Langsung ke konten utama

Meurah Pupok Sang Putera Mahkota Yang Difitnah

Gambar: Aceh News

Meurah adalah julukan raja-raja di Aceh sebelum datangnya agama Islam. Setelahnya, gelar Meurah berganti dengan Sultan. Meurah Pupok memiliki nama panggilan sayang, yaitu Poteu Tjoet (Pocut). Poteu artinya “raja”, sedangkan Tjoet artinya “kecil”. Meurah Pupok adalah putra kesayangan Sultan Iskandar Muda.[1]

Kematian Meurah Pupok adalah salah satu malapetaka terbesar dalam Kesultanan Aceh Darussalam. Ketika para pembantunya menanyakan kepada Sulan Iskandar Muda, mengapa hingga sampai hati melaksanakan hukuman pancung pada anak laki-lakinya yang telah dipersiapkan untuk menggantikan kedudukan beliau sebagai Sultan Aceh nantinya, maka Sultan menjawab, 

“Matee aneuk meupat jirat, tapi matee hukom pat tamita”. 

(tewas anak dapat ditandai makamnya tapi bila hilang hukum akan dicari kemana).

Meurah Pupok, putranya tersebut merupakan satu-satunya penerus Kesultanan Aceh. Berdasarkan literatur Bustanussalatin dan keterangan dari pamplet yang tertera di makam Meurah Pupok di Komplek Peutjut (Kherkoff).

Malapetaka itu berawal ketika seorang tentara asal Pedir melaporkan bahwa Meurah Pupok telah berzina dengan istrinya. Ia mengaku telah membunuh perempuan tersebut. Ia meminta keadilan Sultan Iskandar Muda supaya membunuh Meurah Pupok demi keadilan. Sultan Iskandar Muda ingin menyampaikan itu kepada Qadhi Malikul Adil sebagai ketua mahkamah kesultanan. Namun Putri Kamaliah atau Putroe Phang bersikeras bahwa sultan bisa melakukan hukuman itu sendiri.

Sebelum eksekusi pancung dilaksanakan, keputusan ini telah dicegah oleh banyak pihak dalam istana Darud Dunia termasuk Seri Raja Panglima Wazir Mizan (Menteri Kehakiman Kerajaan Aceh) dengan membujuk agar hukuman itu tidak dilaksanakan. Tetapi Putri Kamaliah tetap bersikeras bahwa Meurah Pupok harus dipancung. Sultan Iskandar Muda tidak percaya tuduhan terhadap putranya yang ta’at tersebut, namun karena desakan Putri Kamaliah dan orang di sekelilingnya, maka tanpa pengadilan Meurah Pupok pun dipancung di hadapan ribuan masyarakat banyak. 

Setelah Meurah Pupok dibunuh, sehari setelahnya Sultan mengangkat Iskandar Tsani sebagai putra mahkota penggantinya. Tak lama setelah itu, Sultan Iskandar Muda wafat karena sakit yang menurut dugaan orang terpercayanya, ia diracun. Satu pihak lagi mengatakan bahwa penyesalan karena membunuh anaknya sendiri tanpa kesalahan membuat ia kehilangan semangat hidup. Maka lemahlah pemerintahan kesultanan saat itu.

Karena Iskandar Tsani telah diangkat sebagai putra mahkota, maka ia diangkat sebagai sultan Aceh pengganti Iskandar Muda. Namun, Putri Safiatuddin mencium ketidak beresan itu. Bagaimana sebuah peristiwa bisa begitu aneh, orang-orang yang dicintainya meninggal dalam waktu hampir bersamaan. Karena tidak percaya abang kesayangannya berzina, maka ia dan pengawal terpercayanya mencari kebenaran. Ia menemukan bahwa itu adalah fitnah yang telah dirancang. Lelaki yang melaporkan istrinya berzina tersebut, tewas beberapa hari setelahnya.

Setelah Safiatuddin berhasil menguak kebenaran, ia menyampaikannya kepada Tuha Peuet Kesultanan dan seluruh menteri, maka suaminya yang merupakan anak Putri Pahang, Iskandar Tsani, dimakzulkan. Safiatuddin menemukan bahwa Putri Pahang di balik konspirasi itu kerjasama dengan Nuruddin. Karena peristiwa itulah makam Putri Pahang tidak diketahui sampai sekarang, dan Nuruddin melarikan diri ke negeri asalnya, Ranir, India setelah kalah debat dengan seorang murid Hamzah Fansuri. Lalu, Safiatuddin memasang batu nisan selayaknya keluarga kesultanan di makam Meurah Pupok. 


---------------------------------------------------

Disalin dari blog Teuku Meurah Zakhta Maulana, silahkan klik DISINI

=========================

Baca Juga: Tragedi Muerah Pupok Sang Putra Mahkota

=========================

Catatan Kaki oleh Admin:

[1] Di Bandar Padang digunakan gelar "Marah" di depan nama seseorang. Gelar ini didapat bukan karena ia telah menikah - sebagaimana lazimnya di Minangkabau - melainkan sudah dilekatkan semenjak ia lahir. Gelar ini - beserta gelar lainnya selain gelar pusaka/datuk - diturunkan dari ayah kepada anak. Orang yang memakai gelar ini menandakan kalau dirinya berasal dari keluarga bangsawan di Bandar Padang (Silahkan klik DISINI). Konon kabarnya, tradisi menurunkan gelar dari ayah ke anak merupakan sisa-sisa pengaruh dari Aceh. Sebelum dikuasai oleh Bangsa Eropa, Pantai Barat Sumatera - termasuk Bandar Padang, Pariaman, Painan, Indra Pura dan daerah lainnya - lama berada di bawah kekuasaan Aceh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...