Langsung ke konten utama

Masjid Taluak dahulunya

[caption id="" align="aligncenter" width="497"] Gambar: https://niadilova.files.wordpress.com[/caption]

Bila kita hendak mendiskusikan pertautan dan juga demarkasi antara adat dan agama (Islam) di Minangkabau, maka hal itu antara lain dapat dilihat dengan kentara pada arsitektur mesjid dan surau di Minangkabau, sebagaimana terefleksi dalam foto klasik yang kami turunkan dalam rubrik Minang saisuak minggu ini.


Judul foto ini, mengutip sumbernya, adalah: “Moskee met minaret bij Fort de Kock, S.W.K., Taluk, Padangse Bovenlanden (datering: 1910-1915)” (Mesjid dengan menara di Fort de Kock, Sumatra’s Westkust, [Nagari] Taluak, Padang Darat, tarikh: 1910-1915).


Dalam foto ini terlihat dua bangunan utama: mesjid dan menara (minaret). Keduanya saling melengkapi,tapi juga merefleksikan pertautan sekaligus demarkasi antara adat dan agama (Islam) di Minangkabau. Kedua bangunan itu terletak terpisah tapi saling mengisi. Keterpisahan (baranggang) menyiratkan bahwa masing-masing mempertahankan eksistensinya. Walaupun begitu, yang satu adalah komplemen (pelengkap) dari yang lainnya.


Bangunan mesjidnya, yang mungkin beratap ijuk atau daun kelapa, menunjukkan pengaruh arsitektur tradisional Minangkabau. Menurut A.A. Navis dalam bukunya, Alam Terkembang Jadi guru (1985), konstruksi atap yang berunda-undak ini menunjukkan pengaruh kelarasan Koto Piliang yang berciri feodalistis. Di depan bangunan mesjid terdapat menara yang jelas menunjukkan pengaruh arsitektur Arab. Ukirannya, yang didominasi oleh motif  tumbuh-tumbuhan dan bunga-bungaan, merefleksikan gagasan tentang seni menurut Islam yang menghindari representasi manusia. Dalam hal ini, motif-motif ini sejalan dengan motif-motif hiasan dalam seni ukir dan pahat Minangkabau yang juga didominasi oleh motif tumbuh-tumbuhan (pucuk rebung, bunga., daun sirih, dll.) dan beberapa jenis insekta dan unggas, seperti belalang, cancadu, capung, dan itik.


Masih ada beberapa mesjid dengan arsitektur khas seperti ini yang tersisa di Minangkabau. Selayaknyalah bangunan-bagunan yang unik tersebut dipelihara dan dikodifikasikan dalam kajian-kajian ilmiah yang menghasilkan buku bermutu, agak kelak di masa depan orang masih dapat menelusuri masa lalu Minangkabau. (Sumber: Tropenmuseum, Amsterdam).


Suryadi – Leiden University, Belanda / Harian Singgalang, Minggu, 2 Juli 2017


___________________________

Disalin dari blog Engku Suryadi Sunuri niadilova.wordpress.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...