Langsung ke konten utama

Bey Arifin

[caption id="" align="aligncenter" width="850"] Picture: Disini[/caption]

MENGENANG BEY ARIFIN


Pengantar


Tulisan Mengenang Bey Arifin di ambil dari Majalah Bulanan KINANTAN edisi 05 Agustus 1995 (halaman 58) ditulis oleh Dr Deliar Noer.  Setelah saja (lizen) baca tulisan tersebut, bagus untuk ditulis ulang dan dimuat pada bog Bukik Ranah Ilmu. Sebagai tambahan tulisan-tulisan lain di berbagai media baik cetak maupun media Sosmed.


Mengenang Bey Arifin adalah tulisan Deliar Noer di Majalah Bulanan KINANTAN edisi 05 Agustus 1995.  Tulisan mengenang ini memasuki 100 hari wafatnya K H Bey Arifin, ulama asal Minangkabau yang terkenal di Surabaya kata Deliar Noer.  Berikut kutipan tulisan Deliar Noer mengenai Bey Arifin. Bey Arifin dalam tulisan ini diringkas jadi BA, sedangankan Deliar Noer diringkas DN.  Semoga bermanfaat  (Haslizen Hoesin)


MENGENANG BEY ARIFIN menurut Prof. DR. Deliar Noer MA.


K H Bey Arifin mengaku seorang mubaligh.  Memang, pekerjaan dari masa muda sampai kini  mencerminkan hal ini.  Pada zaman yang berbeda – zaman penjajahan Belanda, masa pendudukan Jepang, zaman merdeka dan kini – ia (BA) bagaikan tak henti-hentinya menyampaikan misi Nabi SAW.  “Sampaikan  ajaranku, walaupun sepatah kata.”


Ke Jawa dan Kalimantan Selatan


Ia (BA) belajar di zaman Belanda, tetapi begitu selesai dari Islamic College, Padang.  Pada tahun 1939, ia (BA) mengembara di Jawa, mulanya bersekolah, kemudian mengajar.  Ia (BA) juga mengajar di Kalimantan Selatan (Normal Islam, Rantau) sampai Jepang masuk.  Kemudian mengajar di Taman Pendidikan Islam Banjarmasin.


Dalam zaman Jepang ia (BA) terpaksa bekerjasama dengan pemeritah untuk menggalakkan kerjasama masyarakat.  Namun dalam keadaan apapun ia (BA) tetap bertabligh, menyampaikan Ajaran Allah SWT.  Begitu pula ketika telah pensiun sebagai imam tentara dengan pangkat Mayor dan tentunya ketika aktif sebagai imam tentara pekerjaan mubaligh itu tetap dilakukannya, baik secara resmi maupun tidak resmi.


Ia (BA) juga guru, resmi atau tidak.  Ia (BA) membuka berbagai kursus diantaranya bahasa Inggris sampai pelajaran Agama seperti disebut diatas (di Surabaya), ia (BA) juga menjadi guru tak resmi bagi kalangan mahasiswa di kota tersebut.


Pertemuan-pertemuan yang dilakukannya dengan para mahasiswa selama bertahun-tahun,  tidak lebih bersifat pertemuan guru dengan murid.  Walaupun begitu, pertemuan itu telah berhasil  memberikan saham bagi perkembangan pribadi mahasiswa tersebut sehingga mereka menjadi cendikiawan muslim yang baik.


Ia (BA) juga penulis.  Puluhan buku yang telah dipersembahkan ke tengah masyarakat, diantaranya ada yang sampai belasan kali ditetak ulang.  Ia (BA) berhasil dalam menulis.  Buku-bukunya tersebar sampai ke Singapura, Brunai Darussalam dan Malaysia.  Ia memang produktif.


Perkenalan saya (DN) pertama kali dengan tokoh ini (BA) terjadi pada tahun 1937 di Parak Laweh, Kampung Bey Arifin dan kampung ibu saya (DN).  Kami (Ibu, bapak dan saya bertiga bersaudara) “pulang kampung” dari Tebing Tinggi, Deli, bervakansi (libur) selama empat pekan.


Ke Kampung dan ke Padang  Bersama Bey Arifin


Ketika pulang kampung, saya (DN) baru naik kelas 7 HIS (Hollands Inlandse School), sekolah rendah berbahasa Belanda.  Bey Arifin  juga sedang “pulang kampung” dari Padang.  Esoknya, Abang saya (DN) dan saya (DN) dibawa ke Padang, setelah lebih dahulu singgah di Thawalib dan Diniyah Puteri Padangpanjang.


