Langsung ke konten utama

Hikmah Musibah Sumbar 2024

 

Picture: antara

“Sesungguhnya pahala besar itu sebanding dengan ujian yang berat. Apabila Allah Ta’ala mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian kepada mereka. Siapa yang ridha terhadapnya maka dia akan mendapatkan ridha Allah SWT. Dan sebaliknya barang siapa yang tidak suka, maka Allah Ta’ala pun akan murka”. (HR Ibn Majah)

Silih berganti musibah menghampiri Ranah Minang, Gunuang Marapi meletus mengeluarkan abu yang tak tanggung banyaknya. Kemudian diikuti dengan galodo[1] beberapa bulan selepasnya, membawa turun apa-apa yang telah dimuntahkan oleh gunung bertuah itu. Banjirpun terjadi pula di beberapa wilayah di ranah ini, merendam pemukiman, menghanyutkan tak hanya orang melainkan juga rumah.

Kejadian terakhir ini (4/5/24) yakni galodo yang menimpa Lembah Anai dan beberapa wilayah di Tanah Data, Agam, Limo Puluah Koto, dan daerah pesisir barat. Salah seorang yang tinggal di Luhak Lima Puluah Koto mengatkan di akun medsos miliknya "Belum pernah selama ini rumah kami tergenang air, namun kini terjadi ia. Bagaimana ditempat tuan? adakah baik-baik sahaja?"

Demikianlah ujian yang silih berganti menjambangi Ranah Minang, namun belum seberapa dengan ujian yang diberikan oleh Allah Ta'ala kepada saudara-saudara kita di Palestina. Namun ujian itu didatangkan Allah dengan berbagai macam rupa, ada yang berasal dari alam dan ada pula yang berasal dari manusia. 

Kami cukup terkejut tatkala mendapati sebuah posting di akun TokTok, dimana pada postingan itu Tukang Posting mencaci maki orang Minangkabau karena tidak memilih orang yang Dimenangkan pada Pemilihan Raya kali ini. Sebaliknya, orang itu kini memberikan bantuan kepada Ranah Minang. Sebagian lagi berpandangan bahwa ini merupakan hukuman atau kualat kata orang Pulau Seberang, karena selalu menentang, melawan, dan tak pernah memilih calon yang telah ditentukan.

Tak mengherankan memang karena kami sudah menduga akan ada orang-orang fasik, munafik, dungu, dan hasad yang akan mengeluarkan pendapat jahat seperti itu. Mungkin lupa dengan segala pengajaran yang telah didapat semasa kanak-kanak di Surau. Kalau kami tiada salah ingat, makna dari musibah atau ujian yang ditimpakan Allah Ta'ala kepada kita ialah: 

  1. Sebagai wujud kasih sayang Allah Ta'ala kepada umatnya (cobaan) bagi yang Beriman. Ujian yang ditimpakan kepada kita merupakan salah satu jalan yang diberikanNya untuk mendapatkan ridha dari Nya. Semakin tinggi kasih sayang Allah maka semakin tinggi pula ujiannya.
  2. Peringatan bagi orang lupa, karena manusia itu makhluk pelupa, khilaf, dan suka melampaui batas maka Allah turunkan ujian untuk mengingatkannya kembali ke jalan Nya, Syari'at Allah.
  3. Sebagai penggur dosa, bersesuain dengan hadist Rasulullah S.A.W: Tiada sebuah musibahpun yang ditimpakan kepada seorang muslim melainkan dengannya Allah akan menghapus kesalah-kesalahannya.
  4. Tanda Kekuasaan Allah, pada masa sekarang banyak orang-orang yang merasa berkuasa, berharta, dan dapat menentukan arah jalannya kehidupan orang lain berubah menjadi Fir'aun. Lupa kalau ia hanyalah seorang hamba, sama dengan si miskin papa itu.
  5. Sebagi Azab bagi yang engkar, Syaikh Abdul Qadir Jailani berkata: Tanda musibah merupakan azab dan pembalasan adalah ketidak sabaran seseorang saat menghadapinya, bahkan hingga larut dalam kesedihan dan mengeluh kepada orang lain. Tanda musibah sebagai penghapus dosa dan kesalahan ialah rasa sabar tanpa mengeluh, tidak gelisah dan bersedih serta tetap ringan dalam menjalankan keta'atan. Pertanda musibah sebagai pengangkat derajat adalah merasa ridha, jiwanya tetap tenang serta tunduk terhadap takdir hingga musibah tersebut sirna (At-Tabaqatul Kubra as Syakrani Hal.193)

Oleh karena itu, orang Minangkabau usah berkecil hati dengan segala caci maki orang-orang fasik, munafik, dan hasad tersebut dikala kita sedang ditimpa kemalangan. Yang Lahir menunjukkan Yang Bathin, sikap yang mereka perlihatkan menunjukkan isi hati mereka. Kebencian mereka karena telah hampir lima belas tahun orang Minangkabau tetap keras kepala dengan pendiriannya.

Laluilah segala musibah ini dengan lapang hati dan keredhaan kepada Allah Ta'ala. Dan ingatlah, apa yang kita hadapi masa sekarang belum seujung kuku dibandingkan dengan apa yang dihadapi saudara-saudara kita di Palestina.

===========

Catatan Kaki:

[1] Banjir Bandang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...