Langsung ke konten utama

14. Hotel Centrum

Riwayat pembangunannya tidak diketahui dengan pasti, dimasa Kolonial Belanda komplek bangunan ini merupakan sebuah hotel dengan nama "Hotel Centrum" yang merupakan hotel termegah di Bukittinggi pada masa sekitar tahun 1900-an. Masyarakat Kota Bukittinggi lebih mengenal kompleks ini dengan nama “BAHOLA”.

Dalam catatan sejarah Perjuangan Kemerdekaan Indonesia, hotel ini dihubungkan dengan peristiwa insiden tiga orang anggota NICA dari Pekanbaru yang mengatas namakan Sekutu mencoba menaikkan bendera Belanda di Stasiun Kereta Api Bukittinggi. Akan tetapi, tindakan itu dapat dihalangi oleh para pemuda (pejuang) sehingga bendera Merah Putih tetap berkibar. Sementara ketiga orang Belanda itu kemudian diantar ke Hotel Centrum.


Pasca kemerdekaan, hotel ini pernah berubah menjadi Hotel Merdeka. Setelah tidak berfungsi sebagai hotel, bangunan ini kemudian dipakai oleh Keluarga Rakhman Tamin. Selanjutnya, oleh keluarga Rakhman Tamin bangunan ini disewakan kepada Kantor Pos dan Giro sebagai kantor sementara sambil menunggu pembangunan kantornya selesai. Kemungkinan bangunan yang disewakan tersebut ialah bangunan utama yang menghadap ke Jalan Sudirman, hal ini karena bagian lain dari bangunan ini juga disewakan kepada perorangan untuk pertokoan dan kursus Bahasa Inggris. Sekarang bangunan ini tidak dipakai lagi, karena Kantor Pos dan Giro sudah memiliki bangunan yang baru.

Komplek bangunan ini terdiri dari tiga blok bangunan. Seluruh bangunan memberi kesan tinggi dan luas. Dua buah bangunan, yaitu bagian sayap kiri dan bangunan utama beratapkan seng, sedangkan bangunan di sayap kanan beratap dari semen. Bangunan utamanya mempunyai jendela dan pintu masuk berbentuk lengkung. Plafon masih asli terbuat dari bahan asbes dengan motif bunga-bungaan yang ditopang oleh balok-balok kayu besar yang belum pernah diganti. Bangunan ini memiliki luas 1.925 meter². 

Pasa saat sekarang ini (2017) komplek bangunan ini diberi pagar seng karena dalam perkara perihal kepemilikan. Pekarangan bagian dalam ditumbuhi rumput liar yang telah mulai menjadi semak, adapun bangunan sendiri sudah tidak terawat dan pada bagian atap tampak mengelupas bahkan ada yang lepas.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...