Langsung ke konten utama

Iskandar Zulkarnain Nenek Moyang Bangsa Melayu

 


Kisah tentang Sultan Iskandar Zulkarnain, sebagaimana diceritakan dalam Alquran (QS. Al-Kahfi: 83-98) sudah banyak dikaji dan ditulis orang. Cerita heroik sang penakluk yang menguasai wilayah dari ujung Timur hingga ujung Barat itu, tak hanya popular di kalangan umat Islam saja, tapi juga terkenal di kalangan non-muslim baik di Timur maupun Barat.

Banyak ahli dan peneliti sejarah sepakat bahwa kisah tentang Iskandar Zulkarnain sebagaimana disebutkan dalam kitab suci Alquran itu memang benar adanya. Ini real history, real story; bukan dongeng, bukan pula fiksi. Meski demikian, satu hal yang sampai sekarang masih berbalut misteri dan terus dipertanyakan dan kerap mengundang perdebatan sengit adalah terkait sosok Iskandar Zulkarnain itu sendiri.

Apakah sosok Zulkarnain yang disebutkan dalam Alquran sama-dengan Alexander the Great (Alexander yang Agung) seperti kerap dipahami oleh kalangan Barat? Soalnya, dalam penjelasannya dan peninggalan sejarahnya, meninggalkan jejak dan bukti-bukti sejarah yang ditinggalkan nyaris sama.

Dalam kesempatan ini penulis akan menulis sejarah Iskandar Zulkarnain dalam perspektif sejarah Umum yang terkandung dalam Hikayat Sulalatus Salatin yang Berbahasa Melayu dan diterjemahkan kedalam Bahasa Inggris dalam Buku “Malay Annals” oleh John Leyden, seorang ahli indologi berasal dari Skotlandia, pada tahun 1821 M dan selanjutnya penulis coba terjemahkan kembali kedalam Bahasa Indonesia. Terjemahan ini terkhusus di Bab 1 dan Bab 2 saja yang besar hubungannya dengan sejarah di Sumatera dan sebagai asal usul Raja dari kerajaan di Sumatera dan semenanjung Malaysia serta Singapura saat ini.

Berhubung tulisan bab 1 (satu) ini cukup panjang, maka penulis membaginya menjadi 3 (tiga) bagian tulisan yang akan diterbitkan semuanya dalam beberapa hari kedepan. Setelah satu judul di Bab 1 tulisan ini, penulis juga akan membuat artikel lanjutan yang diambil bab ke 2 dari Buku Malay Annals tentang sejarah Bukit Seguntang dan sejarah awal Raja-raja di Sumatera. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat dalam memahami Hikayat Sulalatus Salatin atau Sejarah Melayu.

Sejarahnya diawali pada suatu ketika Raja Iskandar Zulkarnain, putra Raja Darab dari Rum, dari ras Makaduniah (Makedonia), yang nama kerajaannya adalah Zulkarneini, ingin melihat terbitnya matahari dan dengan pandangan ini dia mencapai perbatasan tanah Hind. 

Ada seorang raja di Hindustan (India), bernama Raja Kida Hindi, yang sangat kuat, dan yang kerajaannya meluas hingga separuh Hindustan, dan segera setelah pantauan Raja Iskandar, dia meminta perdana menterinya untuk mengumpulkan pasukannya, dan berbaris bersamanya untuk menuju dan menguasai Hindustan.

Banyak tentara terlibat dalam pertempuran yang besar ini seperti apa yang tercatat sepenuhnya dalam sejarah Raja Iskandar. Singkatnya, Raja Kida Hindi dikalahkan dan ditawan, dan memeluk agama yang benar menurut hukum Nabi Ibrahim, sahabat Tuhan, setelah itu dia dikirim kembali ke negaranya sendiri. 

Raja Kida Hindi ini memiliki seorang putri yang sangat cantik dan menarik, yang wajahnya berkilauan dan bersinar seperti matahari, dan mempunyai kederdasan dan pemikiran yang kualitasnya sama-sama luar biasa, dan dia bernama Shaher-ul Beriah.

Setelah mengirim menteri utamanya, Perdana Mantri, untuk berkonsultasi dengan Nabi Khaidir, yang merupakan seorang menteri Raja Iskandar dan dia menikahkan putrinya dengan Raja Iskandar, yang setuju untuk membayar mas kawin 300.000 dinar emas.

Setelah menunggu sepuluh hari untuk menghormati upacara pernikahannya, Raja Iskandar berencana untuk membawa kembali istrinya tersebut bersamanya dari kunjungannya ke matahari terbit ini. Namun, sekembalinya, ayahnya memintanya untuk tinggal bersamanya selama beberapa waktu, yang disetujui Raja Iskander yang lalu pergi balik ke Negerinya.

Cerita selanjutnya bahwa Putri Shaher-ul Beriah, putri Raja Kida Hindi, hamil oleh Raja Iskander, tetapi Raja Iskandar tidak mengetahui keadaan ini, dan sang putri sendiri tidak memberitahukannya, sampai sebulan setelah dia kembali ke ayahnya. 

