Langsung ke konten utama

Undang-Undang Nan Salapan

 

OLEH:
Puti Reno Raudha Thaib
Tuanku Gadih Pagaruyuang
Ketua Umum Bundo Kanduang Sumatera Barat

MantagismeDalam mengatur ketertiban kehidupan masyarakat, Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sabatang telah menyusun suatu perundang-undangan guna memeriksa tiap-tiap bentuk pelanggaran atau kejahatan yang dilakukan seseorang  yang disebut dengan Undang-Undang Nan Duo Puluah.

Sedangkan Undang-undang Nan Salapan merupakan bahagian dari Undang-Undang nan duopuluah. Bahagian lainnya adalah Undang-Undang Nan Duo Baleh. Undang-undang Nan Salapan memuat keterangan tentang jenis kejahatan, tertuju kepada fiil. Sedangkan Undang-undang nan Duobaleh tertuju pada cemo (citraan) dan tuduh. Setiap pasal kejahatan mengandung dua jenis kejahatan yang hampir sama tetapi ukuran atau takarannya berbeda, seperti berikut;

Dago dagi mambari malu, Sumbang salah laku parangai, Samun saka tagak di bateh, Umbuak umbai budi marangkak, Curi maliang taluak dindiang, Upeh racun sayak batabuang, Sia baka puntuang suluah, Tikam bunuah padang badarah [1]

Yang dimaksud dengan dago adalah fitnah atau desas desus yang disiarkan sehingga dapat menimbulkan kekacauan. Sedangkan dagi adalah fitnah yang disiarkan yang dapat merugikan nama baik seseorang.

Sumbang adalah perbuatan yang tidak sesuai dengan norma dan aturan kemasyarakatan, seperti menggauli seseorang yang tidak boleh dinikahi. Salah  adalah melakukan kesalahan seperti melarikan anak gadis orang atau melakukan perzinaan. Samun adalah perbuatan merampok milik seseorang dengan membunuhnya terlebih dahulu. Saka adalah merampok dengan kekerasan dan penganiayaan.  Samun saka  juga sama maksudnya dengan rabuik rampeh.

Umbuak adalah perbuatan membujuk orang lain dengan memberikan imbalan tertentu yang dapat merugikan seseorang. Sedangkan  umbai adalah kesepakatan yang dibuat dua atau beberapa orang untuk melakukan kejahatan. Umbuak umbai  juga sama maksudnya kicuah kicang.

Curi  maksudnya adalah mengambil milik seseorang secara sambil lalu saat pemiliknya lengah, sedangkan maliang mengambil milik seseorang dengan melakukan pengrusakan.

Upeh maksudnya adalah perbuatan seseorang yang dapat menyebabkan orang lain menderita sakit setelah memakan makanan yang diberikannya,  racun  ramuan yang diletakkan di dalam makanan yang dapat menyebabkan kematian.

Sia suatu perbuatan yang dapat menyebabkan milik orang terbakar seperti tidak disengaja,    baka ialah membakar milik orang lain dengan sengaja.

Tikam maksudnya perbuatan dengan sengaja dapat melukai seseorang, sedangkan bunuah adalah pekerjaan yang dapat menyebabkan hilangnya nyawa seseorang dengan menggunakan kekerasan. **


[1] ) Rasjid Manggis Dt.Radjo Panghoeloe dkk, (1975, Limpapeh, jilid dua, Bukittinggi

==============

Gambar: wikipedia | Disalin dari laman mantagisme


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...