Alternatif untuk Zaman Kini - Jalan Kayu tanam ke Tambangan Sudah Ada Sejak Zaman Lampau
Oleh: Novelia Musda | ASN Kanwil Kemenag Sumbar | Rabu, 17 Desember 2025, 15:36 WIB
Harian Singgalang | Satu jalur historis dari pesisir barat Sumatera ke pedalaman Minangkabau adalah dari Kayu Tanam ke Tambangan, Batipuh, via Bukit Ambacang. Informasi tentang jalan ini antara lain dapat dibaca dalam tulisan EB Kielstra Sumatra’s Westkust 1819-1825 (Sumatera Barat 1819-1825). Rujukan Kielstra salah satunya HM Lange (1852): Het Nederlandsch Oost Indisch Leger van Westkust van Sumatra (1819-1845) [Pasukan Hindia Belanda di Sumatera Barat]. Awalnya pada Desember 1821 komandan militer Belanda di Sumatera Barat, Letnan Kolonel Antonie Theodore Raaff, untuk menghadapi Kaum Paderi berupaya menemukan perhubungan paling efektif untuk operasi militer dari Padang ke pos Belanda di Simawang, sebab jalur bukit via Saning Bakar yang pernah dilewati Raffles dipandang sangat buruk, apalagi menyeberang Danau Singkarak tidak cocok bagi transportasi banyak pasukan.
Dua jalur lain yang dipakai kaum pribumi Minangkabau untuk ke pesisir dari pedalaman yang disebut Jalan Bukit Tujuh (digunakan penduduk VI Kota yakni Pandai Sikek, Koto Baru, Koto Laweh, Aie angek, Paninjauan dan Singgalang) serta Jalan Jawi (dipakai penduduk IV Kota—a.l. Balingka, Koto Tuo dan Koto Gadang) juga dipandang tidak layak untuk transportasi militer skala besar. Jalan yang disebut terakhir ini boleh jadi jalan via Malalak yang sekarang. Jalan bukit tujuh yang disebut pertama kemungkinan tidak bisa diidentifikasi lagi saat ini.
Tiba di Kayu Tanam dari Padang pada 24 Desember 1821, Raaff mendapat informasi adanya jalan ke pedalaman via Bukit Ambacang yang lebih ”mudah” dan cepat dibanding tiga jalur tadi, sehingga dia memerintahkan ekspedisi militer lewat jalur sana, yakni dari Padang terus ke Jambak, Ulakan, Pakandangan, Kayu Tanam, Tambangan, Sipinang terus ke Simawang. Perbaikan signifikan jalan pun dilakukan menuju Bukit Ambacang di ketinggian 900 meter tersebut. Jalan dari Kayu Tanam dibuat melingkar naik di pinggang hingga ke puncak bukit dan menurun ke Tambangan dengan rerata kemiringan sedang, 20 sampai 22 derajat.
Setelah diperbaiki signifikan, barang-barang kebutuhan dan senjata pun dapat dibawa selain iring-iringan pasukan. Jika kita asumsikan jalur tersebut digunakan untuk mengangkut artileri berat seperti meriam dan mungkin juga kereta beban, maka lebarnya boleh jadi sampai 2 meter. Sebagai satu-satunya perhubungan militer bagi Belanda ke pedalaman, kaum Paderi berkali-kali mencoba menutup jalur ini, selama kurang lebih dua belas tahun penggunaannya secara intensif (1821-1833). Pentingnya jalur ini dalam periode itu mudah kita perkirakan dengan sibuknya lalu lintas pasukan Belanda dari Padang atau Pariaman ke dataran tinggi dan sebaliknya, yang harus melayani Kaum Paderi dalam ratusan kontak senjata skala kecil hingga besar.
Setelah jalan Lembah Anai dibuat pada 1833 atas perintah Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Van den Bosch, jalur Kayu Tanam-Tambangan tersebut kelihatannya pelan-pelan ditinggalkan orang-orang Eropa, meskipun mungkin kaum pribumi masih banyak memanfaatkannya sebagai alternatif. Sedikit sekali catatan tentang jalur itu setelahnya dalam tulisan-tulisan Belanda.
RDM Verbeek dalam karyanya tentang topografi dan geologi Sumatera Barat (terbit 1883) turut membahas kawasan jalan via Bukit Ambacang tersebut, atau spesifiknya kawasan Bukit Ambacang. Bukit ini disebut kawasan batu gamping (kalksteen) mulai dari Tambangan hingga Padang Panjang sampai Lembah Anai dan melapisi bebatuan masif sabak (schiefermassief), yang terlihat menyeruak di sejumlah titik. Batuan sabak di Bukit Ambacang itu sendiri disebutnya batu sabak tanah liat (clay slate/ kleischiefers) murni, bercorak keabuan cerah, dan juga dapat ditemukan di belahan utara Tambangan dan Padang Panjang.
