Langsung ke konten utama

Si Kundur van Fort de Kock di Digulkan

[caption id="" align="aligncenter" width="1017"] Gambar: https://id.wikipedia.org[/caption]

 President der “Indonesische Republiek”.


     Geïnterneerd in Digoel.


Zooals wij reeds meldden, is Koendoer, een Padanger, naar Digoel verbannen in veband met zijn politieke antecedenten.


     Hij is nl. Een vooraanstaand lid van de “Partai Republiek Indonesia”, een zeer revolutionaire organisatie.


     Tot heden zijn pas enkele leden gearresteerd. Hoewel de politie reeds lang die “beweging” nauwkeurig observeert, is het haar nog niet gelukt de eigenlijke verblijftplaats der hoofsbestuurs-leden van de “Pari” [Partai Indonesia Raya] waarschijnlijk hiet in Batavia (volgens andere berichten in Singapore te overvallen.


[…]


     […] dat mitsdien, in overeenstemming met den Raad van Nederlandsch-Indië, krachtens artikel 37 der Indische Staatsregeling aan Koendoer gelar Soetan Rangkajo Basa, oud 27 jaar, geboren te Fort e Kock (Sumatra’s Westkust), in het belang der openbare rust en orde de hoofdplaats de tijdelijke onderafdeeling Boven-Digoel, afdeeling Amboina, Gouvernement der Molukken, tot verblijft is aangewezen.”


***


Laporan surat kabar Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië (Batavia) edisi 18 April 1934 (lihat juga De Sumatra Post [Medan] edisi 25 April 1934)  tentang pendigulan anggota Partai Republiek Indonesia yang sangat radikal bernama Si Koendoer gelar Soetan Rangkajo Basa (ejaan Minang: Si Kundua gala Sutan Rangkayo Basa) yang berasal dari Fort de Kock (Bukittinggi). Berita di atas juga menyebutkan bahwa pada saat ditangkap, Si Koendoer baru berusia 27 tahun. Ia dibuang ke Digul bersama beberapa orang lainnya yang merupakan aktivis PRI.


Seperti dicatat dalam berita di atas, rupanya Si Koendoer dan kawan-kawannya melakukan gerakan politik (bewging) melawan Pemerinah Kolinial Belanda. Dikatakan pula bahwa ‘Partai Republiek Indonesia’ adalah sebuah organisasi revolusioner yang sangat radikal (een zeer revolutioonaire organisatie).


Kisah hidup Si Koendoer yang berakhir di Digul adalah secebis narasi sejarah tentang riwayat penentangan kaum bumiputera Indonesia melawan penjajah Belanda yang represif.


Suryadi – Leiden University, Belanda/ Padang Ekspres, Minggu 30 Juli 2017


________________________

Disalin dari blog Engku Suryadi Sunuri https://niadilova.wordpress.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...