Langsung ke konten utama

PEMEKARAN SUKU KOTO PILIANG

 

Pict: integritas mediaintegritas media


Ciloteh Tanpa Suara #29 – “Apakah benar Koto Piliang itu adalah sebuah suku ?” tanya Junaidi. Kemudian saya jawab “ untuk menjawab pertanyaan ini Junaidi harus mengetahui dulu perbedaan “Koto Pilang” sebagai kelarasan dengan “Koto Piliang” sebagai suku.

Koto Piliang Sebagai Kelarasan

Minangkabau dari dulu hingga sekarang mempercayai bahwa ada dua tokoh yang menjadi pendiri dari dua kekuasaan di Minangkabau. Beliau adalah Datuk Ketumanggungan yang mencetuskan Keselarasan Koto Piliang dan Datuk Perpatih Nan Sabatang yang mencetuskan Keselarasan Bodi Caniago. Koto Piliang merupakan sebuah keselarasan yang dicetuskan oleh Datuk Ketumanggungan yang merupakan keturunan langsung dari Sultan Sri Maharajo Dirajo. Datuk Katumanggungan dan Datuk Parpatih Nan Sabatang adalah dua bersaudara satu ibu berlainan ayah. Ayah Datuk Katumanggungan adalau suami pertama ibunya (Indo Jati) yang berasal dari keturunan raja, Landasan pandangan dari Koto Piliang adalah bapucuak bulek, manitiak dari langik, batanggo turun (berpucuk bulat, menitik dari langit bertangga turun). Keselarasan Koto Piliang bersifat otokratis dalam pemerintahan, dimana keputusan berada dipenghulu tertinggi.
Sedangkan Bodi Caniago dicetuskan oleh Datuk Perpatih Nan Sabatang. Datuk Perpatih Nan Sabatang merupakan adik dari Datuk Ketumanggungan. Datuk Perpatih Nan Sabatang merupakan anak dari Cati Bilang Pandai seorang kepercayaan dari Sultan Sri Maharajo Dirajo. Keselarasan Bodi Caniago terlihat sangat menghormati sistem demokrasi dengan mengedepankan musyawarah. Sejak adanya Keselarasan Koto Piliang dan Bodi Caniago sistem kekerabatan masyarakat Minangkabau berbentuk matrilineal. Koto Piliang dan Bodi Caniago itu adalah dua Kekuasaan Pemerintahan Pada Abad ke 12 di Minangkabau.
Koto Piliang sebagai Suku.
Setelah nenek moyang membuat taratak, dusun, koto. Penduduk semakin banyak maka nenek moyang ingin hidup berdekatan dengan dibangunnya sebuah kampung, agar menghindari binatang buas, perampokan, perkelahian dan pembakaran antar kelompok maka kemudian dibentuklah suku. Suku dibuat berdasarkan kelompok sebuah paruik, jurai, samandeh dan kemudian sekaum dan sepayung yang dipimpin oleh seorang lelaki saudara dari perempuan tertua yang dipanggil Datuak. Kemudian, dengan masuknya pengaruh Islam maka dibangunlah Nagari, dan disetiap Nagari harus minimal mempunyai empat kelompok Suku :
Rang gadih mangarek kuku,
Dikarek jo pisau sirauik,
Takarek dibatuang tuo.

Batuang tuo elok ka lantai.
Nagari ba kaampek suku,
Bahindu babuah paruik,
Kampuang dibari banantuo,
Rumah dibari batungganai.
Orang Minangkabau meyakini suku Koto dan Piliang merupakan [suku] klan induk dalam suku Minangkabau. Dan kemudian dari suku Koto ini mengalami pemekaran, seperti yang dialami oleh Nagari Pandai Sikek, kampung halaman saya, yang mulanya hanya ada empat suku (Koto, Guci, Sikumbang dan Pisang). Kemudian dalam perkembangan populasi penduduk, maka suku Koto dipecah menjadi empat suku.

