Langsung ke konten utama

Kenapa Terbalik



Oleh: Buya Gusrizal Gazahar Dt. Palimo Basa
(Ketua MUI Sumbar)

Pengalaman berkecimpung dalam dua komunitas 

FB Buya GUsrizal Gazahar - Yang pertama diisi oleh orang-orang yang bertabur gelar, mulai dari gelar kesarjanaan sampai gelar keulamaan. Anehnya, yang didapati adalah perseteruan dalam perebutan jabatan dan kekuasaan. Ganjal-mengganjal dan tungkai-menungkai seperti suatu pertunjukan kecerdasan dan kecerdikan.

Yang kedia diisi oleh orang-orang yang tak peduli dengan gelar dan himbauan. Menakjubkan, mereka sibuk berlomba berkarya untuk umat dan tak peduli dengan pangkat dan kekuasaan. Bahkan ketika ada yang menawarkan bangunan siap jadi (terima kunci sahaja) kepada saya. Orang-orang itu berkata "Biarlah kita bangun bersama walaupun dengan sedikit demi sedikit kelebihan rezki dari Allah S.W.T, agar semua kami bisa membantu dakwah buya dan kami juga meresa memilikinya bersama"

Dua pengalaman nyata itu terkadang menggoda nalar saya untuk menarik kesimpulan "Apakah ketinggian ilmu membuat orang menjadi rakus dan tamak dengan jabatan?"

Tentu saya tak berani menyimpulkan secepat itu karena saya juga melihat dengan mata kepala sendiri, seorang al Syaikh Shagr (Ketua Lajnah Fatwa Al Azhar) berdesakan naik kendaraan umum dan berdiri di tengah desakan penumpang bus sambil mengapit map lusuh dari bahan kertas kasar. Ketika ditawarkan duduk oleh mahasiswa malah beliau berkata "Biarlah saya berdiri karena semenjak tadi saya sudah penat duduk"

Namun sampai saat ini, pertanyaan "Kenapa ketinggian ilmu tidak seiring dengan kedalam pemahaman bahwa yang diperebutkan di dunia ini hanyalah 'aradhun zail" (sesuatu yang tiba dan pergi begitu sahaja) dan tak ada yang kekal?" tetap sahaja menggelayut dalam deretan pertanyaan yang belum terjawab.

Entahlah.. itulah jawaban sementara yang tak pernah memuaskan.

Namun di malam ini, saya membaca suatu ungkapan lama yang mungkin bisa menjadi jawaban pertanyaan itu, yakni:

Mereka semua (kedua komunitas itu) telah belajar walaupun di tempat yang berlainan. Keduanya mungkin sama sukses menimba ilmu tapi mereka tidak sama berhasil dalam melalui ujian.

Sehingga benarlah apa yang dikatakan ungkapan itu "Dihari ujian, seseorang bisa dimuliakan atau menjadi terhina"

Dan ternyata Allah S.W.T juga melakukan ujian itu untuk membuktikan kebenaran yang telah diperoleh selama ini agar mereka benar-benar sampai kepada hakikat ilmu tersebut.

Bila tidak hati-hati, tidak sedikit orang yang mengaku berilmu ternyata hanyalah pemilik kebodohan yang berbalut gaya seorang ilmuan. Perhatikanlah isyarat ayat ini;

فَاِذَا مَسَّ الْاِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَانَاۖ ثُمَّ اِذَا خَوَّلْنٰهُ نِعْمَةً مِّنَّاۙ قَالَ اِنَّمَآ اُوْتِيْتُهٗ عَلٰى عِلْمٍ ۗبَلْ هِيَ فِتْنَةٌ وَّلٰكِنَّ اَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ

Artinya: 

Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata "Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku". Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui"

(Al Qur'an, Surat Al Zumar (39) Ayat. 49)

Wallahu'alam






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...