Di Padang ia (BA) membawa kami kesekolahnya, sekolah Normal Islam.  Bicaranya kocak, kepada siapapun dan menarik.  Orang tua saya (DN) suka dan bangga melihatnya dan itu sebab kami disuruh berjalan-jalan ke Padang bersamanya menambah pemandangan.  Itu pulalah perkenalan saya (DN) pertama kali dengan sekolah-sekolah Islam tersebut, yang sebagian  merupakan bahan disertasi saya (DN) di Cornell, Amerika Serikat.


Sesudah itu kami hanya sekali-sekali berhubungan dengan surat, sampai saya (DN) duduk di sekolah MULO (Meer Uitgebreid Large Onderwijs) Sekolah Menegah Pertama.  Ketika ia (BA) sudah ke Jawa dan kemudian Kalimantan Selatan, kami hanya mendengar cerita dari orang-orang saja lagi tentangnya.


Pada tahun 1955 saya (DN) mengadakan penelitian tetang gerakan-gerakan  Islam di negeri kita yang membawa saya  (DN) antara lain ke Jawa Timur.  Saya (DN) beruntung memperoleh kesempatan menumpang dirumahnya (ketika itu dirumah dinas militer, jalan Perwira, Surabaya), sehingga hasil hasil-hasil pertemuan atau wawancara saya (DN) dengan berbagai tokoh di jawa Timur serta kesan saya (DN) tentang mereka dapat saya (DN) bicarakan dengan Bey Arifin.


Tokoh-tokoh tersebut antara lain K H Ridhwan dan K H A. Manab Murtadho dari Surabaya. KH Bisri (Den Anyar), KH A Chalik Hasjim (Tebu Ireng), juga KH Umar Hubeisy, H A Bayasut S  Soemarsono dan Suprapto (ketiganya dari Surabaya)


Sebulan saya (DN) bermalan di rumah jalan Perwira,  itu mendapat kesan yang mendalam tentang Bey Arifin dan keluarganya. Disan pula saya (DN)  mengenal K H Gaffar Ismail yang kebetulan menginap dijalan Perwira, rumah yang sama dalam rangka perjalanannya ke Sulawesi Selatan.


Secara tak kangsung hal ini berarti bahwa perluasan dan pendalaman wawasan saya (DN) tentang gerakan islam dan tokoh-tokoh tertentu antara lain saya (DN) peroleh berkat hubungan dengan KH Bey Arifin.


Cita-cita Bey Arifin untuk menjadi Mubaligh [“tukang pidato” menurut istilah yang sering diungkapkan zaman dahulu] dan penulis terpenuhi sudah.  Kalau dilihat secara lahir dan mengenal kemauan keras Bey Arifin dari dekat, tampaknya haya Allah yang akan menghentikannya dalam berdakwah.


Selintas mengenai Prof. DR. Deliar Noer MA  


Deliar Noer pernah menjadi Guru SMA Muhamadiyah ( 1951 – 1953 ) di Jakarta.  Sepulang dari Amerika menjadi Dosen di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU) (1963-1965) Medan. Menjadi Rektor IKIP (1967-1974) (sekarang UNJ). Dosen tidak tetap Seskoad, Seskoal, Seskoau dan Lemhannas DKI.  Dosen Universitas Griffith AUSTRALIA dan banyak lagi sebagai dosen di Perguruan Tinggi lainnya.


Bey Arifin di Kampung


Bey Arifin dilahirkan di Kampung (Paraklaweh).  Bey Arifin di panggil Buyuang, [nenek saya (lizen) memanggil begitu].  Buku yang ditulis Bey Arifin yang pernah saya (Lizen) baca dan masih ingat sampai sekarang adalah tentang 25 Nabi/Rasul (judul lengakapnya tak ingat lagi).  Buku itu dibaca waktu masih Sekolah Rakyat (SR) sebagai tambahan bacaan pelajaran agama. Parak laweh adalah sebuah Jorong berada di [Tujuahnagari – KototangahTalatangkamangKab. Agam – Sumbar (Minang)].


Semoga bermanfaat.  Bila anda suka, beritahu teman yaaaa….. !!! Terima kasih atas kunjungan Anda (sahabat) ke Bukik Ranah Ilmu  https://lizenhs.wordpress.com/.


______________________________

Disalin dari Blog: https://lizenhs.wordpress.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...