Langsung ke konten utama

Athar, Hatta




[caption id="" align="aligncenter" width="400"] Schippol, 24 Desember 1949[/caption]

Mohammad Athar atau lebih dikenal dengan Mohammad Hatta lahir pada tanggal 7 Jumadil Awal 1320 yang bertepatan dengan 12 Agustus 1902 di Kampung Aua Tajungkang  pada rumah berlantai dua yang di seberangnya terdapat jalan kereta api dengan latar Gunung Merapi & Singgalang yang selalu mengamati.


Bung Hatta adalah anak kedua, kakaknya bernama Rafi’ah. Adapun dengan ayahnya bernama H. Mohammad Djamil anak dari Syech Batu Ampa dan ibunya bernama Saleha yang merupakan anak sulung dari tiga orang bersaudara. Kakek beliau (Pak Gaek) Ilyas Gindo Marah, Nenek beliau (Mak Gaek) Aminah, dan Saleh St.Sinaro serta Idris yang merupakan mamak (saudara lelaki ibu) beliau.


Sang ayah meninggal tatkala Bung Hatta berumur 8 bulan sedangkan sang kakak baru berumur 2 tahun. Sang ibu kemudian dinikakan oleh sang kakek dengan seorang saudagar berdarah Palembang yang bernama Mas Agus H Ning. Dari pernikahan kedua dari ibu beliau, Bung Hatta mendapat empat orang adik perempuan; Zakiah, Halimah Tusa’diyah, Bariah, dan Bayariah. Bersukukan Jambak dan mendapat gelar Dt. Suri Dirajo.


Keluarga Bung Hatta sangat memperhatikan pendidikan beliau. Pagi hari bersekolah di Sekolah Rakyat, siang menjelang petang ikut les dengan seorang guru Belanda, dan malamnya beliau mengaji ke Surau Nyiak Djambek di Kampung Tangah Sawah. Kemudian beliau pindah bersekolah ke Padang hingga menamatkan MULO di kota tersebut.


Semenjak berada di Padang kemandirian beliau mulai terbentuk. Di kota ini pula beliau untuk bertama kalinya berkenalan dengan kehidupan organisasi, beliau menjadi pengurus perkumpulan sepak bola dan Jong Sumatera. Pada tahun 1919 beliau melanjutkan sekolah ke Prins Hendrik School di Betawi (Jakarta). Di jantung kolonial ini pulalah beliau pertama kali berkenalan dengan buku.


Di Negeri Belanda, kehidupan organisasi beliau semakin terasah. Menjadi perkumpulan mahasiswa Indonesia yang ada disana, memimpin delegasi mewakili Indonesia yang belum merdeka ke beberapa konfrensi internasional dan dengan lantang menuntu Indonesia Merdeka. Bersama beberapa orang rekannya pernah pula masuk penjara karena dituduh melakukan perbuatan makar terhadap pemerintah kolonial.


Demikianlah kehidupan seorang pejuang, diburu, ditangkap, dipenjara, dan dituduh menentang pemerintah yang sedang berkuasa. Tiada takut, tiada gentar, lawan-lawannya tetap segan padanya. Suatu sifat nan langka dan jarang kita temui pada masa sekarang.


#Memperingati Milad Bung Hatta 12 Agustus 1902 - 12 Agustus 2017


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...