Disalin dari blog:
http://poestahadepok.blogspot.com
_________________________
 |
| Peta 1909 |
Mentawai
tidak jauh dari Kota Padang. Kepulauan yang terdiri dari empat pulau besar
(Siberut, Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan) yang parallel dengan Pantai
Barat Sumatra yang didiami oleh penduduk Mentawai. Secara historis, Mentawai
sudah sejak lama dikenal dan dikunjungi oleh orang-orang Eropa/Belanda, namun
baru tahun 1864 dimasukkan sebagai yurisdiksi Belanda berdasarkan Staatsblad
No. 14 tanggal 10 Juli 1864.
Kepulauan
Mentawai ditingkatkan statusnya menjadi kabupaten pada tahun 1999 berdasarkan UU
No. 49 Tahun 1999. Kabupaten ini beribukota di Tuapejat, sebelah utara dari
pulau Sipora. Pada tahun 2010 Kabupaten Kepulauan Mentawai terdiri dari 10
kecamatan.
Sedari Dulu
Informasi
terawal tentang Mentawai ditemukan dalam lukisan Carl Benjamin Hermann von Rosenberg.
Beberapa lukisan Rosenberg tentang keberadaan Mentawai adalah sebuah kampong (Dorp
op Mentawei) dan sebuah kegiatan nelayan (Verschillende kano's van Mentawei).
Lukisan ini sudah cukup menjelaskan tentang kondisi Mentawai sekitar tahun 1847
hingga 1852 ketika Rosenberg mengunjunginya.
 |
| Nederlandsche staatscourant, 14-04-1859 |
Pada awal tahun
1859 suatu ekspedisi mengunjungi Mentawai (Nederlandsche staatscourant, 14-04-1859).
Tujuan ekspedisi Mentawai ini untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin
mengenai situasi dan kondisi kepulauan dan kehidupan penduduknya. Di banyak tempat, penduduk pemalu dan cenderung tertutup
kecuali di pulau Poggi Utara. Ekspedisi ini dimulai dari Kota Padang tanggal 5
dan kembali ke Kota Padang tanggal 26 Januari 1859.
 |
| De Oostpost:, 16-07-1864 |
Tidak
lama setelah ekspedisi tersebut dilakukan, pada tahun 1864 Mentawai, bersama
yang lainnya: Banjak, Nias, Batu, Si Beroet, Si Porah, Poggi dan Nassau)
dimasukkan sebagai yurisdiksi Province Sumatra’s Westkust. Sedangkan Enggano
masuk Residentie Benkoelen (De Oostpost: letterkundig, wetenschappelijk en
commercieel nieuws- en advertentieblad, 16-07-1864). Situasi dan kondisi di kepulauan Mentawai
mulai dikumpulkan dan dilaporkan ke publik.
 |
| Lukisan Kampong di Mentawai, Rosenverg 1847 |
Kepulauan Mentawai secara resmi dikunjungi oleh
pemerintah pada pada tahun 1869. Tugas pertama tersebut dilakukan oleh HA.
Mess, Adsistent-Resident der Zuidelijke Afdeeling van Padang berdasarkan surat
keputusan Gebernur tanggal 23 Februari. Laporan kunjungan ekspedisi ini juga
disarikan oleh Mess dalam 10 artikel di bawah judul ‘Bijdrage tot de kennis der
Mentawei-eilanden’ yang dimuat Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad,
edisi 12-06-1869, edisi 26-06-1869, edisi 03-07-1869, edisi 10-07-1869 dan
edisi 02-10-1869 dan edisi-edisi seterusnya. Laporan ini merupakan laporan pertama
terlengkap tentang Mentawai.
 |
| Lukisan nelayan di Mentawai, Rosenverg 1847 |
Laporan lainnya menyusul kemudian pada Sumatra-courant:
nieuws- en advertentieblad. Artikel pertama muncul pada edisi 17-06-1876. Artikel
berikutnya muncul pada edisi-edisi berikutnya hingga sebanyak lima edisi di
bawah judul ‘De Mentawei-eilanden’. Ditulis oleh seseorang tanpa menyebut
namanya. Serial artikel ini telah memperkaya dan juga mempertajam isi serial
artikel Mess sebelumnya. Informasi berikutnya muncul pada tahun 1879 di Sumatra-courant:
nieuws- en advertentieblad di bawah judul ‘Brieven over de Mentawei-eilanden’
yang artikel pertama terbit pada edisi 06-09-1879. Serial artikel yang
berjumlah sebanyak sembilan edisi ini merupakan penulisan ulang oleh HA Mess
terhadap artikel-artikelnya yang pernah dimuat sepuluh tahun sebelumnya. Semua
laporan awal tentang kepulauan Mentawai ini sudah menggambarkan secara
keseluruhan gambaran awal tentang kepulauan Mentawai. Jika semua isi artikel
tersebut digabungkan sudah merupakan sebuah buku tersendiri tentang situasi dan
kondisi awal kepulauan Mentawai..
 |
| Zending-station Si Kopak, 1890 |
Dalam
laporan-laporan tersebut sudah
tergambar keadaan geografi kepulauan, sebaran penduduk, kontak
perdagangan dengan
orang luar dari pantai Barat Sumatra, kehidupan penduduk social ekonomi
penduduk, mata pencaharian, berladang, beternak dan menangkap ikan,
arsitektur
bangunan, lahan, ladang dan komoditi, bahan makanan dan pengolahan,
pakaian, alat
dan peralatan, kapal dan kano, pola tempat tinggal dan penggunaan rumah
besar,
kelahiran, perkawinan dan kematian; struktur masyarakat, kepemimpinan,
dukun
dan kepercayaa dan sebagainya. Penduduk kepulauan Mentawai yang sudah
lebih awal kontak dengan daratan yang beragama Islam. dalam perkembangan
lebih lanjut kegiatan misionaris juga semakin intens.
 |
Lalu lintas kano di
sungai, 1910
|
Laporan-laporan serupa ini sangat intens dilakukan oleh
berbagai pihak terhadap wilayah yang baru. Laporan itu umumnya dibuat secara public
agar diketahui oleh umum. Tidak hanya kepulauan Mentawai, bahkan Deli yang awal
pertama dikunjungi tahun 1863 ditulis oleh Residen Riaou, Netscher yang dibuat
dalam serial artikel yang dimuat di surat kabar. Laporan-laporan awal ini
menjadi sumber awal untuk tulisan-tulisan sesudahnya.
Riwayatmu Kini
 |
| Tarian tradisional Mentawai, 1906 |
Dalam
satu dasawarsa terakhir ini, kepulauan
Mentawai yang sudah menjadi kabupaten tersendiri telah banyak yang
berubah.
Namun jika dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten tetangganya di
daratan tentu
sangat kontras. Meski begitu adanya pepatah jauh di mata, dekat di hati,
mungkin masih berlaku sekarang. Masih banyak upaya-upaya yang perlu
ditingkatkan oleh pemerintah daerah Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Seperti pernah ditulis oleh HA Mess (1869) wilayah kepulauan Mentawai
berada di bawah angin, lingkungan yang tenang dan indah dan hawa yang
sehat, sesungguhnya pada masa kini dapat dikonversi menjadi wilayah
tujuan wisata yang eksotik. Kepulauan Menatawai dalam hal ini memiliki
keunggulan komparatif dibandingkan kabupaten-kabupaten tetangganya. Anai
leu sita.
*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan
sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber
primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap
penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di
artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja.
____________________
Komentar
Posting Komentar