Langsung ke konten utama

Pasar Derma

[caption id="" align="aligncenter" width="937"] Gambar: http://transpressnz.blogspot.co.id[/caption]

 “Moelai tanggal 28 ini boelan [Juli] sampe tanggal 2 Augustus 1921 di Fort de Kock, kabarnja oleh Vereeniging “Studiefonds Minangkabau” akan diadakan satoe Pasar Derma jang kadoea dari itoe Vereeniging.


     Dalam ini Pasar Derma, aken diadaken beroepa roepa permainan saperti: Cabaret, komedi bangsawan, dansoe [dansa] dan tari tjara Hindoestan, Krontjong Concurs. Keradjinan pekerdjaan tangan seperti : oekir mengoekir, djait mendjait, soelam dan tenoen jang soedah disediaken dari Tilatang, Boekit Tinggi, IV angkat dan dari laen laen negeri.


     Selama ada Pasar Derma [itu] aken dia[da]ken pertandingan Voetbal saban hari, dengan diadaken prijs. Bintang Mas, Perak dan Tembaga oleh itoe Vereeniging.


     Keramean berpatjoe koeda dibikin doea hari 31 Juli dan 1 Augustus.”


***


Laporan harian Sinar Sumatra, No. 153, Tahien ka 17, Hari Senen 11 Juli 1921 / 7 Lak Gwee 2472 = 5 Zjoe’lkaeda 1339 (rubrik ‘Minang-kabau’) tentang rencana penyelenggaraan pasar derma oleh ‘Studiefonds Minangkabau’ di Fort de Kock (Bukittinggi). Seperti dapat dibaca dari laporan di atas, berbagai-bagai aktvitas kesenian dan seteleng ekonomi digelar untuk meramaikan pasar derma itu. Pasar derma itu juga diramaikan dengan lomba pacu kuda yang makin populer di Minangkabau.


Studiefonds Minangkabau adalah sebuah perkumpulan (vereeniging) yang bertujuan menghimpun dana untuk dijadikan beasiswa bagi anak-anak Minangkabau yang ingin melanjutkan sekolah mereka. Pengurus Vereeniging Studiefonds Minangkabau (V.S.M.) adalah: [Nawawi?] Soetan Ma’moer (Penasehat/Adviseur), Soetan Saripado (ketua/voorzitter), Bagindo Besar, Wakil ketua/Ondervoorzitter), Lie Goan Ho (Sekretaris), Datoek Batoeah, Datoek Mangkoeto Sati, Sampono Kajo, Soetan Baheramsjah, Liem Tjioe Hien, Soetan Radjo Amas, Datoek Radjo Ibadat, Soetan Iskandar, Toean Scheffer (kepala sekolah HIS Fort de Kock), Liem Keng Goan, Sekretaris baru) (Pandji Poestaka, No. 9, TAHOEN IV, 2 Februari 1926: 188-189). V.S.M. menjadi salah satu bukti antusiasme orang Minangkabau untuk menuntut ilmu di sekolah-sekolah sekuler di awal abad 20.


Suryadi – Leiden, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 15 Oktober 2017


____________________________

Disalin dari blog engku Suryadi Sunuri: https://niadilova.wordpress.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...