FB The Patriot Studio | Bilamana tuan-tuan beroleh sahabat dari negeri Johor, tentulah ada di antaranya yang mengalirkan darah Jawa. Apabila kita berkunjung ke Johor, di tempat-tempat yang bernama “Parit”, seperti Parit Raja dan Batu Pahat, sudah pasti di situ berdiam banyak orang Jawa. Hal ini menerbitkan pertanyaan: mengapakah di Johor banyak sekali orang Jawa?
Perkara ini bersebab dari haluan kemajuan yang ditempuh Sultan Abu Bakar pada abad kesembilan belas. Selaku seorang raja yang berpandangan jauh, baginda berikhtiar menjadikan Negeri Johor sebuah negeri yang maju lagi berdaulat, sekaligus menangkis daya upaya Inggris hendak menguasai Johor. Maka baginda mengikat perhubungan persahabatan dengan Inggris, dengan Kesultanan Turki Usmani, serta bermacam negeri lainnya. Pada waktu yang sama, baginda hendak pula mengangkat kemakmuran Johor melalui berbagai rencana perekonomian. Akan tetapi, ada satu kesulitan: penduduk Johor tidaklah banyak untuk mengerjakan tanah Johor yang luas itu.
Untuk mengatasi kesulitan tersebut, Sultan Abu Bakar menganjurkan kedatangan tenaga kerja dari luar negeri, melanjutkan haluan ayahanda baginda, Temenggung Daeng Ibrahim. Anjuran ini menarik datangnya pendatang bangsa Cina (melalui Sistem Kangcu) serta kaum dari Kepulauan Melayu, terutama Jawa dan Bugis. Namun mengapakah orang Jawa hendak berdatangan ke Johor?
Pada masa itu di Tanah Jawa, pemerintah jajahan Belanda memungut pajak yang amat berat dan memaksakan aturan tanam paksa. Tatkala Johor menawarkan tanah untuk dibuka dengan syarat yang jauh lebih adil, banyaklah orang Jawa yang menyambut kesempatan itu. Lagi pula, orang Jawa termasyhur sebagai ahli bercocok tanam yang tekun. Merekalah yang menggali parit-parit (terusan pengairan) untuk kebun kelapa dan getah. Itulah sebabnya Johor mempunyai banyak kampung yang bernama “Parit”, dan di dalamnya bermukim banyak penduduk Jawa Johor.
Di samping itu, perpindahan ini bertambah ramai berkat Syarikat Alsagoff kepunyaan keluarga Syed Mohamed Alsagoff, yang beroleh hak pengusahaan tanah di Kukup, Pontian. Mereka mengurus jemaah haji dari Alam Melayu; jemaah Jawa yang singgah atau memerlukan pekerjaan akan bekerja di ladang-ladang itu, sebelum akhirnya menetap selama-lamanya di Johor. Perpindahan ini terjadi pula secara berombongan di bawah pimpinan tokoh agama atau Kiai. Para Kiai ini membawa kelompok penduduk dari Jawa untuk membuka kampung baru di Batu Pahat, Muar, Pontian, dan Kluang.
Akibatnya pada masa kini, keturunan Jawa telah menjadi bagian dari jati diri orang Melayu Johor. Bahkan, kebudayaan Jawa di Johor telah demikian melebur dengan kebudayaan Melayu, sehingga sekarang hampir sukar bagi kita membedakan apakah seseorang itu Jawa atau Melayu di Johor. Penganan seperti nasi ambeng dan sambal goreng pun telah menyatu dengan selera orang Johor.
Akan tetapi, ini barulah sebagian dari lipatan sejarah tentang bagaimana bangsa luar dapat melebur menjadi Melayu di Johor. Kita belum lagi menuturkan kisah orang Bugis, yang akhirnya bukan saja menjadi Melayu, malahan menjadi bangsawan dan Sultan bagi orang Melayu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar