Langsung ke konten utama

Jalan Minangkabau atau Jalan Teluk Betung

 


1947... JALAN MINANGKABAU OR JALAN TELUK BETUNG?
FB Lost Jakarta - This photo with relatively newly built modern houses is in the collection of the Netherlands Photo Museum in Rotterdam and was taken in 1947 by photographer Cas Oorthuys (1908-1975).
We would love your help with identifying which street this is. There are a few options:
Unlikely:
1. Jalan Latuharhary (Dambrinkweg/Van Breenweg): the banjir canal was much wider and we would have seen the railway track in between.
2. Jalan Surabaya Timur (Soerabajaweg Oost): the houses along this stretch were built in the 1930s and we would have seen more grown trees/foliage.
Possible:
3. Jalan Purworejo opposite Jalan Sumenep (Telokbetongweg opposite Soemenepweg): we doubt as we think that the kali is/was a bit further from the road and houses.
4. A street with houses and a kali in another city than Batavia/Djakarta.
Likely:
5. Jalan Minangkabau (Minangkabauweg): the palm trees and rural landscape at the back suggest we are looking south which was the end of the city at the time and thus Jalan Minangkabau Timur (Oost), however west could be possible too.
6. Jalan Telukbetung (Telokbetongweg) opposite what is now Hotel Indonesia, but what in 1947 was still a rural street with a kali in front of the houses.
Many thanks for your help!

__________________________________

Terjemahan Bebas via Google Terjemahan:

1947... JALAN MINANGKABAU ATAU JALAN TELUK BETUNG?

Foto dengan rumah modern yang relatif baru dibangun ini ada dalam koleksi Museum Foto Belanda di Rotterdam dan diambil pada tahun 1947 oleh fotografer Cas Oorthuys (1908-1975).

Kami akan sangat senang membantu Anda mengidentifikasi jalan mana ini. Ada beberapa opsi:

Tidak sepertinya:

1. Jalan Latuharhary (Dambrinkweg/Van Breenweg): kanal banjir jauh lebih lebar dan kita akan melihat jalur kereta api di antaranya.

2. Jalan Surabaya Timur (Soerabajaweg Oost): rumah-rumah di sepanjang bentangan ini dibangun pada tahun 1930-an dan kita akan melihat lebih banyak pohon/dedaunan yang tumbuh.

Mungkin:

3. Jalan Purworejo seberang Jalan Sumenep (Telokbetongweg seberang Soemenepweg): kami ragu karena mengira Kali agak jauh dari jalan dan rumah.

4. Jalan dengan rumah dan kali di kota lain selain Batavia/Djakarta.

Mungkin:

5. Jalan Minangkabau (Minangkabauweg): pohon-pohon palem dan lanskap pedesaan di belakang menyarankan kita melihat ke selatan yang merupakan ujung kota pada saat itu dan dengan demikian Jalan Minangkabau Timur (Oost), namun ke barat juga memungkinkan.

6. Jalan Teluk Betung (Telokbetongweg) di seberang yang sekarang menjadi Hotel Indonesia, tetapi yang pada tahun 1947 masih merupakan jalan pedesaan dengan kali di depan rumah-rumah.

Terima kasih banyak atas bantuan anda!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...