Langsung ke konten utama

Tatkala Perempuan Minang Tak Faham Adat Minang

Ilustrasi Gambar: luxurylaucher


Joget Goyang Mak Taci di Monas Jakarta Dihentikan

TOPSATU – Bunyi musik berbahasa Minang yang mengajak orang berjoget terdengar keras.

“Goyang Mak Taci, goyang ban, Sarawa lapang Mak Taci, Baju lah cabiak.." itulah kalimat lagu joget yang dilantunkan seorang artis asal Sumbar di DKI Jakarta. Sebagian ibu-ibu yang mamakai pakaian adat Minang berjoget-joget.

Tiba tiba musik dan lagu goyang Mak Taci serta joget joget itu dihentikan. Siapa yang berani menghentikan joget goyang Mak Taci? bukan Hansip, tidak pula Satpam, apalagi polisi dan tentara. Siapa yang bagak dan berani menghentikan lantunan musik dan lagu yang telah lama populer bagi orang Minangkabau di seluruh Nusantara? Dialah seorang Bundo Kanduang Jakarta, Suherni Syam namanya. Suherni Syam adalah ketua Bundo Kanduang DKI dan Sekitarnya, termasuk Bogor, Tanggerang dan Bekasi (Botabek).

Tokoh Perempuan Minang DKI yang baru saja menjadi ketua Organisasi Bundo Kanduang Minangkabau di DKI itu adalah tokoh yang paling bertanggung jawab dengan acara yang menghoyak lagu Mak Taci itu.

Hentakan musik lagu Mak Taci ditampilkan beberapa saat setelah acara seremonial Parade Budaya Nusantara yang acara puncaknya di gelar di kawasan Monas Jakarta. Sebelum acara seremonial di sebuah pentas sederhana sebanyak hampir 500 orang emak-emak yang tergabung dalam organisasi Bundo Kanduang DKI selesai berjalan kaki sepanjang 2 kilometer di jalan Sudirman yang sedang dalam status car freeday Minggu pagi (21/8).

Semua peserta parade adalah ibu-ibu yang mengenakan baju adat Minangkabau yaitu Baju Kuruang Basiba. Dalam rombongan termasuk ketua Bundo Kanduang DKI Suherni Syam. Ibu ibu yang diantaranya lengkap dengan suntiang dan tanda kebesaran adat lainya di kepala dan dipakaian masing-masing kelihatan anggun dan berwibawa, yakni Bundo Kanduang Limpapeh Rumah Nan Gadang.[1]

Di lokasi acara seremonial para Bundo Kanduang duduk dengan tertib dibawah tenda besar mengikuti acara pidato-pidato dan sambutan resmi, selain Suherni Syam, tampil berpidato isteri wakil Gubernur Sumbar Fitria Amelia yang sengaja datang ke Jakarta menghadiri acara parade ini.

Selesai sambutan-sambutan, pembawa acara dari sebuah Even Organizer (EO) bermaksud baik untuk menciptakan kegembiraan. Melalui pengeras suara, dia mengajak semua yang hadir untuk berjoget ria, diantaranya dengan lagu Goyang Mak Taci yang dibawakan oleh seorang artis Minang di DKI, mengajak audien berjoget. Sontak, sebagian ibu ibu yang mengenakan pakaian adat berdiri bergoyang dan berjoget mengiringi Goyang Mak Taci.

Menyaksikan itu Suherni Syam kelihatan resah, termasuk isteri Wagub Sumbar Patria Amelia. Belum selesai lagu Goyang Mak Taci, tiba tiba Suherni Syam berdiri dan langsung mengambil mikropon, dengan bahasa Minang dia berbicara. “Acara ko adolah acara Budaya Minang, Kito urang Minang adolah urang yang beragamo dan beradat, budaya Minang indak mambuliahkan Bundo Kanduang bajoget joget di muko rang rami, iko indak ditampeknyo. Ambo alah di wanti wanti dek urang tuo tuo kito, acara ko induak induak jan bajoget joget pulo!” Kata Suherni dengan suara lantang

Selanjutnya Suherni mengatakan "Kita para Bundo Kanduang hendaklah menjadi contoh dan berada di depan mempertahankan adat kita. Hendaknya kita memberi contoh!” ujar Suherni tegas.

Akhirnya pihak EO menukar penampilan lagu lagu Minang yang lebih santai, seperti Bareh Solok, Rumah Gadang dan Taragak jo Kampuang.

Ismalinar, seorang tokoh Bundo Kanduang Tanggerang mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Suherni itu sudah benar. “Memang tak pantas ibu ibu Minang berjoget joget, kami di organisasi Bundo Kanduang ini menggerakkan semangat memelihara adat dan budaya Minangkabau di perantauan ” katanya.

Sebagai panitia, Ismalinar mengatakan bahwa dalam rapat rapat persiapan acara sudah disepakati tidak pakai joget joget.”Yang tadi tu inisiatif EO saja, wajarlah ibu ketua bertindak, sebab berbahaya, jika ada yang memvideo kan, kan bisa viral, jadi kontroversi, masa iya Bundo Kanduang berjoget joget ” kata Ismalinar.

Ismalinar yang juga dosen Bahasa di Universitas Muhammadiyah Tanggerang itu mengatakan, di perantauan ini perlu sekali masing masing keluarga untuk memberikan pengetahuan budaya Minangkabau. “Organisasi Bundo Kanduang ini salah satu tujuannya adalah mempertahan nilai budaya dan adat Minang” katanya. (M.Khudri).

================

Sumber:

Top Satu Halaman 1

Top Satu Halaman 2

===============

Catatan Kaki oleh admin:

[1] Suntiang bukan pakaian Bundo Kanduang di Minangkabau merupakan pakaian kebesaran Bundo Kanduang. Suntiang merupakan pakaian 'anak daro' yakni pengantin perempuan yang melangsungkan pernikahan. Bundo kanduang tidak mesti memakai pakaian kebesaran, yang harus ada pada Bundo Kanduang bukan pakaian kebesaran melainkan pengetahuan, pemahaman, dan pengamalan adat dan syari'at.

===============

Baca Juga:

  1. Bundo Kanduang Limpapeh Rumah Nan Gadang
  2. Perihal 'Ratu' Bundo Kanduang


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...