DARI TIMBANGAN TUAN ADLI
Melihat Kenyataan, Memahami Puncak Sengketa. | Disalin dari WA Grup

Perkara ucapan kotor serta caci-maki yang belakangan ini amat ramai disiarkan melalui perkakas kabar-umum di tanah Sumatera Barat, memusatkan perhatian banyak orang. Walau demikian, kita tiada perlu merasa takut yang amat sangat, seolah-olah perkara ini akan merusak adat istiadat alam Minangkabau. Perkara yang sedemikian lebih patut dipandang sebagai bahagian dari perputaran uang perniagaan baru di dalam dunia alat-alat cetakan pikiran sekaum (ekonomi digital).[1]

Perkakas kabar-umum itu mempunyai masa-masa kemasyhurannya sendiri. Sesuatu yang ganjil, yang membangunkan polemik (kontroversi), serta yang menggerakkan hati orang banyak, tentu dengan cepat dapat menarik perhatian kahalayak. Banyaknya orang yang menengok, orang yang memberi ucapan (komentar), serta perhubungan timbal-balik, lalu menjadi jalannya kemasyhurannya, bahkan dapat pula mendatangkan untung uang yang tiada sedikit.

Akan tetapi, kemasyhurannya itu tiada selamanya susuatu berguna atau elok budinya. Kabar-siaran yang hanya bersandar pada caci-maki, perbantahan, dan usaha memancing amarah, tentu mempunyai batasannya. Manakala rasa tertarik orang banyak mulai kurang, niscaya perhatian khalayak akan berpindah pula pada perkara yang lain.

Di sinilah kita perlu memisahkan antara kabar-siaran yang hanya ramai sekejap mata, dengan karangan yang mempunyai guna untuk selamanya. Kabar-siaran yang didirikan di atas pengetahuan, kepandaian mengarang, jenaka yang cerdik, serta pikiran yang halus, biasanya mempunyai tempat yang lebih luas untuk maju. Hal itu disebabkan ia memberi sesuatu yang dapat terus dinikmati serta dijadikan pengajaran.

Adapun alam Minangkabau itu sendiri mempunyai kekayaan adat, lubuk pikiran, jenaka yang halus, serta kepandaian bertutur kata. Kita mempunyai kato nan ampek, pepatah-petitih, sindiran yang halus, serta adat bercakap-cakap yang jauh lebih kaya daripada hanya sekadar berbalas-balasan caci-maki.

Oleh karena itu, tiada perlu kita terlalu sibuk membalas (menghakimi) atau memberi tempat yang lebih luas (panggung) bagi perkara yang sedemikian. Khalayak umum hanya perlu memelihara selera kepada kabar-siaran yang lebih berguna. Para pengarang pun mempunyai banyak jalan untuk membuat karangan yang menghibur hati, seiring dengan memberi guna yang baik.

Kabar ucapan kotor itu boleh jadi ramai pada hari ini, tetapi belum tentu ia akan kekal pada hari esok. Sebab, perhatian orang banyak memang dapat dibeli dengan perbantahan, tatkala keberlanjutannya hanya dapat didirikan di atas keelokan tabiat dan maknanya.

Pada kesudahannya, biarkanlah perputaran perkakas kabar-umum itu berjalan menurut kodratnya. Yang perlu kita bangun bersama ialah lingkungan karang-mengarang yang lebih mendatangkan hasil, mempunyai watak yang teguh, serta memberi guna untuk orang banyak.

===============

Catatan kaki oleh Admin:

[1] Selain dari fenomena mencari sensasi di ranah digital, mendapatkan penghasilan dari konten viral yang dibuat, dan lain sebagainya. Namun para ahli ilmu Sosial pasti faham bahwa kejadian sebenarnya tak serupa dengan riak yang diperlihatkan. Ada semacam eksperimen sosial guna mengukur tingkat kepedulian, keberanian, dan kesadaran orang Minangkabau akan nilai-nilai adat dan syari'at yang mereka gadang-gadangkan. Disatu sisi memanglah benar bahwa segala sesuatu yang viral ini seiring dengan berjalannya waktu akan meredup dan kemudian hilang. Sudah banyak contohnya, namun perkara ini bukan sekadar muncul dan hilang, karena ini menyangkut manipulasi perilaku orang banyak guna menukar nilai-nilai lama dengan nilai baru. Terkait konten carut ini, dahulu juga pernah mengemuka dan mendapatkan perlawanan dari sesama konten kreator dan pengguna media sosial.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar