Langsung ke konten utama

Kerajaan Sontang , Pasaman



Kerajaan Sontang adalah salah satu kerajaan di Provinsi Sumatera barat, bergabung menjadi Republik Indonesia pada tahun 1945, dengan pernyataan oleh raja Sontang ke-11, sehingga tidak menimbulkan revolusi sosial. Terletak di kabupaten Pasaman (perbatasan Provinsi Sumatera utara dengan Provinsi Sumatera barat), meliputi kecamatan Duo Koto dan kanagarian Sontang di kecamatan Panti.
Raja-rajanya bermarga Nasution keturunan raja Gumanti Porang dari Pidoli Lombang Panyabungan, sehingga berbahasa Mandahiling tapi masih bertalian darah dengan raja-raja Pagaruyung. Kerajaan Sontang ini berbatasan: sebelah utara berbatas dengan kerajaan Pakantan, sebelah selatan dengan Negeri Talu dan Sinurut, sebelah barat dengan kerajaan Parit Batu, sebelah timur dengan kerajaan Rao.
Sejarah raja Sontang sendiri menurut buku yang diterbitkan oleh Lembaga Adat Nagari Talu (LAN) yang dibuat berdasarkan pada sejarah keberadaan nagari Talu pada masa lalu, di situ sedikit di singgung tentang keberadaan kerajaan Tuanku Raja Sontang. Wilayah kerajaan Tuanku Raja Sontang ini berada di sebelah utara wilayah Kabuntaran Talu.
Dalam sejarahnya Tuanku Raja Sontang adalah salah satu dari tiga raja yang ada dalam wilayah Pasaman dengan sistem Dt. Ketemanggungan Barajo yang lebih di kenal dengan tali tigo sapilin, yaitu:
1. Daulat Parit Batu dari Pagaruyung yang mendirikan pemerintahan disebut dengan Langgam Pasaman di Parit Batu Simpang Empat.
2. Tuanku Bosa dari Pagaruyung yang mendirikan pemerintahan di kabuntaran Talu.
3. Tuanku Raja Sontang dari Tapanuli Selatan yang diberikan wilayah dan mendirikan pemerintahan di teluk rantau. Kerajaan Tuanku Raja Sontang ini merupakan kerajaan satelit dari kerajaan Pagaruyung.
Kerajaan Tuanku Raja Sontang ini merupakan perpanjangan tangan dari kerajaan Pagaruyung di daerah Pasaman yang rajanya dilantik oleh Raja Pagaruyung dan ditunjuk sebagai raja rantau yang menjadi wakil kerajaan Pagaruyung di daerah Pasaman.
Daftar raja kerajaan Sontang
* Si Baroar bergelar Nasaktion (Nasution)
* Raja Gumanti Porang
* Raja Lobi
* Gambir Tuanku Rajo Sontang I
* Parlagutan Tuanku Rajo Sontang II
* Ninggil Tuanku Rajo Sontang III
* Nuncang Tuanku Rajo Sontang IV yang mula-mula masuk Islam
* Mutar Tuanku Rajo Sontang V
* Garang Tuanku Rajo Sontang VI
* Nanggar Tuanku Rajo Sontang VII
* Ratus Haji Sulthan Tuanku Rajo Sontang VIII
* Humala Sutan Sulaiman Tuanku Rajo Sontang IX
* Djaaman Tuanku Rajo Sontang X
* Ahmad Dahlan Tuanku Rajo Sontang XI
* 2013: Taufik Arief, S.H, Tuanku Rajo Sontang XII

* sultansinindonesieblog.wordpress.com/sumatera


Disalin dari kiriman FB Buyuang Palala 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...