Langsung ke konten utama

Perempuan Minangkabau awal abad 20



[caption id="" align="aligncenter" width="790"] Gambar: http://1.bp.blogspot.com[/caption]

Oleh karena itu berbangkitlah kami perempuan Hindia meusahakan diri sendiri hendak menuntut apa yang berguna dan wajib bagi kami perempuan, sebagai menjaga rumah tangga dan lain ikhtiar untuk pencari jalan penghidupan, seperti pada sebelah desa kecil yang ta’berapa jauhnya dari Fort de Kock (Koto Gadang) adalah kami mengadakan perkumpulan perempuan-perempuan saja, yakni untuk mempelajari kepandaian tangan, memegang rumah tangga, dan belajar bermacam-macam kepandaian; yang mana perkumpulan itu kami namai “Kerajinan Amai Setia” [K.A.S; Kas] ertinya peti tempat simpanan uang; karena kalau leden dari perkumpulan itu sudah pandai bekerja sebagai yang dimaksud itu, niscayalah perkumpulan itu mengeluarkan uang yang banyak ya’ni hasil penjualan kepandaian tangan yang hendak dipelajari itu bukan?


[Rohana. Gerakan Perempuan Hindia. Saudara Hindia 1.7, 1913, h.101]



Lain masa lain pula jiwanya, demikianlah kiranya nan dapat kita ambil hikmah dari tulisan Rangkayo Rohana Kudus pada koran Gerakan Perempuan Hindia pada tahun 1913. Rangkayo Rohana Kudus adalah salah satu dari tiga orang tokoh kaum perempuan di Minangkabau, dua yang lain ialah Rangkayo Rasuna Said dan Encik Rahmah el Hunusiyah.


Sangat menarik memperhatikan bahan ajar utama para perempuan di sekolah-sekolah yang didirikan untuk kaum perempuan pada masa itu dimana yang mereka ajarkan dan pelajari ialah berbagai kepandaian yang berguna bagi kaum perempuan dalam membina rumah tangga dikemudian hari. Sebut saja menjahit, menyulam, dan menenun dimana pada masa sekarang sangat payah menemukan perempuan dengan kepandaian yang serupa itu.


Perkumpulan atau perserikatan yang didirikan kaum perempuan ialah untuk menyokong cita-cita mereka itu. Mereka tidak hendak diperlakukan sama dengan kaum lelaki namun hendak diberi kemerdekaan untuk bergerak  dan tumbuh sesuai dengan fitrah mereka kaum perempuan.


Kaum feminis pada masa sekarang acap menyalah gunakan cita-cita dan perjuangan Kaum Perempuan Minangkabau masa dahulu, pada hal tak ada niat bagi mereka untuk durhaka kepada bangsa dan agama. Kesetaraan ialah sebuah keniscaya yang dipaksakan oleh kaum munafiq di negeri ini.


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...