Pernahkah Anda tahu siapa orang yang berdiri di samping Atatürk?

Dialah Atatürk yang sesungguhnya... atau "Bapak Bangsa Turki" yang sebenarnya.

FB Turkinesia | Dialah arsitek di balik seluruh pemikiran Mustafa Kemal Atatürk: mulai dari perang terhadap jilbab, pembubaran Khilafah, pelarangan topi fez, penghapusan aksara Arab, hingga perlawanan terhadap syariat. Dialah perancang sejati di balik Republik Turki yang sekuler. Tokoh pemikir tersebut adalah Moiz Cohen, seorang intelektual berdarah Yahu---di.

Sekilas, Anda mungkin mengira bahwa Mustafa Kemal Atatürk adalah seorang pemikir besar, seorang filsuf ideologis, atau bahkan seorang genius linguistik yang menciptakan bahasa Turki modern dan merumuskan tata bahasanya. Anda mungkin juga mengira dialah satu-satunya sosok yang merancang strategi matang untuk memberantas Islam di Turki serta memimpin pe*rang pemikiran secara terorganisir demi menghapus identitas Utsmaniyah.

Namun, ketika topeng-topeng itu dilepas dan tirai penutup dibuka, kenyataannya memperlihatkan sosok yang berbeda.

Mustafa Kemal bukanlah seorang pemikir, filsuf, ataupun perumus teori. Ia hanyalah seorang perwira militer medioker di tubuh organisasi Ittihad ve Terakki (Komite Persatuan dan Kemajuan) yang dibentuk di bawah pengawasan intelijen Inggris. Ia tidak memiliki kedalaman konseptual ataupun ketajaman pemikiran ideologis. Ia lebih pantas disebut sebagai instrumen ketimbang otak utamanya, hasil cetakan dari lingkungan intelektual berhaluan Y---diah-Masonik yang tumbuh di kota Salonica, tempat di mana ia dibentuk dan dicekoki berbagai gagasan tersebut.

Di balik layar itu, berdiri sosok lain yang jarang disebut orang kecuali sekadar catatan kaki, padahal ia adalah otak intelektual sekaligus perancang proyek besar transformasi Turki: Moiz Cohen.

Lantas, siapakah Moiz Cohen?

Lahir pada tahun 1883 di kota Salonica di bawah kekuasaan Utsmaniyah, dari sebuah keluarga Y---di Sefardim. Sejak usia muda, ia aktif bergabung dalam perkumpulan pemikiran dan politik yang didirikan oleh kelompok Dönmeh—mereka yang berpura-pura masuk Islam setelah kejatuhan Sabbatai Zevi, namun tetap mempertahankan akar Y---di mereka secara sembunyi-sembunyi.

Cohen sangat terobsesi dengan gagasan membangun ideologi baru untuk menggantikan "ikatan Islam" yang selama jutaan tahun menyatukan masyarakat Utsmaniyah dari kalangan Arab, Turki, hingga Balkan. Ia berpandangan bahwa agama adalah penghalang terbesar dalam "memodernisasi" Turki sesuai acuan Barat. Dari sinilah ia mulai merumuskan identitas baru bernama: Nasionalisme Turanisme, yang kemudian ia sempurnakan ke dalam bentuk yang lebih matang dan dikenal kelak sebagai paham Kemalisme.

Dari "Cohen" Menjadi "Tekinalp"

Seiring naiknya Mustafa Kemal ke tampuk kekuasaan pasca runtuhnya Kesultanan Utsmaniyah, Cohen melihat peluang emas di depan mata. Ia mengubah namanya menjadi Munis Tekinalp guna menyembunyikan akar Y---diyahnya sekaligus melebur sepenuhnya ke dalam identitas Turki yang ia kampanyekan. Ia bertransformasi menjadi salah satu penulis dan pemikir paling berpengaruh di republik baru tersebut, menelurkan berbagai karya yang dampaknya ibarat senjata di tangan Atatürk.

Buku paling fenomenal karyanya adalah "Türkleştirme" (Penuansaan Turki/Turkifikasi) yang terbit pada tahun 1928. Dalam buku itu, ia secara tegas menyerukan beberapa hal berikut:

• Penghapusan seluruh bahasa selain bahasa Turki.

• Peleburan suku Armenia, Yunani, Arab, dan Kurdi ke dalam satu wadah "Bangsa Turki".

• Pemberlakuan sekularisme secara total untuk menyingkirkan Islam dari ruang negara dan masyarakat.


Hubungan dengan Atatürk: Atatürk bukanlah perumus teorinya, melainkan sang eksekutor.

Cohen/Tekinalp adalah akalnya yang menulis, sedangkan Atatürk adalah tangannya yang mengeksekusi.
Cohen merumuskan garis-garis besar pemikiran, lalu Atatürk menerjemahkannya ke dalam bentuk undang-undang, konstitusi, dan dekret, yang kemudian seluruhnya diklaim atas nama Atatürk.

Perubahan aksara yang dinisbatkan kepada Atatürk—seperti mengganti huruf Arab dengan alfabet Latin—pada dasarnya adalah bagian dari cetak biru pemikiran Tekinalp.

Sementara itu, permusuhan radikal terhadap Islam di ruang publik bukanlah produk dari mentalitas militer yang kaku, melainkan buah dari pemikiran seorang tokoh Y---di asal Salonica yang meyakini bahwa "Nasionalisme Turanisme" adalah satu-satunya pengganti bagi identitas universal Islam.

Singkatnya, Atatürk bukanlah seorang filsuf atau konseptor ulung, melainkan pemimpin militer yang memegang palu pemukulnya. Sementara otak yang membentuk paku-paku yang ditancapkan ke peti mati Kekaisaran Utsmaniyah dan Islam di Turki adalah Moiz Cohen (Munis Tekinalp).

Di balik setiap tiran yang berkuasa, selalu ada pihak musuh bangsa yang mendesainnya.

Musuh-musuh bangsa tidaklah sebodoh itu untuk tampil dengan wajah asli mereka guna memimpin kita secara langsung; sebaliknya, mereka memasang para penguasa boneka buatan tangan mereka sendiri untuk menjalankan agenda mereka. Jika Anda mencermati setiap penguasa tiran yang pernah atau sedang memegang kendali atas umat ini—tanpa terkecuali—Anda pasti akan menemukan sosok serupa Moiz Cohen di balik layar yang mengendalikan permainan.

Referensi: Jacob M. Landau, Pan-Turkism: From Irredentism to Cooperation, Indiana University Press, 1995.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar