Langsung ke konten utama

Daftar 14 Negara Menentang Resolusi PBB Jeda Kemanusiaan di Gaza, Ada Tetangga Indonesia

 


NEW YORK, iNews.id - Majelis Umum PBB, Jumat (27/10/2023), mengesahkan resolusi menyerukan gencatan senjata untuk jeda kemanusiaan di Gaza. Resolusi juga mendesak akses bantuan ke Jalur Gaza serta perlindungan terhadap warga sipil. 

Sebanyak 121 negara mendukung resolusi tersebut melawan 14 yang menolak. Sementara 44 negara lainnya abstain. Awalnya ada 120 negara yang mendukung dan 45 abstain, namun Irak mengubah sikap di bagian akhir pemungutan suara karena permasalahan teknis pada perangkat. Dengan demikian posisi akhir berubah menjadi 121 mendukung, 44 abstain, serta 14 menolak.

Resolusi Majelis Umum PBB disahkan setelah Dewan Keamanan PBB gagal mengesahkan empat resolusi sejak perang Hamas-Israel pecah pada 7 Oktober lalu akibat penggunaan hak veto anggota-anggota tetap. Di antara 14 negara yang menentang resolusi jeda kemanusiaan adalah Israel dan Amerika Serikat. Ada pula negara tetangga Indonesia yakni Papua Nugini. Selebihnya adalah Austria, Kroasia, Czechia (Ceko), Fiji, Guatemala, Hongaria, Kepulauan Marshall, Mikronesia, Nauru, Paraguay, dan Tonga.

Secara spesifik, resolusi menyerukan gencatan senjata untuk kemanusiaan segera, bertahan lama, serta berkelanjutan, antara militer Israel dan kelompok Hamas di Gaza. Resolusi juga mendesak pasokan peralatan penyelamat nyawa yang berkelanjutan, cukup, dan tanpa hambatan, kepada orang-orang yang terjebak di Gaza.

Selain itu, resolusi juga mengutuk semua kekerasan terhadap warga sipil Palestina dan Israel serta pembebasan segera dan tanpa syarat terhadap semua warga sipil yang ditawan. Resolusi tersebut tidak secara spesifik mengutuk serangan ke Israel pada 7 Oktober atau menyebut nama Hamas maupun Israel sama sekali. Sebenarnya ada beberapa usulan perubahan atau penambahan yang meminta agar Israel dan Hamas disebutkan dalam resolusi tersebut, namun tidak mendapatkan dukungan yang cukup.

Editor : Anton Suhartono

Pict: IG @Hamza Tamimy


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...