Langsung ke konten utama

Rumah Gadang

[caption id="" align="aligncenter" width="605"] Gambar: http://3.bp.blogspot.com[/caption]

Di Hari Rayo Anam ini perkenankan kami membawa tuan pesiar ke masa silam. Berikut ini kami lampirkan pandangan seorang pejabat pada Departemen Pertanian Amerika Serikat yang bernama David G. Fairchild dimana ia diundang untuk menjelajahi Dataran Tinggi Minangkabau pada abad ke-19. Berikut kutipannya:




Interior rumah-rumah ini bukan tanpa kenyamanan-kenyamanan moderen dalam hal ranjang yang nyaman, dengan bantal dan kanopi, yang bagus diantaranya sering kali dihias dengan ornamen-ornamen gantung yang menarik dan mencolok yang seluruhnya terbuat dari  inti batang semacam tanaman tropis. Rumah-rumah ini lebih nyaman dari pada rumah-rumah ras-ras lain di Hindia Timur Belanda, dan tampak mewah bila dibandingkan dengan gubuk-gubuk kumuh orang Maori atau rumah-rumah berlantai kerikil orang Samoa.[1]



Demikian pandangan seorang bule yang menganggap bahwa orang pribumi (Minangkabau) pastilah ras yang kaya. Kemudian dapat pula kita lihat pandangan seorang perempuan yang juga berasal dari Amerika tatkala mengunjungi Minangkabau pada tahun 1914, begini tulisnya tentang bagian dalam sebuah Rumah Gadang:




Di bagian belakang dan ujung-ujungnya ada kamar-kamar tidur, sebuah rumah kadang-kadang berisi sampai 15 kamar. Pada keluarga-keluarga kaya kamar-kamar ini diisi dengan ranjang dan kasur, ditutupi seprai menggantung dengan pinggiran bersulam, yang tampak di dalam setiap rumah Belanda di Hindia Timur. Meja, kursi, lampu gantung, jam, gambar berpigura, mesin jahit, dan grafofom (untuk memutar rekaman slinder berlilin) sering terdapat,[2]



Tampaknya Carrie (entah nona atau nyonya) memasuki rumah-rumah milik keluarga berada karena meja, kursi, jam, gambar berpigura, dan grafofom tidak jamak dimiliki oleh keluarga-keluarga di Minangkabau pada masa itu. Barang-barang tersebut termasuk kepada barang mewah yang dimiliki hanya keluarga dengan penghasilan tertentu saja.


Namun yang pasti, sudah sedari dahulu orang-orang kulit putih kagum dengan salah satu produk kebudayaan nenek moyang kita itu. Kini jumlah Rumah Gadang sudah semakin menipis. Ada yang tak hendak membangun rumah gadang, ada yang hendak tapi tak punya uang karena ongkos upah tukang untuk membuat gonjong sangatlah mahalnya, dan lain-lain sebab.


Dan Rumah Gadang inilah salah satunya nan memanggil-manggil perantau untuk pulang ke kampung halaman. Walau telah rubuh, tiada lagi karena digantikan dengan rumah baru namun setiap anak Minangkabau telah membangun gambaran Rumah Gadang tersebut di hatinya, dilekatkan kepada rumah-rumah baru sebagai penggantinya.


Semoga selamat kembali ke rantau nan bertuah, esok pulang lagi dengan sejuta cerita..

_________________


Catatan Kaki:


[1] David G.Fairchild. Sumatera's West Coast. National Geographic Megazine 9. No.11 (1898); 453-454


[2]. Carrie Chapman Catt, A Survival of Matriarchy. Harper's Magazine (April 1914): 741


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...