Langsung ke konten utama

Nasionalisme Sesungguhnya

[caption id="" align="aligncenter" width="600"] Gambar: http://kisahikmah.com[/caption]

“H. A. Salim soeka doedoek.


Waktoe kapal (“J. P. Coen”) maoe berangkat dari pelaboehan Port Said, penoempang2mengadakan pesta. Pada ketika itoe pemimpin jang terdeboet (Kjai H. A. Salim) doedoek [sadja] dan lain2 penoempang sama mengenal dia.  Mereka itoe mengadjak dia akan mengikoeti pesta itoe. – kata correspondents.Moesik memboenjikan lagoe “Wilhelmus”. Sekaliannja kaoem pesta sama berdiri boeat menghormat lagoe itoe, ketjoeali H. A. Salim jang tetap doedoek.


Mereka laloe mengadoekan hal jang kedjadian itoe kepada kapiten kapal.


Atas pertanjaan, mengapakah Kjai H. A. Salim tidak toeroet berdiri, maka didjawabnja: “Tempat itoe tempat kesenangan dan pesta-pestaan; siapa soeka boleh toeroet, jang tidak soeka boleh tinggal diam!”


Sekianlah verslag interview correspondent s. k. ‘Al-Ahram’di Cairo (F[adjar] Asia.]


Orang berdiri waktoe membatja barzandji Mauloed Nabi, bi’ah semoeanja, kata ahli agama dan neraka tantangannya.


Orang disoeroeh berdiri waktoe melagoekan Wilhelmina, atau diminta berdiri ketika lagoe ‘national’ dinjanjikan, apa poela hoekoemanja? Sajang beloem ada lagoe jang menjoeroeh orang sama-sama doedoek!”


***


Laporan majalah Pembela Islam (terbit di Bandung), No. 11, TAHOEN 1, Augustus 1930 (hlm. 42) tentang tentang cara Haji Agus Salim memprotes penyanyian lagu kebangsaan Belanda ‘Wilhelmus’ yang menghendaki penghormatan orang Indonesia. Diceritakan dalam berita di atas bahwa kejadian itu berlangsung di sebuah kapal di pelabuhan Port Said.


Berita di atas memberi kesan kepada kita betapa tingginya rasa kebangsaan dan nasionalisme Haji Agus Salim. Namun, sebagaimana terjadi dalam banyak kasus lainnya, beliau melakukan protes dengan cara cerdik dan argumen yang tidak diduga-duga oleh lawan-lawan politiknya atau oleh orang lain. Sangat mungkin kecampinan bersilat lidah itu diturunkan dari ayahnya, Hoofddjaksa Sutan Mohamad Salim, yang berasal dari Minangkabau. Tidaklah berlebihan jika sering orang memuji bahwa si ‘old man’ ini adalah diplomat terulung yang pernah dimiliki oleh Indonesia.


DrSuryadi, MA. – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 14 Januari 2018


____________________________

Tulisan ini disalin dari blog Engku Suryadi Sunuri; https://niadilova.wordpress.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...