Langsung ke konten utama

UCAPAN TERIMA KASIH JENDRAL SUDIRMAN UNTUK ACEH

 


UCAPAN TERIMA KASIH JENDRAL SUDIRMAN UNTUK ACEH

Jenderal Soedirman memimpin perang gerilya dalam keadaan sakit. Ia sangat berterima kasih mendapat kiriman 20 flacon obat suntik dari Aceh. Satu surat khusus bertulis tangannya dikirim ke Aceh.
Setelah agresi militer kedua Belanda pada 19 Desember 1948, pusat pemerintahan sekaligus ibu kota Republik Indonesia, Yogyakarta dikuasai Belanda. Panglima Besar Angkatan Perang Republik Indonesia Jenderal Soedirman meninggalkan Yogyakarta masuk ke daerah pedalaman dan mengendalikan perjuangan secara gerilya, meski dalam keadaan sakit.
Kondisi kesehatan Jenderal Soedirman selama bergerilya semakin hari semakin parah. Untuk memperoleh obat-obatan di tempat gerilya semakin sukar. Pada 22 September 1949, dari Aceh dikirim obat-obatan untuk pengobatan Jenderal Soedirman. Obat-obat itu dikirim oleh Jawatan Kesehatan Provinsi Sumatera Utara di Banda Aceh. Pengiriman obat-obatan dari Aceh itu diterima Jenderal Soedirman dua kali.
Saat itu Banda Aceh merupakan ibu kota Provinsi Sumatera Utara setelah dipindahkan dari Sibolga, sekaligus pusat pemerintahan dan ibu kota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) setelah Bukittinggi ibu kota PDRI dianggap tidak aman karena sering diserang Belanda.
Kiriman obat dari Aceh itu diterima dengan baik oleh Jenderal Soedirman di suatu tempat gerilya yang dirahasiakan. Setelah menerima kiriman obat dari Aceh tersebut, kesehatan Jenderal Soedrirman berangsur-angsur pulih, hingga ia bisa memimpin angkatan bersejata kembali.
Jenderal Soedirman kemudian menulis surat khusus sebagai ucapan terima kasih bagi rakyat Aceh yang telah mengirimnya obat-obatan. Surat tersebut ditulis sendiri dengan tangan Jenderal Soedirman setelah kondisi kesehatannya membaik.
Isi surat Jenderal Soedirman tersebut bisa dibaca dalam buku Sekali Republiken Tetap Republiken halaman 239-241. Buku ini ditulis Staf Jawatan Penerangan Tentara Nasional Indonesia (TNI) Divisi X Komandeman Sumatera, Letnan Kolonel Teuku Alibasjah Talsya, diterbitkan di Banda Aceh tahun 1990 oleh Lembaga Sejarah Aceh. Isi surat Jenderal Soedirman itu seperti kutipan di bawah ini.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu. Merdeka.
Kiriman Paduka Tuan sampai dua kali berupa obat suntik streptomycin sebanyak 20 flacon yang sangat penting, berharga dan berguna bagi kesehatan kami, telah kami terima dengan baik.
Atas kiriman obat suntik tersebut, kami melahirkan rasa syukur dan gembira beserta ucapan beribu-ribu terima kasih. Kami sangat terharu saat menerima kiriman Paduka Tuan, karena di dalam saat kami menderita kesulitan tentang dapatnya obat suntik tersebut, sekoyong-koyong datang pertolongan, mendapat kiriman obat dari Paduka Tuan.
Semoga kita bersama mendapat perlindungan Tuhan, sehingga selamatlah kita bersama dalam perjuangan yang berat, tetapi suci ini. Amin.
Dalam masa perang gerilya tesebut, Jenderal Soedirman membagi angkatan perang dalam dua komando, yakni komando Jawa dan komando Sumatera. Komando Jawa dipimpin Kolonel AH Nasution, sementara Komando Sumatera dipimpin Kolonel Hidajat.
Malah pada 22 Desember 1948, tiga hari setelah militer Belanda menguasai ibu kota Yogyakarta, Kolonel AH Nasution selaku Panglima Tentara Territorium Jawa mengumumkan Pemerintahan Militer untuk Jawa.
Komando Sumatera yang dipimpin Kolonel Hidajat yang semula berkedudukan di Bukittinggi pindah ke Banda Aceh. Sebagian besar petinggi militer Republik Indonesia juga pindah ke Aceh, karena saat itu Aceh satu-satunya daerah yang tidak pernah berhasil dimasuki militer Belanda pada agresi kedua.
( iskandar norman )

Disalin dari kiriman FB Sayuthi Aiyub

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...