Langsung ke konten utama

Bintang Penghargaan bagi Asisten Demang Tilatang

[caption id="" align="aligncenter" width="500"] Dari Kiri: Dt. Bandharo (Kp. Nagari Sungai Tua), Dt. Bandharo (Kp. Nagari Nan Tujuah), Dt. Batoeah (Kp. Nagari Kapau), Dt. Radjo Digadoet (Kp. Nagari Gadut), Dt. Radjo Intan (Asisten Demang Tilatang)[/caption]

Dr. Suryadi:


Rubrik ‘Minang Saisuak’ kali ini menurunkan sebuah foto klasik yang terkait dengan Nagari Tilatang dan sekitarnya, yang  sekarang masuk ke dalam wilayah administrasi Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat.


Foto yang dibuat sekitar 1926  ini mengabadikan pemberian tanda jasa (bintang perunggu) kepada Asisten Demang Tilatang, Datoek Radja Intan (Datuak Rajo Intan) yang dalam foto ini kelihatan duduk di tengah. Mudah-mudahan masih ada keturunan Datuak Rajo Intan ini yang tinggal di Tilatang sekarang, juga keturunan empat orang kepala nagari yang menyertai Datuak Rajo Intan dalam foto ini.


Keterangan (caption) yang menyertai foto ini adalah sebagai berikut: “Diatas ini kami loekiskan gambar toean Datoek Radja Intan (ditengah), Assistant Demang Tilatang, bersama-sama dengan toean-toean dalam onderdistrict Tilatang jang mendapat anoegerah bintang peroenggoe. Dari kiri ke kanan toean-toean: Datoek Bandharo, Kepala Nagari Soengai Toeak Koto Malintang (sekarang bernama Koto Tengah),  Datoek Bandharo, Kepala Negeri Nan VII; Datoek Batoeah, Kepala Negeri Kapau; dan Datoek Radja Digadoet, Kepala Negeri Gadoet. Adapoen t. Datoek Radja Intan itoe, karena jasanja, telah [pula] mendapat binang pérak dalam tahoen 1923.”


Keterangan itu memberikan informasi kepada kita status administratif Tilatang sebagai sebuah onderdistrict pada masa itu. Namun kemudian Tilatang berubah status menjadi District. Jauh sebelumnya, dalam paroh pertama abad ke-19, Tilatang, atau daerah Kamang pada umunya, adalah salah satu pusat perlawanan Kaum Paderi yang gigih menentang penjajah Belanda. Pada awal abad 20 tampaknya Tilatang sudah sepenuhnya dikuasai dan diatur oleh Belanda.


Penjelasan tentang foto ini juga mencatat dan mengabadikan wajah-wajah kepala nagari yang ada dalam Onderdistrict Tilatang  pada masa itu. Perhatikanlah gaya pakaian mereka dan tanda jasa yang tersemat di dada mereka. Pemberian anugerah bintang adalah bagian dari sistem pengikat ambtenar pribumi denganmaster Belandanya di zaman kolonial.


Foto ini makin memperkaya pengetahuan kita tentang penetrasi Belanda ke dalam sistem sosial-budaya etnis Minangkabau di masa lampau. Kita masih menunggu sejarawan menulis tentang periode ini dengan lebih ekstensif dan komprehensif. Data-data untuk itu tampaknya tersedia berlimpah.


Suryadi – Leiden University, Belanda. (Sumber foto: Pandji Poestaka, No. 5, TAHOEN IV, 19 Januari  1926: 99).


Disalin dari Blog: niadilova.wordpress.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...