Langsung ke konten utama

Diplomat Minang Dulu dan Kini


 [11:05 PM, 11/7/2020] +62 813-8458-****: Jakarta 7 Nov 2020

Jakarta 7 Nov 2020

DR. Suryadi (Leiden University Belanda)

FORUM WEBINAR PARA DIPLOMAT ASAL MINANGKABAU

Menarik sekali sebentar tadi mengikuti sharing pengalaman dan sugesti-sugesti dari para diplomat Indonesia asal Minangkabau, baik yang masih aktif sekarang maupun yang sudah pensiun. Forum yang dimoderatori oleh Prof. Dr. Fasli Jalal dan difasilitasi oleh Ketua Minang Diaspora Network Burmalis Ilyas ini juga mengungkap diplomat-dioplomat Indonesia asal Minangkabau para periode awal (pembentukan NKRI dan penduniaan negara muda yang baru bebas dari penjajahan itu), sebutlah umpamanya Mohammad Hatta, Muhammad Yamin, H. Agus Salim, Zairin Zain, Baginda Dahlan Abdoellah, Nazir Pamoentjak, dan lain lain. 

Dari forum itu terungkap pula bahwa sumbangan etnis Minangkabau terhadap dunia diplomasi Indonesia sungguh besar, bahkan tampak tak sebanding dengan jumlah populasi etnis ini yang hanya mencapai kira-kira 3% saja dari total jumlah penduduk Indonesia. Sepanjang sejarah Indonesia modern sebagai sebuah negara berdaulat, putra-putri Minangkabau telah memainkan peran penting di forum internasional untuk memajukan, menjayakan, dan mengharumkan nama REPUBLIK INDONESIA. 

Jika dihitung secara kuantitatif, mungkin jumlah putra-putri Minangkabau yang telah menyumbangkan tenaga dan pikiran mereka di jalur diplomatik untuk kejayaan Indonesia sudah ratusan jumlahnya, baik di tingkat duta (di Zaman RIS), duta besar, konsul, ataupun level di bawahnya. 

Sekarang saja, dalam perhitungan sekilas, putra-putri Minangkabau menduduki posisi duta besar dan konsul di tidak kurang dari selusin negara di dunia. Dalam forum tadi, ikut berbicara dan berbagi pengalaman mantan-mantan diplomat Indonesia asal Minangkabau (kebanyakan duta besar) dan mereka yang masih aktif (yang sedang menjabat sekarang), seperti Prof. Dr. Hasjim Djalal (mantan Dubes RI untuk Kanada, Jerman, dan PBB), His Excellency (H.E.) Wisber Loeis (mantan Dubes RI untuk Jepang dan PBB), H.E. Dr. Ibrahim Yusuf (mantan Dubes RI untuk United Arab Emirate dan Thailand), H.E. Komjen Pol Ahwil Loethan (mantan Dubes RI untuk Meksiko, Honduras, Panama dan Costa Rica), H.E. Yusra Khan (mantan Dubes RI untuk Meksiko, Belize, El-Savador dan Guatemala), H.E. Prof. Dr. Komjen Polisi Iza Fadri (Duta Besar RI untuk Myanmar), H.E. Mayerfas (Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda), H.E. Ferry Adamhar (Duta Besaar RI untuk Yunani), H.E. Al-Busyra Basnur (Duta Besar RI untuk Ethiopia, Djibouti dan Uni Afrika), dan H.E. Denny Abdi (Duta Besar RI untuk Vietnam). Ikut juga dalam urun rembuk tadi Rektor Universitas Andalas, Prof. Dr. Yuliandri.

Dalam forum tadi juga terungkap 'rahasia' kesuksesan orang Minangkabau menjadi diplomat. Cukup nyata bahwa hal itu antara lain dimungkinkan oleh beberapa nilai budaya dan prinsip hidup orang Minangkabau serta keahlian mereka dalam bersilat lidah (tongue fu) yang tersedia melalui kekayaan linguistik bahasa ibu mereka. Hanya saja, ada beberapa pergeseran yang terjadi, terutama dalam soal kekuatan mental dan kesehatan yang perlu menjadi perhatian bagi generasi Minangkabau kini yang ingin membangun karir di dunia diplomasi. Memang kalau dilihat secara umum, generasi muda Minangkabau sekarang (dan Indonesia pada umumnya) agak manja dan kurang 'tahan banting'. Ada yang pergi sekolah ke Jawa saja dari Padang diantar oleh orang tuanya, dengan sekarung bareh Solok segala. Dulu, banyak anak Minangkabau pergi ke rantau nan jauh (termasuk hamba) hanya dibekali oleh doa sang Bunda saja. Oleh sebab itu dikenal ungkapan yang sangat tersemat di setiap hati perantau Minang: "Kok lai mujua Bundo malapeh, ayam ka pulang ka pautan."

Menurut hemat saya, sudah saatnya untuk menyusun sebuah laborious work tentang DIPOLOMAT-DIMPLOMAT INDONESIA ASAL MINANGKABAU, supaya jejak sejarah dan kiprah mereka tidak lipur oleh hujan dan panas waktu, dan supaya dapat dikesan dan diketahui oleh generasi Indonesia (Minang khususnya) kini dan pada masa yang akan datang.


Disalin dari kiriman: Burnalis Ilyas
Di WAG: Milenaial Minang Dunia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...