Langsung ke konten utama

‘POETOES ESA’ oleh Djamaloedin Tamin


Bredasche Courant (Breda), 12-08-1933






Sekalipoen doenia dirasa kian hari bertambah kaloet dan sempit, lantaran kesengsaraan dan kemelaratan itoe telah menindas seoemoemnja Ra’ijat diini doenia; tetapi melihat keadaannja Ra’ijat jang telah sadar dari kemanoesiaannja, boekanlah kekaloetan dan kesengsaraan itoe akan menjebabkan Ra’ijat itoe tiada bisa bergerak mendjapai kemerdikaannja, malahan kemelaratan dan kesengsaraӓn Ra’ijat telah memaksa Ra’ijat itoe bergerak keras jang mana menerbitkan keberanian jang loear biasa.

Menoeroet perasaӓn manoesia, tentoe tidak boleh djadi Ra’ijat itoe akan moendoer dari kalangan pergerakkan membela Ra’ijat melarat. Sekalipoen tindisan2 itoe bertambah djoega.





O Betoel kebanjakkan diantar[a] Ra’ijat jang tertindis itoe menerima sadja, atau poetoes esa dari kemerdikaannja dan keselamatan hidoepnja, tetapi menoeroet setjara kehendaknja sifat kemanoesiaӓn, tentoe beloem pantas kita poetoes esa, mentjapai hak kemerdekaan itoe, sebab menoeroet ketetapan atau pemandangan Islam, bahwa manoesia itoe tiada harganja pada pemandangan Toehan, sebeloem dia bekerdja dengan koeat, mempergoenakan perkakas jang telah diserahkan oleh Toehan itoe kepadanja.

Kita wadjib bekerdja keras, kendatipoean akan berpajah lelah, karena perloenja manoesia itoe keatas doenia boekanlah soepaja hidoep dan teroes mati sadja, sebeloem dia bekerdja goena keselamatan diri dan Bangsanja pada doenia, lebih-lebih lagi kaselamatan dan keberoentoengan pada achirat.

“Hak kita.”

Hak kita manoesia, sebenarnja seperti kata pepatah Menangkabau; Doedoek sama rendah, tegak sama tinggi, serasa, semaloe, sesakit, sesenang, sehina, semoelja.

Kalau sebenarnja ini pepatah kita fikirkan dengan lebih landjoet, tentoelah persatoean itoe mesti ada pada kita, karena njata bagi kita sekarang bahwa manoesia itoe, biarlah boedak maoepoen Penghoeloe, jang terperintah dengan siPemerintah, simiskin dengan sikaja, kaoem kaoem pekerdja haloes dengan kaoem pekerdja kasar, hanjalah sama sadja.

Apalagi menoeroet pemandangan Islam, sebenarnja Toehan Allah telah memandang kita sama2 moelja sama sekali, dengan tiada memandang bangsa apa djoea; seperti katanja Toehan Allah: Walaqat karramna Bani Adam, telah memoelijakan kami akan semoea manoesia.

Tetapi lantaran Kapitalist itoe telah bertoehan kepada hawa nafsoenja, dan telah bersendjata dengan kekajaӓn dan kekoeasaannja, teroes sadja dia memakai tangan besi dan leloeasa kepada simiskin dan kaoem boeroehnja, dengan tiada me[ng]indahkan kemanoesiaan orang lain lagi.

Tiapbangsa itoe tentoe bisa mengatoer negerinja sendiri, dengan selamat, asal sadja Pengoeroesnja menoeroetkan kehendaknja Ra’jat.

Begitoe djoega kamoem jang telah tertindas, tentoe dia bisa mengatoer asal sadja toekang pengatoer berlakoe adil dan sesoeai dengan kehendak Ra’jat.

Pebila pemerintah didoenia ini soeka meloeloeskan kehendaknja Ra’jat, tentoelah dimana2 pemerintahan dan keradjaan itoe bisa aman dan sentosa.

Kita pertjaja dengan tetap bahwa apa sadja Bangsa jang ada disekitaran doenia ini bisa bertentangan satoe sama lain, akan tidak ada peperangan jang bekal menoempahkan darahnja kaoem melarat asal sadja tiap-tiap Bangsa dikepalai oleh jang mana dianja mesti djadi kaki tangan bagi membela keselamatan Ra’jat.

Sendjata perang

Ra’jat itoe pebila diatoer oleh Kepertjaan Ra’jat tentoelah tá perloe lagi Bangsa itoe menjediakan alat sendjata perang.

Tiapkeradjaan dimasa sekarang perloe menjediakan alat sendjata, lantaran satoe sama lain sangat bertentangan dalam mereboet hak orang lain, soepaja dibawah milik dan koetá-katiknja.

Djadi sekarang njata bagi kita, bahwa sendjata itoe tá perloe, pemberontakan tá ada, peperangan tá ada, kalau kaoem Kapitalists itoe soedah lenjap dari moeka boemi ini.

***

Sumber: Surat kabar Pemandangan Islam, No. 3, Tahoen ke I, 5 November 1923. Di beberapa tempat pungtuasi disesuaikan untuk memperjelas maksud teks. Ilustrasi (berita tentang pendigulan Djamaloedin Tamin) direproduksi dari Bredasche Courant(Breda) edisi 12 Agustus 1933.

Penyalin: Dr. Suryadi, MA – Leiden University, Belanda

__________________________

Disalin dari blog Engku Suryadi Sunuri: https://niadilova.wordpress.com

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...