Langsung ke konten utama

Aceh: Pemimpin Alam Melayu


IG ygaaditama | Sejak kemunculannya di aliran Sungai Krueng Aceh pada akhir abad ke-15, Kesultanan Aceh pelan namun pasti meluaskan pengaruhnya sampai ke Pantai Barat Sumatera dan Pantai Timur serta Semanjung Malaya hingga mencapai zaman kegemilangannya pada pertengahan abad ke-17.

Oleh karena pengaruh dan wilayahnya sebagai penguasa jalur lintas Selat Melaka, Aceh berubah menjadi negara muslim maritim terkuat, terkaya dan paling disegani. Aceh menyebut dirinya sebagai Pemimpin Alam Melayu, Pemimpin Negeri-Negeri di bawah Angin, serta mendapat gelar sebagai "Serambi Mekkah" karena daulat dirinya sebagai Pelindung Islam dan kontribusinya dalam menyebarkan dan mengembangkan ajarannya.

Dalam cengkeramannya, berbagai negeri di Sumatera dan Semenanjung Malaya disatukan di bawah perintah Kutaraja. Para Duta Besar asing hilir mudik menawarkan persahabatan. Mengikuti role model negeri muslim adidaya: Turki, Persia, dan India, Aceh menjadi negeri muslim besar, agung, serta bergengsi di daerah pinggiran bumi dengan budaya islam ala Timur Tengah. 

