Langsung ke konten utama

KERAJAAN MELAYU DHARMASRAYA DI SUMATERA

 

Gambar: Tirto



FB Legasi Pemikir - LEKIR | Setelah Jayanagara - raja ke dua Majapahit - dihapuskan pada 1328 akibat komplot dari pembesar Majapahit maka naik Tribhuwana Tunggadewi menjadi pemerintah ke tiga.

Tribhuwana ini adalah saudara perempuan Jayanagara tetapi dari ibu yang lain. Khabarnya Raden Wijaya tidak memiliki anak lelaki kecuali seorang sahaja yang lahir dari Dara Petak - Puteri Kerajaan Dharmasraya.

Ketika pemerintahan Tribhuwana inilah Adityawarman diangkat menjadi Wreddhamantri (Perdana Menteri). Sedangkan pada zaman Jayanagara - sepupu Adityawarman - memerintah, Adityawarman pernah menjadi duta ke Cina sebanyak dua kali.

Sebenarnya Jayanagara dibunuh oleh tabib diraja akibat pergolakan dalam istana, kerana dia bukanlah keturunan Kertanegara murni melainkan anak kacukan.[1] Ibu Jayanagara adalah puteri kepada Kerajaan Melayu Dharmasraya yang dihantar ke Majapahit setelah Dharmasraya tunduk kepada Majapahit. Pembesar Majapahit mahukan seorang pemerintah yang memiliki darah Kertanegara, darah Jawa secara murni.

Telah kita singgung dalam nota yang terdahulu tentang tiga sistem kekerabatan yang berlaku di Nusantara dimana ada suku yang menerapkan sistem Bilateral atau Parental. Kaum Jawa adalah salah satu daripadanya. Mungkin kerana itulah para pembesar Majapahit tidak ralat untuk mengangkat Tribhuwana Tunggadewi.

Kaum Banjar juga memakai sistem kekerabatan Bilateral. Maka hal yang sama berlaku kepada negeri kecil Kesultanan Banjar - Kepangeranan Tanah Bumbu. Dimana pemerintah yang ketiga adalah seorang wanita - Ratu Mas binti Pangeran Mangu.

Ratu Mas ini adalah cicit kepada Sultan Saidullah yang memerintah Kesultanan Banjar dari 1647 hingga 1660. Ratu Mas ini tidak memiliki anak lelaki malah hanya melahirkan seorang puteri. Kemudiannya puteri ini dilantik menjadi pemerintah disebuah wilayah kecil setelah Tanah Bumbu dipecahkan. Wilayah kecil ini dikenal sebagai Kepangeranan Batulicin.

Selain dari pemerintah pertama Batulicin, pemerintah kedua dan keenam turut seorang wanita.

Kembali kepada kisah Adityawarman, pada 1339 M telah dikirimkan ke Sumatera oleh Tribhuwana untuk menakluk seluruh pulau tersebut disamping menjadi wakil kepada Majapahit di sana. Kemudian pada tahun 1347 tanpa diduga oleh Tribhuwana, maka didirikan kerajaan Malayapura oleh Adityawarman. Beliau mengistiharkan pengunduran dari Majapahit dan menegaskan Malayapura merupakan negara bebas.

Malayapura ini adalah lanjutan dari Dharmasraya. Adityawarman mengambil kekuasaan dari bapa saudaranya, Srimat Sri Akarendrawarman.[2] Tidak lama kemudian Adityawarman memindahkan ibu kota ke kawasan kawasan baru yang kelak dipanggil Pagaruyung. Siasahnya mungkin untuk menghindar dari serangan Majapahit.

Adalah lumrah dalam budaya Melayu untuk menukar nama negara atas alasan-alasan tertentu terutamanya perpindahan ibu kota. Sebagai contoh, Kerajaan Negara Dipa ditukar kepada Negara Daha setelah ibu kota dialihkan ke tempat baru. Begitu juga Kerajaan Banjarmasin dinamakan sebagai Kerajaan Kayu Tangi setelah ibu negeri dipindahkan ke Martapura, namun nama ini tidak mashyur.

Makanya dapat difahami bahawa asal muasal kepada Pagaruyung adalah Dharmasraya. Dari Dharmasraya maka ia berubah kepada Malayapura dan seterusnya Pagaruyung.

Majapahit agak terkesan dengan perbuatan Adityawarman ini lalu menghantar pasukan perang ke Pagaruyung beberapa kali. Pertama adalah pada 1365 namun pasukan Majapahit gagal. Kemudian pada tahun 1409 sekali lagi Majapahit menyerang Pagaruyung dan berlaku pertempuran di Padang Sibusuk. Sekali lagi Majapahit tewas.

Jadinya rencana untuk menakluk seluruh Nusantara yang dirancang oleh Gajah Mada tidak tercapai. Ketika pengangkatan Gajah Mada [sebagai] Perdana Menteri Majapahit (sekitar 1334M atau 1336M), dia telah bersumpah - yang dikenal sebagai Sumpah Palapa - ketika diangkat menjadi :

"Jika telah menundukkan seluruh Nusantara dibawah kekuasaan Majapahit, aku (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa"

Abu Amru Radzi Othman
[Revolusi Melayu Baru]

======

Catatan Kaki oleh Admin:

[1] Kecukan (blesteran, campuran), istilah ini lazim digunakan di Malaysia yang merujuk kepada anak yang lahir dari orang tua berbeda bangsa. Dalam kasus ini, Jayanegara merupakan anak beda bangsa karena ibunya seorang Melayu.

[2] Mamak dari Adityawarman, merupakan saudara laki-laki dari Dara Petak dan Dara Jingga.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...