Langsung ke konten utama

Direktur Sekolah Raja masa 1873 sampai 1877


Minang saisuak#297: D. Gerth van Wijk: Direktur Kweekschool Fort de Kock





IMG-Gerth van Wijk. Kramer dan Nawawi 1908, p.16


Jika bicara mengenai Sekolah Raja atau Kweekschool Fort de Kock, tempat Tan Malaka, Dahlan Abdoellah, Sjarifah Nawawi, dan banyak orang penting lainnya di akhir abad ke-19 pernah bersekolah, maka kita tentu harus menyebut juga nama D. Gerth van Wijk, tokoh yang kita munculkan fotonya kali ini, karena dia adalah salah seorang Direktur sekolah itu, sebuah sekolah sekuler ala Eropa yang paling bergengsi di Sumatera pada zamannya. Lima Direktur lainnya adalah: J.L. van der Toorn, D. Grevel, G.J.F. Biegman, J.G. Dammerboer, dan B.J. Visscher.


Didericus Gerth van Wijk, demikian nama aslinya, adalah anak dari pasangan Johanes Abraham Gerth van Wijk (lahir 1803) dan Sara Johanna Verment (lahir 1806). Didericus lahir pada tanggal 1 Juni 1835 di Wijk bij Duurstede, Utrecht, menikah dengan Sara Henriette Foreman (lahir 1836, meninggal 6 Juli 1907 di Haarlem). Mereka memiliki satu anak, Eduard Willem Frederik Gerth van Wijk, yang lahir di Fort de Kock pada tahun 1875). Kelak Eduard menjadi advokat dan menikah dengan Trijntje Schellinger pada 31 Januari 1907; Trijntje lahir pada 15 Maret 1884 di Heiloo, Belanda).





Didericus Gerth van Wijk menjadi Direktur (Kepala Sekolah) Kweekschool Fort de Kock dari 1873 sampai 1877. Berarti dialah Direktur pertama sekolah itu setelah statusnya ditingkatkan dari versi yang lama (berdiri sejak 1856) berkat sokongan dari Inspektur Pendidikan, J.A. van der Chijs. Perubahan status itu dilegalkan dengan “besluit Seri Padoeka Gouv[erneur] Generaal [James Loudon] jang tertoelis 16 December 1872” ([St. Makmoer dan Kramer, 1908: 15)


Seperti Van der Toorn dan lain-lain, Didericus Gerth van Wijk tertarik kepada kebudayaan Minangkabau. Setidaknya ia menghasilkan dua tulisan yang sangat penting bagi dunia ilmu pengetahuan: 1) sebuah artikel yang berjudul “Een Minangkabausche Heilige” yang terbit dalam Tijdjchrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 27 (1877): 224-233; 2) “De geschiedenis van Prinses Balkis (Hikajat Poeti Baloekih)” yang terbit dalam Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen 41 (1881): i-95. Dalam pengantar cerita dan terjemahan Belanda terhadap Hikayat Puti Balukih [Hikayat Putri Balqis] ini, Van Wijk mengatakan bahwa Kaum Paderi berusaha menyingkirkan cerita-cerita paganistik dalam masyarakat Minangkabau dan menggantinya dengan cerita-cerita yang bernuansa Islam.


Demikian sedikit catatan mengenai D. Gerth van Wijk, yang informasi mengenai kapan dan dimana ia meninggal belum diketahui. (Sumber foto: [Nawawi St. Makmoer dan T. Kramer], Gedenkboek Kweekschool Fort de Kock / Kitab Peringatan Sekolah-Radja Boekit-Tinggi, 1873-1908. Arnhem:  G. J. Thieme, 1908: 16).


Suryadi – Leiden, Belanda / Singgalang, Minggu, 9 April 2017


Dicopas dari blog Engku Suryadi Sunuri: https://niadilova.wordpress.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...