Langsung ke konten utama

Karen's Dinner dari sudut pandang Timur

Gambar: vox

Kami dapati di ranah maya sedang ramai-ramainya pembahasan tentang sebuah rumah makan asal Australia yang di buka di ibu kota republik. Sebelum ramai, kami telah pernah melihat pada sebuah berita perihal rumah makan ini. Sebuah rumah makan yang dibuka dengan tujuan mengasari pelanggan mereka, di negeri asalnya rumah makan ini sangat ramai peminatnya sehingga mereka telah membuka cabang pada beberapa negara. Sungguh aneh, karena para pelanggan membayar para pelayan untuk menghina mereka.[1]

Sebagai negara dunia ketiga yang sangat mengagumi bahkan mendewa-dewakan barat, orang-orang dungun di republik inipun tertarik untuk ikut membuka dan kemudian mencoba makan di rumah makan ini. Dengan segera ramai di ranah maya, entah tahu atau tidak perihal konsep rumah makan ini, beberapa pelanggan agaknya tersinggung dan menyerang balik para pelayan. Kami tidak begitu mengikuti karena sudah gemas dengan sikap sekelompok kecil rakyat di republik ini yang begitu mendewa-dewakan barat, meniru, dan mendatangkan segala hal berbau barat di negeri ini.

Karen sendiri merupakan meme di ranah media sosial di Amerika, dimana Karen merupakan nama seorang wanita nyinyir yang selalu menuntut untuk dapat berbicara dengan para atasan dari berbagai perusahaan. Serupalah kiranya dengan emak-emak nyinyir di republik ini yang garang dan tak kenal ampun atau kritis bahasa kerennya.[2]

Di ranah maya, agaknya muncul perlawanan, apakah dari fihak pengelola atau orang-orang yang suka dengan rumah makan ini. Mereka membuat konten tentang rumah makan ini, menjelaskan konsepnya, dan memaparkan hal-hal menarik apa yang dapat tuan temui di rumah makan ini. Mereka juga membagikan kiat-kiat selama berada dalam rumah makan. Halus memang cara mereka, dan cara halus seperti ini yang sesungguhnya yang mengena.

Kami tidak tahu, apakah sudah ada yang melihat dari sudut pandang budaya dan kepribadian bangsa. Sebelumnya telah banyak yang membahas mengenai perbedaan tabi'at orang dari beberapa negara di luar negeri dengan rakyat di republik ini. Salah satu kesan yang mereka tangkap ialah; rakyat dari negeri ini ramah, suka menyapa dan tersenyum kepada sesiapapun yang mereka temui walaupun mereka tak mengenalnya. Berbeda dengan di luar negeri, mereka hanya akan tersenyum dan menyapa orang yang mereka kenal. Rakyat disini juga sangat ramah dan suka membantu berlainan dengan luar negeri yang cenderung acuh dan abai kepada orang lain.

Keramah-tamahan merupakan salah satu ciri khas rakyat di republik ini, sesuatu yang telah hilang dan langka bagi kebanyakan negara maju di luar sana. Namun seiring berjalannya waktu hal tersebut cenderung berkurang, keramah-tamahan kini tinggal milik masyarakat kampung yang selalu direndahkan karena dianggap terbelakang, tak berpendidikan, bodoh, dan jauh dari kemajuan. Sedangkan masyarakat perkotaan telah menjadi karbon kopi bagi peradaban Barat. Kehalusan budi, ketulusan, keramahan, dan keikhlasan sangat payah ditemui. Kalaupun ada, tersembungi disudut kecil perkotaan.

Keberadaan rumah makan ini membuktikan banyak hal tentang proses pembaratan yang telah berlangsung puluhan tahun yang kini telah mencapai pada tahap yang sudah sangat mengkhawatirkan. Sangat banyak dari aspek kehidupan mereka yang telah sepenuhnya menjadi Barat. Hal-hal yang sebelumnya terlarang bagi orang timur, telah menjadi biasa bagi masyarakat perkotaan.

Agaknya dengan kemunculan rumah makan ini menjadi pertanda bahwa proses pembaratan akan masuk kepada tahap selanjutnya, level berikutnya. Efek sosial-budaya yang diakibatkan oleh rumah makan ini akan semakin mengentalkan proses pembaratan itu di negeri ini. Kalau selama ini simbul-simbol ragawi kini yang dituju ialah mentalitas, watak, tabi'at, dan karakter orang-orang di republik ini yang akan diubah, menjadi seperti yang mereka inginkan.

Sungguh tak masuk akal, bagaimana sebuah rumah makan yang para pelayannya disuruh untuk mengasari para pelanggannya menjadi viral dan diminati oleh banyak orang. Kami tidak percaya kalau ini berkat manajemen mereka yang lihati, hebatnya promosi yang mereka lakukan, atau hal-hal teknis lainnya. Dari awal, seperti proses perizinan, kenapa pemerintah sampai memberi izin kepada rumah makan ini untuk buka dan beroperasi. Kami yakin keberadaan rumah makan ini tidak sesederhana yang kita fikirkan. Selalu ada yang mengiringi, ada yang memayungi, dan ada yang memberi perlindungan.

Kami harap, semoga rumah makan ini dapat segera ditutup, kalau masih beroperasi, semoga tidak sampai ke wilayah keamiran kami.

==================

Catatan kaki:

[1] Dikutip dari laman wikipedia, silahkan klik DISINI

[2] Selengkapnya silahkan baca DISINI

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...