Langsung ke konten utama

TEGAKNYA SURAU KAMI

Gambar: sumbarsatu.com

 Oleh: Bahren Nurdin
(Mahasiswa Western Sydney University, Australia)



Berdirinya Surau Sydney Australia (SSA) merupakan sebuah tonggak bersejarah bagi komunitas orang Minang yang tinggal di luar negeri, khususnya di kota Sydney. Surau ini bukan hanya sekadar bangunan fisik, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan, keberagaman, dan identitas bagi orang Minang dan komunitas Muslim di wilayah ini.

Surau Sydney kemudian hadir sebagai wadah untuk menyatukan orang-orang Minang yang merindukan kampung halaman dan ingin mempertahankan warisan adat dan agama mereka. Kehadiran surau ini mencerminkan betapa kuatnya ikatan kebersamaan dan semangat menjaga akar budaya, terutama ketika mereka berada di tanah yang jauh dari tanah leluhur.

Di bawah kepemimpinan Bapak Novri Latif dan dukungan penuh dari semua pengurus, ikatan keluarga Minang Saiyo, dan Niniak Mamak, Surau Sydney mengalami perkembangan yang inovatif dan mengambil langkah maju dengan pemanfaatan teknologi informasi cerdas, SMART SURAU. Hal ini tidak hanya memperkuat organisasi dan persaudaraan di antara anggota komunitas, tetapi juga membuka transparansi dalam hal keuangan dan memberikan contoh sikap tulus untuk mencari ridha Allah.


Prestasi Surau Sydney ini tentunya tidak terlepas dari dukungan dan bantuan dari berbagai jaringan di seluruh dunia, termasuk Minang Diaspora Network, Yayasan Yarsi, PDA, Gubernur Sumatra Barat, dan tokoh-tokoh Minang terkemuka. Dukungan ini membuktikan bahwa semangat dan kebersamaan dalam menjaga warisan budaya dan nilai-nilai agama dapat bersatu dalam mengatasi jarak dan batasan geografis.

Dengan visi yang jelas, Surau Sydney berhasil menjadi pusat komunitas yang inklusif bagi masyarakat Minangkabau dan komunitas Muslim di Sydney. Fungsi surau yang hidup kembali menjadi penting dalam memperkaya kehidupan orang Minang dan Muslim, serta memelihara tradisi budaya Minangkabau dan nilai-nilai agama Islam sebagai landasan utama dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi saya yang memiliki setetes darah Minangkabau, kehadiran Surau Sydney menjadi tempat untuk melepas kerinduan dengan kampung halaman. Bahagia dan haru rasanya dapat berkumpul dengan dunsanak, merayakan tradisi [adat] budaya, dan bersama-sama memperkuat nilai-nilai agama yang dijunjung tinggi.

Tegaknya Surau Sydney Australia adalah sebuah perjalanan panjang yang penuh pengorbanan dan semangat kebersamaan. Semoga surau ini terus menjadi pusat kegiatan yang vibrant dan semakin berkontribusi dalam memperkuat identitas Minangkabau dan nilai-nilai agama Islam di tengah-tengah masyarakat yang beragam.

Terpenting lagi, Surau Sydney Australia juga berfungsi sebagai 'markas besar’ pendidikan akhlak, [adat] budaya, dan agama bagi generasi muda Minang yang lahir dan tumbuh di Negeri Kanguru ini. Keberadaan organisasi ini mampu memainkan peran dalam membentuk karakter dan identitas para pemuda-pemudi Minang di lingkungan yang berbeda secara budaya dan sosial.

Dalam lingkungan diaspora [perantau], terutama bagi generasi muda, eksposur terhadap budaya dan nilai-nilai asli sering kali terbatas. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dengan norma-norma yang berbeda pula. Dalam konteks seperti ini, Surau Sydney menjadi tempat yang ideal untuk mendalami dan memahami akar budaya nenek moyang mereka sendiri.

Pendidikan akhlak menjadi inti dari nilai-nilai yang diajarkan di surau ini. Melalui kegiatan keagamaan,  pengajian rutin, serta pengembangan program-program sosial dan kepedulian terhadap masyarakat, generasi muda diajak untuk memahami dan mengamalkan ajaran agama secara komprehensif. Pendekatan ini berusaha membentuk akhlak yang baik, mengajarkan tentang pentingnya kesederhanaan, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama.

Pada Ramadhan 1444 yang lalu misalnya, bagitu bangga menyaksikan anak-anak muda hafiz Qur'an dididkan SSA mendapat kesempatan menjadi imam, tadarus, dan da'i. Mereka begitu bangga dengan identitas diri sendiri. Begitu pula para bundo kanduang, yang selalu memanjakan lidah-lidah para perantau dengan randang, dendeng, rabuang, dan segala macam kuliner urang awak. Sungguh kersamaan dan kekeluargaan yang luar biasa.

Tidak hanya dalam bidang agama, Surau Sydney juga berperan sebagai pusat pendidikan [adat] budaya Minangkabau. Melalui berbagai acara seperti tarian, musik tradisional, dan pameran budaya, generasi muda diajak untuk mengenal, menghargai, dan memahami kekayaan budaya nenek moyang mereka. Dengan demikian, mereka dapat mempertahankan jati diri dan ikatan dengan akar budaya tanah kelahiran orang tua mereka.

Selain itu, Surau Sydney juga berfungsi sebagai penyeimbang dalam menghadapi pengaruh pergaulan bebas di negara ini. Di lingkungan yang berbeda dengan nilai-nilai asli mereka, generasi muda seringkali dihadapkan pada tantangan moral dan sosial. Dengan adanya Surau Sydney, mereka memiliki wadah untuk belajar dan berinteraksi dengan sesama anggota komunitas yang memiliki tujuan dan nilai yang serupa, sehingga dapat membentuk lingkungan yang mendukung dan mendorong kesadaran diri dan pemahaman tentang pentingnya memegang teguh nilai-nilai luhur.

Secara keseluruhan, melalui pendidikan dan pembinaan yang holistik, surau ini menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi mereka untuk tetap berpegang teguh pada akar budaya dan nilai-nilai agama dalam menjalani kehidupan di negeri Kanguru ini.

Akhirnya, Surau Sydney Australia merupakan sebuah prestasi yang luar biasa bagi komunitas orang Minang yang tinggal di luar negeri, khususnya di kota Sydney. Keberadaannya menjadi bukti nyata bagaimana semangat kebersamaan dan semangat untuk mempertahankan warisan [adat] budaya dan nilai-nilai agama dapat mengatasi jarak dan batasan geografis, serta membentuk generasi muda yang kuat dan berakhlak mulia di tengah-tengah tantangan zaman. “Bapuntuang suluah sia, baka uoeh racun sayak batabuang, paluak pangku Adat nan kaka, kalanggik tuah malangguang”. 

Semoga#-

-------------------

 Disalin dari Grup WA | Kata dalam [] ditambahkan admin | Baca juga jambione.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...