Langsung ke konten utama

Surat Raja Pagaruyung ke Belanda



 

Siapa yang tidak mengenal suku Minangkabau? Suku Minangkabau merupakan salah satu suku yang terkenal dengan cerita rakyatnya yang begitu melegenda di seluruh tanah air. Suku Minangkabau berada di Provinsi Sumatera Barat. Sumatera Barat adalah salah satu Propinsi yang terletak di sepanjang pesisir pulau Sumatera.[1]

Nama Minangkabau sendiri berasal dari kata manang yang berarti menang dan kabau yang berarti kerbau. Kisahnya berawal pada saat kerajaan Pagaruyung yang dipimpin raja Adityawarman, akan ditaklukan oleh pasukan Majapahit.[2]


#ArsipHariIni menayangkan arsip tekstual mengenai Surat Tuanku Pagaruyung dan Rakyat Minangkabau kepada Pemerintahan Kolonial Belanda tentang pelaksanaan tugas Letnan Kolonel Raaft selama bertugas di Minangkabau, 2 Oktober 1823.[3]

Sumber: IG Anri

Catatan Kaki oleh admin:

[1] Sumatera Barat tidak sama dengan Minangkabau, ini merupakan narasi yang terus menerus diulang dan menyesatkan. Kalau dikatakan bahwa sebagian besar wilayah Minangkabau berada dalam Provinsi Sumatera Barat sekarang, maka hal tersebut benar adanya. Kesalahan yang selalu diulang ialah menyamakan antara wilayah administratif pemerintahan masa kini dengan wilayah kebudayaan.Terkait wilayah Minangkabau, silahkan klik DISINI

[2] Asal usul kata Minangkabau sendiri masih dalam perdebatan hingga kini, versi yang populer dan banyak tersebar ialah hikayat kemenangan Kerbau orang Melayu melawan Kerbau orang Jawa. Namun beberapa orang ahli adat di Minangkabau berpendapat bahwa kisah tersebut sengaja direka Belanda dengan maksud tertentu. Menurut beberapa orang penghulu di Minangkabau, nama bangsa [Minangkabau] ini berasal dari Mukminankanabawi yang berarti "Orang Mukmin seperti orang mukmin pengikut para nabi" selengkapnya klik DISINI

[3] Kami tidak pandai membaca arsip di atas, namun perlu kita hati-hati dalam mencermati karena cara kehidupan, cara berfikir, atau perspektif orang Minangkabau dalam memaknai kepempimpinan itu berbeda dengan suku bangsa lain di republik ini. Bagi orang Minangkabau, raja itu hanyalah perlambang pemersatu mereka karena sesungguhnya Kerajaan Minangkabau itu ialah sebuah Federasi Nagari yang sangat longgar. Raja tidak memiliki wewenang untuk memerintah dan mengendalikan kebijakan pada setiap nagari. Contoh kasus ialah tatkala Rajo Alam dan sekelompok penghulu dari Luhak Tanah Data mendatangi Loji Belanda di Padang pada 21 Februari 1821 yang mana salah satu isi perjanjian beliau dengan Belanda ialah akan menyerahkan Minangkabau. Hal tersebut disanggah dan tidak diakui oleh orang Minang karena Yang Dipertuan [raja] tidak memiliki hak ataupun wewenang atas Minangkabau.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...