Langsung ke konten utama

04. SMU N 2 Bukittinggi



Sekolah Rajo atau yang lebih dikenal dengan SMU 2 Bukittinggi (Sekarang SMA 2 Bukittinggi)  berada di jalan Sudirman, Kelurahan Sapiran, Kecamatan Aur Birugo XIII. Sekolah Rajo didirikan oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada tanggal 1 Maret 1873 dengan tujuan untuk menghasilkan guru yang bermutu. Pada tahun 1878, Sekolah Rajo dipindahkan ke gedung baru, yaitu gedung yang sekarang menjadi SMU (SMA) 2 Bukittinggi.

Direktur pertama Sekolah Rajo bernama G. Van der Wijk yang kemudian diganti oleh J. Van der Toorn hingga tahun 1895. Staf pengajar dari bangsa Indonesia yang paling terkenal adalah Guru Nawawi St. Makmur (1859-1928). Sekolah Rajo pernah ditutup pada tahun 1935 dan kemudian setelah kemerdekaan diaktifkan kembali dengan berbagai perubahan nama. Tahun 1946 bangunan ini dijadikan sebagai Sekolah Menengah Tinggi (SMT), tahun 1950 diubah menjadi SMA I B dan SMA II C, tahun 1960 SMA II AC dipecah menjadi SMA II C dan SMA A, dan tahun 1962, SMA II C diubah menjadi SMA 2 Bukittinggi. Tahun 1995 dari SMA 2 Bukittinggi menjadi SMU 2 Bukittinggi. Tahun 2000-an, nama SMU 2 Bukit-tinggi kembali men-jadi SMA 2 Bukit-tinggi.


Bangunan sekolah ini terbagi menjadi empat lokasi. Bangunan utamanya berada di tengah-tengah yang digunakan sebagai ruang belajar-mengajar. Bangunan lain berada di sebelah kanan, sebelah kiri, dan bagian belakang bangunan utama. Keseluruhan bangunan pada tahun 1991 telah mengalami perbaikan pada beberapa komponennya.

24 m, bangunan sebelah kanan dan kiri berukuran masing-masing 10,70 x 4,50 m, dan bangunan bagian belakang berukuran 16,50 x 10,70 m. Bangunan utama terkesan kokoh dengan ditopang 4 buah tiang tembok bulat pada bagian terasnya. Antara tiang dan tembok dihubungkan dengan besi lengkung berbentuk suluran sebagai hiasan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...