Langsung ke konten utama

ZAIMAR SALEH GADIS PERTAMA AHLI PENGAWETAN TANAH

[caption id="" align="aligncenter" width="1366"] Gambar: echopedian.blogspot.com

   Seorang puteri petani dari Minang kabau baruini telah menjelesaikan latihannja pada Lembaga Perentjana Tatabumi di Bogor dan dengan demikian ia mendjadi gadis Indonesia pertama jang bekerdja sebagai ahli teknik pengawetan tanah.

   Zaimar Saleh jang kini berusia 22 tahun, berasal dari desa Empat Angkat tidak djauh dari Bukittinggi di Sumatera Tengah. Dia dan temansekelasnja jang lain akan mulai bekerdja bulan ini sebagai ahli teknik pengawetan tanah. Dalam bulan Oktober lalu mereka telah selesai mendjalani latihan djabatan jang lamanja empat bulan.


   Sedjak tahun 1955, kursus latihan pengawetan tanah dari departemen pertanian telah melatih teknisi2 muda jang bekerdja dalam program penggunaan tanah (land-use) diseluruh Indonesia.

   Empatpuluh orang teknisi pengawetan tanah jang kini bekerdja diseluruh Indonesia telah mengikuti latihan di Bogor, dan tigapuluh orang lainnja telah memperoleh latihan landjutan diluar negeri. ICA telah turut membantu pemerintah Indonesia dalam program latihan ini.

[…]
***

Berita yang disalin dari Trisula, Madjalah Bulanan Untuk Wanita Pedjuang, Th. XI, No – 11, NOPEMBER 1961, hlm. 30) tentang wanita Indonesia pertaama “ahli teknik pengawetan tanah” (ahli pertanahan) yang bernama Zaimar Saleh. Di atas disebutkan bahwa Zaimar belajar di “Lembaga Perentjana Tatabumi” milik Departemen Pertanian di Bogor.

Disebutkan pula bahwa Zaimar Saleh yang masih berusia 22 tahun berasal dari “desa [kenagarian] Empat Angkat/Ampek Angkek”, Agam (“tidak djauh dari Bukittinggi”). Dengan demikian dapat kita ketahui sekarang bahwa seorang lagi perempuan Minang tercatat sebagai pionir (orang pertam)a yang menjadi ahli pertanahan di negara ini.

Lanjutan dari laporan di atas adalah sebagai berikut:

ZAIMAR MEMILIH LAPANGAN KERDJA

Kenapa Zaimar memilih lapangan kerdja jang ras[a]nja hanja tjotjok untuk kaum pria, pekerdjaan jang meminta ketjintaan pada tanah dan kerdja berat ditengah lapangan ini?

 ‘Saja tjinta pada bau tanah’, kata Zaimar. ‘Ajah saja seorang petani, dan buat ajah tak ada gandjilnja untuk mengirim saja beladjar ke Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA). Setelah tamat sekolah itu, saja ingin mendjadi seorang ahli pengawetan tanah, dan demikianlah’.

Alasan jang dikemukakan ini begitu mudah, tetapi kerdja jang bakal dihadapi gadis ini tidaklah semudah itu.

 Ketika ia sedang mendjalani latihan lapangan sekitar Bandung, gadis ini bekerdja 10 djam sehari, membuat penjelidikan tanah dan perentjanaan kebun, dibawah terik matahari musim kering jang menggersang. Didaerah batu kapur Gunungkidul jang kering di Jawa Tengah, ia harus masuk kedalam gua jang dalam untuk mempeladjari sumber2 air dibawah tanah.

Orang akan bertanja didalam hati bagaimana nanti reaksi petani2 di Minang kabau melihat seorang gadis bertjelana djengki mengembara didaerah pertanian dan berusaha mejakinkan para petani akan kebaikan pengawetan tanah, dan mengandjurkan tanaman apa jang paling tjotjok bagi tanah itu. Zaimar hanja tersenjum.”

Demikianlah kisah hidup dan karir seorang gadis Minangkabau yang mengambil bidang pekerjaan yang pada tahun 1960an dipandang aneh di Indonesia karena dianggap lebih cocok dikerjakan oleh kaum lelaki.

Di zaman sekarang pun barangkali tidak banyak kaum wanita Indonesia yang memilih pekerjaan seperti yang dipilih Zaimar. Masyarakat kita yang patriarkis memang masih tebal bias gendernya.

Dr. Suryadi – Leiden University, the Netherlands / Padang Ekspres, Minggu 23 Juni 2019

_____________________________________

Disalin dari blog Engku Suryadi https://niadilova.wordpress.com


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...