BANGKIT SETELAH MALAKA JATUH
Setelah kejatuhan Kesultanan Malaka tahun 1511, Aceh mengambil kesempatan itu untuk tampil sebagai Penguasa Baru Selat Malaka, Pulau Sumatera, dan Semenanjung Malaya. Dimulai dari muara Sungai Krueng Aceh, Kesultanan ini mula-mula menundukkan wilayah tetangganya: Pasai, Aru dan merambah lebih jauh ke selatan sampai Pantai Barat Sumatera dan ke Pantai Timur Semenanjung Malaya.
NEGERI STRATEGIS KAYA RAYA
Karena posisinya di mulut pulau Sumatera, Aceh diuntungkan sebagai pintu masuk nusantara melalui Selat Malaka. Wilayahnya yang luas dan subur menjadi mengekspor hasil bumi kualitas unggul: emas, kopi, timah, lada, beras, gajah dan kamper. Seluruh kapal yang masuk selat dan hendak membuang sauh mesti mendapat izin dari sultan Aceh di Kutaraja. Kesultanan yang semula hanya memiliki Sungai Krueng kini menjadi Negeri Maritim Paling Adidaya.
Beras dan gajah dari Aceh, lada dari Deli, emas dari Minangkabau, kamper dari Tapanuli, Timah dari Semenanjung Malaya. Belakangan, setelah Aceh menyentuh zaman kemundurannya, penghasilan negeri itu hanya berkutat pada lada dan beras serta berubah menjadi lebih agraris dari sebelumnya. 
ISLAM ALA NEGERI DI ATAS ANGIN
Sebagai negeri muslim, Kesultanan Aceh berkiblat ke negeri-negeri muslim "di atas angin" yang adidaya: Turki, Persia, dan India. Serta berusaha mengadopsi budaya islamnya yang dianggap lebih bergengsi. Alih-alih menyesuaikan islam dengan nilai-nilai Hindu-Budha yang lebih dulu ada, Aceh memilih gaya islam Timur Tengah dengan harapan mendapat keagungan yang sama dan sukses besar dalam mengadopsinya. Sebagai penguasa terbesar sekaligus pusat pengembangan islam di Sumatera, Aceh mendapat gelar "Serambi Mekah".
Arsitektur, gaya tulisan, pakaian, nisan, gaya pemerintahan, sampai tata istana Aceh mirip dengan kerajaan-kerajaan Islam di Timur Tengah. Para pengelana barat menuliskan dalam catatan mereka bahwa para pejabat Aceh berpakaian seperti muslim Timur Tengah dan istana Aceh memiliki sida-sida atau kasim serta memiliki Istana Dalam atau Harem.
PEMIMPIN ALAM MELAYU
Dalam Hikayat Aceh, dituliskan bahwa Sultan Iskandar Muda adalah keturunan dari Iskandar Zulkarnain-pahlawan legendaris dalam Islam. Dalam Sulalatus Salatin, disebutkan bahwa Iskandar Zulkarnain adalah leluhur dari semua penguasa melayu. Melalui catatan ini, Sultan Aceh mengambil klaim sebagai Pemimpin Alam Melayu serta bertugas sebagai pelindung dan penjaga kerajaan-kerajaan melayu di bawah taklukannya. Bahasa yang digunakan di Kesultanan Aceh adalah Bahasa Melayu. Dan huruf yang digunakan adalah huruf Jawi/Arab Melayu. Hampir semua negeri melayu berada di bawah taklukan Aceh: Langkat, Deli, Serdang, Asahan, Siak, Indragiri, Pagaruyung, Kedah, Perak, Selangor, Johor, Pahang, dan Trengganu.
PELINDUNG ISLAM DAN BAHASA MELAYU
Sebagai Serambi Mekkah, Kesultanan Aceh menerapkan hukum islam sebagai kanun atau Undang-Undang resminya. Kitab Hukum yang paling monumental adalah Qanun Meukuta Alam yang disusun oleh Tgk. Syiah Kuala (Syekh Abdurrauf as-Singkili) zaman Sultan Iskandar Muda. Dalam menjalankan perannya sebagai Pelindung Islam, Kesultanan Aceh mengembangkan literasi dan penulisan kitab-kitab agama serta pemerintahan yang ditulis dalam huruf Jawi serta berbahasa melayu. Kitab-kitab agama yang terkenal yakni Shiratal Mustaqim karya Nuruddin Ar-raniri, Mir'atul Thullab dan Tarjuman Al Mustafid karya Syekh Abdurrauf As-Singkil, serta kitab pemerintahan seperti Tajus Salatin karya Bukhari Al-Jauhari dan Bustanus Salatin karya Nuruddin Ar-Raniri.
Dalam model pemerintahan, Kesultanan Aceh meniru model pemerintahan Monarki Timur Tengah dengan memiliki Qadhi Malikul Adil (Mufti Agung) di pemerintahannya yang mengurus masalah fatwa dan peradilan. Syekh Abdurrauf As-Singkili dan Syekh Nuruddin Ar-Raniri adalah contoh ulama yang menjadi Qadhi Malikul Adil.
PENGUASA NEGERI-NEGERI DI BAWAH ANGIN
Dalam surat-suratnya kepada monarki lain, Aceh menyebut dirinya sebagai "Penguasa Negeri-Negeri di bawah Angin". Istilah "di bawah angin" merujuk kepada wilayah Aceh lalu terus ke selatan. Sementara negeri "atas angin" merujuk kepada negeri-negeri yang terletak di atas atau sebelah barat Aceh. Selama masa kejayaannya, Aceh yang menjadi negara kuat, diperhitungkan dan disegani tercatat memiliki hubungan diplomatik dengan negeri-negeri bergengsi lain seperti Cina, Thailand, Jawa, Turki, India, Persia, Inggris, Belanda, Prancis, dan Portugis. Hadiah-hadiah luar negeri membanjiri Istana Aceh sebagai tanda kerjasama dan "ucapan terimakasih" karena kapal dagangnya boleh membuang sauh.
Diantara hadiah yang paling terkenal dari penguasa luar negeri kepada Aceh adalah meriam Lada Secupak dari Turki dan Meriam Raja James dari Inggris. Selain itu, Sultan Aceh sangat menyukai benda berkilauan dan satu-satunya negeri yang memiliki Balee Ceureumeen (Balai Cermin). Selain benda, Aceh juga tercatat menerima orang-orang asing terbanyak di negerinya.
KEMUNDURAN DAN ETNISISASI
Sayangnya, kejayaan Aceh harus menyentuh zaman kemunduran. Wilayah taklukannya yang luas memerdekakan diri satu persatu atau direbut oleh negeri saingan. Perebutan takhta membuat Aceh goyah dan dinasti demi dinasti berganti. Aceh kehilangan pengaruhnya di pesisir dan kekuasaan Sultan Sentris berubah menjadi Uleebalang Centris. Kehilangan daerah pesisir juga mengakibatkan Aceh kehilangan sebagian besar pendapatannya hingga bergantung pada petani di pedalaman. Bahasa Aceh mulai menggantikan Bahasa Melayu. Peran para penguasa digantikan oleh para ulama dan rakyat.
Tercatat bahwa berbagai dinasti menjadi Sultan di Aceh. Uniknya, penguasa itu tidak selalu berdarah Aceh. Beberapa dinasti non Aceh yang berkuasa ialah Dinasti Inderapura, Perak, Pahang, Dinasti Arab Jamalullail, Dinasti Bugis Wajo. Sultan terakhir Aceh, Sultan Daud Syah, berasal dari dinasti Bugis Wajo.
Bacaan Rujukan
  • Denys Lombard, Aceh zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636)
  • Anthony Reid, Sumatera Tempo doeloe: dari Marco Polo sampai Tan Malaka
  • Anthony Reid, Asal Mula Konflik Aceh: Dari Perebutan Pantai Timur Sumatera hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19
  • Leonard Y. Andhaya, Selat Malaka: Sejarah Perdagangan dan Etnisitas
  • William Marsden, Sejarah Sumatera
  • Mu'jizah, iluminasi dalam surat-surat melayu abad ke 18 dan ke 19




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...