Ada satu kali yang bermuara di bukit tersebut, sungai Pinang, yang pada bagian hulunya mengandung batuan sabak dengan komposisi hornblende dan boleh jadi juga berisi koridor granit (granietgangen). Batu gamping di kitaran bukit itu sendiri bercorak abu gelap dan sangat terkristal serta mengandung pirit. Sang ilmuwan juga menyebut batu gamping di kawasan ini amat bagus untuk menjadi bahan perekat bangunan (metselspecie), seperti halnya batuan kapur di Kamang. Data geologi semacam ini cukup penting untuk penyelidikan lebih lanjut untuk digunakan berbagai sektor. Sebab, boleh jadi data topografi dan geologi Sumatera Barat sebenarnya sudah mengalami kemajuan dibanding hasil penelitian RDM Verbeek 150 tahun lalu, tapi sayang sekali hasil-hasil relevan dari disiplin ilmu tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal apakah untuk perencanaan pembangunan fisik, identifikasi potensi sumber daya alam, termasuk antisipasi bencana. Apakah memang tidak tersampaikan kepada para pengambil kebijakan dan hanya tersimpan rapi di dalam jurnal-jurnal ilmiah tidaklah kita tahu.
Dengan kondisi jalan Lembah Anai yang semakin rawan sekarang, ada baiknya jalur lama Kayu Tanam ke Tambangan ini diselidiki kembali sebagai alternatif. Jarak tempuhnya tidak akan jauh beda, tapi resiko jalur ini kemungkinan besar tidak sebesar jalur Lembah Anai karena tidak mengikuti jalur sungai yang sifatnya fluktuatif. Mengingat jalan tol yang diharapkan akan butuh waktu bertahun berhubung kendala harus membuat terowongan 3,5 km atau fly over, jalur Kayu Tanam-Tambangan ini mungkin bisa jadi harapan baru jika sekuat tenaga diupayakan dalam waktu kurang dari setahun, tentunya dengan kontur dan lebar jalan representatif.
Jalan darat Lembah Anai tidak hanya rentan ancaman banjir bandang skala besar, tapi juga berpadu dengan longsor di sejumlah titiknya. Sudah berkali-kali air bah besar merusak jalur darat baik, bahkan mulai abad 19 ketika sebagian besar hutan Sumatera Barat masih murni. Air bah tahun 2024 kemarin yang memutus ratusan meter badan jalan terjadi tengah malam dan galodo disertai longsor pada November 2025 terjadi ketika beberapa titik jalur tersebut tertutup sehingga lalu lintas terbatas. Bila bencana skala serupa di jalur tersebut terjadi tiba-tiba misalnya saat lalu lintas sedang ramai, jelas akan mendatangkan penyesalan amat besar.
Jalan darat Lembah Anai sendiri murni inovasi Belanda. Tidaklah diketahui pasti mengapa nenek moyang kita sebelum abad ke-19 tidak mengenal jalur tersebut untuk masuk ke pedalaman dari pesisir atau sebaliknya, tapi hanya menggunakan setidaknya 3 jalur disebut di atas: via Saning Bakar, bukit tujuh dan jalur jawi. Apakah mereka menganggapnya amat berbahaya? Barangkali sudah ribuan orang yang telah meninggal sejak jalan Belanda tersebut dibuat pada 1833, baik korban jiwa kuli-kuli yang membuat dan merawat jalan, para penumpang pedati, kereta kuda dan pejalan kaki baik yang kecelakaan maupun yang dirampok dan dibunuh, kemudian korban-korban akibat konflik-konflik di lokasi tersebut, kecelakaan-kecelakaan kereta api dan kendaraan-kendaraan bermotor dari awal abad lalu sampai saat ini, plus mereka yang kehilangan nyawa karena musibah alam seperti galodo dan longsor sepanjang 2 abad sejarahnya. Tidak salah jika jalur ini layak digelari jalur maut.
Karena saat ini resikonya sudah sedemikian rupa, ada baiknya jalan kendaraan bermotor Lembah Anai dipikirkan untuk ditutup selamanya, menurut hemat saya pribadi. Hanya jalur kereta api yang dibiarkan tetap ada dan kalau perlu direaktivasi. Jalan ke sana kemudian dibatasi hanya sampai kawasan air terjun dari arah Kayu Tanam, dan dari Padang Panjang hingga ke pemukiman penduduk terakhir di tengah Lembah Anai. Dan untuk jalan terusan dimatikan bahkan untuk kendaraan roda dua. Kawasan tersebut kemudian dikembalikan seoptimal mungkin sebagai hutan alami, atau boleh jadi dengan fungsi wisata dan edukasi, dan tak perlu repot-repot melakukan penataan ruang bagi bangunan-bangunan melanggar yang selama ini abai terhadap resiko terburuk yang akan terjadi, sebab tidak ada lagi lalu lintas melaluinya. Memang sudah 200 tahun jalan Lembah Anai ciptaan Belanda ini berjasa luar biasa, tapi jika ada jalur lain lebih aman apalagi jalur lama para pendahulu kita, mengapa tidak mencoba minimal untuk menyelidiki kemungkinannya. (*)
Komentar
Posting Komentar