Baik, mari kita lihat pemekaran suku Koto yang saya catat sampai saat ini yang tersebar dibeberapa nagari:

• Koto Padang Laweh, Batang Palupuah, Muaro, Gaduik, Mudiak Palupuah di Kabupaten Agam
• Koto Sungai Guruah di Pandai Sikek, Tanah Datar
• Koto di Gantiang Pandai Sikek, Tanah Datar
• Koto Tibalai di Pandai Sikek, Tanah Datar
• Koto Limo Paruik di Pandai Sikek, Tanah Datar
• Koto Piliang di Sungai Patai, Tanah Datar, Nagari Kacang, Solok, dan Lubuak Jambi, Kuantan Mudiak, Riau)
• Koto Rumah Tinggi di Kamang Hilir, Agam
• Koto Rumah Gadang di Kamang Hilir,Agam
• Koto Sariak di Kamang Hilir,Agam
• Koto Kepoh di Kamang Hilir,Agam
• Koto Tibarau di Kamang Hilir,Agam
• Koto Tan Kamang di Kamang Hilir,Agam
• Koto Tuo di Paranap, Inderagiri Hulu
• Koto Baru di Paranap, Inderagiri Hulu
• Koto Kaciak Ampek Paruik di Solok Selatan
• Koto Tigo Ibu di Solok Selatan
• Koto Diateh di Nagari Magek
• Koto Kakampuang di Nagari Magek
• Koto Kerampil di Nagari Magek
• Koto Sipanjang
• Koto Dalimo
• Koto Kaciak
Dan banyak lagi pemekaran dan penamaan dari suku-suku Koto di Nagari lainnya.
Pemekaran Suku Piliang
• Pili di Talang, Sungai Pua, Agam
• Piliang di Padang Laweh, Batang Palupuah, Gaduik, Magek Kabupaten Agam dan di Lima Puluh Kota nagari Sei Balantiak, Koto Alam, Manggilang, Gunung Malintang, Lubuak Alai, Muaro Peti, Koto Lamo, Koto Bangun, Durian Tinggi, Sialang, Gelugur Di Kabupaten Tanah Datar Nagari Tanjung, Tapi Selo, Simawang, Tigo Koto, Tanjuang Bonai, Sungayang, Tabek Patah,Andaleh Baruah Bukik, Tigo Jangko, Taluak, Balimbiang, Minangkabau, Situmbuak, Barulak,
• Piliang Guci di Koto Gadang, Agam
• Piliang Batu Karang di Singkarak, Solok
• Piliang Guguak di Singkarak, Solok
• Piliang Atas di Kuantan Singingi
• Piliang Bawah di Kuantan Singingi
• Piliang Laweh di Taram, Tanjuang Alam, Kuantan Singingi
• Piliang Sawah di Tanjuang Alam
• Piliang Sani di Tanjuang Alam, Koto Bangun - Kapur Sambilan, Kuantan Singingi
• Piliang Bongsu di Koto Bangun - Kapur Sambilan,
• Piliang Baruah di Tapi Selo
• Piliang Koto di Tapi Selo
• Piliang Patar di Tapi Selo
• Piliang Dalam di Tapi Selo
• Piliang Godang di Taram
• Piliang Sati di Sumaniak
• Piliang Lawas di Sumaniak
• Piliang Cocah
• Piliang Koto Kaciak
• Piliang Kaciak

Dan banyak lagi pemekaran dan penamaan dari suku-suku Piliang di Nagari lainnya.
Khusus di Luhak Lima Puluah Koto, Suku Koto Piliang sering disebut dengan orang nan Sembilan, dengan beberapa suku yang bergabung yang disebut juga Sudut Nan Sambilan: Koto, Piliang, Tanjuang, Payobada, Pagacancang, Sikumbang, Sipisang, Simabua, dan Guci.

Saiful Guci Dt. Rajo Sampono, Pulutan 8 Juni 2024

===============


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...