Dia akhirnya memberi tahu ayahnya bahwa dia telah mengandung selama dua bulan, di mana dia sangat senang, mengingat kehamilannya dilakukan oleh Raja Iskandar, dan oleh karena itu memperlakukannya dengan semua perhatian yang diperlukan.  

Setelah beberapa bulan, sang putri dengan selamat melahirkan seorang putra, yang Raja Kida Hindi beri nama Araston Shah, dan yang dalam segala hal merupakan gambaran sempurna dari ayahnya Raja Iskandar Zulkarnain.

Raja Araston Shah menikah dengan putri Raja Turkestan, dengan siapa dia memiliki seorang putra bernama Raja Aftas. Setelah selang waktu empat puluh lima tahun, Raja Iskandar kembali ke Makedonia, dan Raja Kida Hindi meninggal, dan meninggalkan tahta penggantinya, Raja Araston Shah, yang memerintah selama 350 tahun, dan kemudian meninggal.

Dia digantikan tahta oleh putranya Raja Aftas, yang memerintah selama 120 tahun, dan kemudian meninggal. Dia digantikan oleh Ascayinat, yang memerintah selama tiga tahun dan meninggal. Dia digantikan oleh Casidas, yang memerintah selama dua belas tahun, dan meninggal. Ia digantikan oleh Amatubusu, yang memerintah selama tiga belas tahun. Dia digantikan oleh Raja Zamzeyus, yang memerintah selama tujuh tahun, dan meninggal.

Dia digantikan oleh Kharus Cainat, yang memerintah selama tiga puluh tahun, dan meninggal. Ia digantikan oleh Raja Arhat Sacayinat. Setelah kematiannya, ia digantikan oleh Raja Cudarzuguhan putra Raja Amatubusu. Setelah dia memerintah Raja Nicabus, yang memerintah selama empat puluh tahun, dan meninggal.

Setelah dia memerintah Raja Ardasir Migan, yang menikahi putri Raja Nashirwan Adel, penguasa timur dan barat, dari siapa dia memiliki seorang putra bernama Raja Derma Unus. Setelah dia naik takhta, cucunya Tarsi Bardaras, putra Raja Zamrut, putra Shah Tarsi Narsi, putra Raja Derma Unus, putra Ardasir Babegan, putra Raja Cuduri Gudurz Zuguhan yang merupakan anak dari Raja Amatubusu, yang merupakan anak dari Raja Sabur, yang merupakan anak dari Raja Aftas, yang merupakan anak dari Raja Araston Syah, yang merupakan anak dari Iskandar Zulkarnain. 

Raja Narsi Barderas menikah dengan putri Raja Salan, raja Amdan Nayara, yang menurut beberapa orang adalah cucu Raja Nashirwan Adel, putra Raja Kobad Shah Shahriar, yang merupakan raja timur dan barat. Raja Sulan ini adalah pangeran terkuat di tanah Hind dan Sind, dan dari semua raja di bawah angin (yaitu ke arah barat, angin dianggap naik bersama matahari). 

Oleh putri putrinya, Raja Narsi memiliki tiga putra;

1. Raja Heiran yang memerintah di negara Hindustan.

2. Raja Suran, yang diambil dan dipasang oleh Raja Sulan di tempatnya sendiri.

3. Raja Panden yang memerintah di Turkestan.

Setelah beberapa saat Raja Sulan meninggal, dan cucunya Raja Suran (Rajendra Chola I) memerintah menggantikannya di Amdan Nagara, dengan otoritas yang lebih besar dari pendahulunya, dan semua raja di timur dan barat mengakui kesetiaannya, kecuali tanah. Cina, yang tidak tunduk padanya.

Kemudian Raja Suran Padshah membentuk rencana untuk menaklukkan Cina… (Bersambung ke Bag.2)

*) Penulis adalah Pemerhati dan Peneliti Sejarah dari Sutanadil Institute

Bogor, Awal Ramadhan 1444 H

Blog        :  https://www.kompasiana.com/sutanadilinstitute9042

Email      :  gustav.acommerce98@gmail.com

FB           :  https://www.facebook.com/sutan.adil

Youtube :  https://www.youtube.com/@truebackhistoryofficial4204

======

Disalin dari Kompasiana Sutan Adil: Klik DISINI | Lihat Juga: Sejarah Melayu

======

Tentang Penulis:

HG Sutan Adil: Sejarawan - Pemerhati dan Peneliti Sejarah dari Sutanadil Institute

Pemerhati dan Penulis artikel Sejarah, Ekonomi, Sosial, Politik di berbagai media. Sudah menulis dua buku sejarah populer berjudul Kedatuan Srivijaya Bukan Kerajaan Sriwijaya dan PERANG BENTENG, Perang Maritim Terbesar Abad 17 dan 19 di Palembang. (Kontak 08159376987)

=====

Baca Juga:




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...