berangkat dari Tuban (Djawa Timur) mendarat didaerah Djambi mendjalani Sungai Batang Hari sampai ke ibu kota Darmaseraja. Dengan kedatangan peradjurit Djawa kenegeri Melaju itu, negeri Melaju mendjadi kekuasaan keradjaan Tumapel-Singosari jang diperintah olehRadja Melaju sendiri, Radja Mauliwarmadewa jang bergelar Adji Mantrolot. Walaupun keradjaan ini dibawah kekuasaan Tumapel Singosari, ia tetap mendjadi keradjaan jang teramai dipulau Sumatera.

Pada tahun 1294.

Pada tahun 1294 keradjaan Tumapel-Singosari roboh karena perselisihan dengan Daha dan Madura dan Seri Kartanegara dibunuh oleh Radja Daha [yang bernama] Djakatwang. Dengan kebidjaksanaan Raden Widjaja, salah seorang menantu dari Seri Kartanegara, dapatlah didirikan keradjaan baru dekat Modjokerto sekarang, bernama keradjaan Madjapahit diperintahi oleh Raden Widjaja sendiri jang bergelarkan Kartaradjasa Djajawardana.

Untuk mendjaga perselisihan dalam negeri jang masih berlaku, Kartaradjasa perlu menambah kekuatan tenteranja kemudian di panggilnja pradjurit Seri Kartanegara jang berada dinegeri Melaju kembali ketanah Djawa. Peradjurit Djawa pulang ke Madjapahit dengan membawa seorang puteri Melaju nama Dara Petak jang mendjadi selirnja Perabu Kartaradjasa diiringi oleh permaisuri Radja Mauliwarmadewa Dara Djingga, ibu putera Mahkota di negeri Melaju Tuan Djenaka, jang pada tahun 1347 berada di istana Madjapahit. Dengan sendirinja keradjaan Melaju pada waktu itu meliputi Djambi, Tebo, Ulu Batang Hari dan Minangkabau mendjadi dibawah kekuasaan Keradjaan Madjapahit dan pada tahun 1342 Radja Adityawarman memerintah dinegeri Melaju.

Pada tahun 1375 pusat keradjaan Melaju dengan sebab jang tidak diketahui berpindah ke Pagarrujung dekat Batusangkar ti: Minangkabau) dan pemerintahannja hanja meliputi Minangkabau dan Ulu Batang Hari sadja. Serempak dengan ini hilanglah keradjaan Darmaseraja. Sebahagian lagi dari keradjaan Melaju dulu, ialah Mangundjaja (Tebo) dan Djambi, pada lahirnja tetaplah mendjadi sebahagian dari keradjaan Madjapahit. Pada tahun 1377 keradjaan Sriwidjajapun dikuasai oleh Madjapahit. Kemudian setelah peradjurit Djawa kembali ke Madjapahit, pedagang-pedagang bangsa Cina jang berada di Sriwidjaja dibawah pemimpinnja Loang Tao Ming mengakui kekuasaan Sriwidjaja dan pernah pula menguasai negeri Melaju, sedang kekuasaan Madjapahit masih tetap berlaku......
.......bersambung thn 1400 dst ....

Disalin dari kiriman FB Mamok Kincai Niang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...