Langsung ke konten utama

perihal Sertifikat Pra Nikah


"Sertifikat Bukan Jaminan Rumah Tangga Sakinah"

Konsep pembekalan sebelum nikah bila dimanfaatkan untuk meningkatkan wawasan berumah tangga yang sesuai dengan tuntunan ajaran agama (Islam) bukanlah suatu yang baru.


Itu tuntutan syar'i sebagaimana nasehat-nasehat Rasulullah saw yg sangat banyak tentang bagaimana menjalankan kehidupan berumah tangga.

Ini tentu bertitik tolak dari kedudukan aqad nikah yang tidak bisa disamakan dengan kontrak aqad materil (jual beli, sewa dan lainnya).

Al-Qur'an menyebutkan aqad nikah dengan "mitsaqan galizha" dalam ayat 21 surat al-Nisa'. Aqad nikah merupakan suatu aqad yang diniatkan untuk terjalin sampai ke akhirat, karena itu harus ada persiapan untuk memasukinya. Persiapan itu termasuk di dalamnya adalah kesiapan lahir dan bathin. Ini tentu perlu dipersiapkan.

Namun di sisi lain, dalam kondisi kekinian di dalam kehidupan bernegara, tingkat kejahatan seksual dan perzinaan sudah sangat tinggi. Pergaulan bebas semakin menjadi-jadi.

Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi akhlaq dan tradisi ketimuran, perkembangan yang seperti itu, jangan dianggap biasa saja.

Fenomena itu adalah suatu bahaya yang mengancam jati diri bangsa ini terutama kaum muslimin. Nah dalam kerangka itu, kita perlu mengingatkan jangan sampai berbagai macam program pembekalan atau sertifikasi (menurut berita yang berkembang) menjadi penghambat pernikahan setelah umur pernikahan dinaikkan !!!

Kalau pembekalan-pembekalan seperti ini menjadi penghambat pernikahan sedangkan di sisi lain, gaya hidup semakin jauh dari tuntunan agama, ini sama saja menambah bencana bagi generasi muda.
Wallahu a'lam.


______________________________

Disalin dari: Facebook Buya Gusrizal Gazahar Dt. Palimo Basa
Tanggal: 23 November 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...