Langsung ke konten utama

Murid & Guru Sekolah Raja 1888


Minang Saisuak #295: Murid-murid Kweekschool Fort de Kock, 1888






Murid2 Kweekschool Fort de Kock 1888 [Nawawi & Kramer 1908, p.26]

Foto klasik untuk rubrik MinangSaisuak kali ini membawa pembaca ke Bukittinggi 129 tahun lalu. Foto ini mengabadikan murid-murid Kweekschool Fort de Kock dengan guru-guru mereka pada ‘HET JAAR 1888’ (tahun 1888). Di latar depan terlihat tiga orang guru Eropa dan tiga guru pribumi. Pada tahun itu tercatat: J.L. van der Toorn (duduk, no. 3 dari kanan) sebagai Direktur, J. Ennen (no. 3 dari kiri) sebagai Guru Kelas 2/TweedeOnderwijzer), G.J.F. Biegman (no. 2 dari kiri)  dan Nawawi St. Makmoer (no.1 dari kiri)  sebagai Europesche Onderwijzers/Guru Eropa; Nawawi mendapat keistemawaan: ia digolongkan sebagai Guru Eropa karena kacakapannya yang sudah dianggap selevel dengan guru-guru Eropa), Si Daoed Radja Medan (no. 1 dari kanan) dan Dt. Pada Besar (no. 2 dari kiri) sebagai Inlandsche Onderwijzers (Guru Pribumi).

Menulis Nawawi dan Kramer dalam sumber yang disebutkan di bawah: Setelah 35 tahun berdiri, pada 1873 Kweekschool Fort de Kock di-upgrade di bawah Guru Kepala Gerth van Wijk. Pada tahun itu jumlah muridnya tercatat hanya 15 orang. Mereka tidak berasal dari Gouvernement Sumatra’s Westkust saja, tapi juga dari luar daerah, seperti Bangkaholoe, Lampoeng, dan Poelau Nias. Beberapa murid yang dikirim kemudian dipulangkan karena tidak lulus tes kualifikasi (hlm. 20-21).

“Pengadjaran bahasa Belanda teramat soekar bagi moerid-moerid itoe, teroetama tentangan seboetannja dan lagoenja, lebih-lebih karena mereka itoe kabanjakan soedah beroemoer; ada jang lebih dari 20 tahoen” (hlm. 21). Ternyata sudah sejak dulu lidah Melayu sulit mengucapkan Bahasa Belanda.

Tahun 1876 jumlah murid menjadi 41 orang yang terbagi atas 3 kelas. “Pada klas jang tinggi moerid-moerid beroleh peladjaran teroetama dari goeroe kepala; jang mengadjar dikelas II goroe kedoea; dan dikelas III goeroe ketiga. Goeroe Melajoe mengadjarkan menoelis, ‘ilmoe bahasa Melajoe dan berhitoeng sedikit-sedikit” (hlm. 23).

Tahun 1884 banyak kerugian dialami oleh sekolah ini, terutama karena kebijakan Verkerk Pistorious, Inspecteur-honorair yang dikirim oleh Batavia untuk melakukan akreditasi terhadap Kweekschool Fort de Kock. Dia berpendapat agak negatif terhadap sekolah ini. Sebagai akibatnya, antara lain pengajaran Bahasa Belanda dihapuskan, satu kebijakan yang sangat merugikan sekolah ini. Pada tahun 1894 (20 tahun kemudian) barulah Bahasa Belanda baru diajarkan kembali di Kweekschool Fort de Kock (hlm. 23, 28).

Demikianlah sedikit kisah tentang Kweekschool Fort de Kock. Sekolah yang memakai sistem asrama ini telah memainkan peran penting dalam sosialiasi sistem pendidikan sekuler dalam masyarakat Minangkabau di sejak paroh kedua abad ke-19. Cerita yang lebih lengkap tentang sekolah ini dapat dibaca dalam buku sumber yang menjadi rujukan esai ini. (Sumber foto: [Nawawi St. Makmoer dan T. Kramer], Gedenkboek Kweekschool Fort de Kock / Kitab Peringatan Sekolah-Radja Boekit-Tinggi, 1873-1908. Arnhem:  G. J. Thieme, 1908: 26).

Suryadi – Leiden, Belanda / Singgalang, Minggu, 26 Maret 2017


_______________


Dicopas dari blog engku Dr. Suryadi Sunuri: https://niadilova.wordpress.com




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...