Langsung ke konten utama

Palembang Pra Kesultanan

Gambar: wikipedia commons

Setelah menyelesaikan penaklukkan Tanjungpura di tahun 1365 seluruh wilayah bekas Kerajaan Nan Sarunai tunduk kepada Majapahit. Sasaran perluasan wilayah Majapahit berlanjut. Kerajaan Melayu Dharmaaraya bekas sekutunya itu jadi sasaran berikutnya. Kota Palembang berhasil dikuasi pada tahun 1377 kemudian dijadikan pangkalan utama untuk menyasar kota bandar lainnya di sekitar kawasan Selat Malaka dan Laut Cina Selatan.
Tidak seperti penaklukkan sebelumnya, agresi militer yang disebut Ekspedisi Pamalayu II ini tidak pernah tuntas. Majapahit mendapatkan perlawanan sengit di sejumlah tempat di kerajaan Melayu Dharmasraya. Mangkatnya Hayam Wuruk di tahun 1389 diikuti krisis suksesi. Hal ini menandai berakhirnya era kejayaan Majapahit. Belakangan tindakan agresi Majapahit di lintasan penting pelayaran antar bangsa ini mengundang keterlibatan dua negara Super Power Saat itu India (Kesultanan Delhi) dan Cina (Kekaisaran Ming) yang merasa kepentingan nya terganggu.
Kaisar, Yongle mengirim Ekspedisi Khazanah yang dipimpin Zheng He untuk menjalin persahabatan dan membuka hubungan dagang, namun siap untuk berperang jika diperlukan. Palembang kemudian diduduki Cina di tahun 1407 dengan alasan Majapahit melindungi dan mempekerjakan sejumlah buronan ex Dinasti Yuan untuk mengelola kawasan itu.
Pada saat yang bersamaan, sebagian Armada Zheng He melabuhkan kapal ke Jawa, pada saat itulah di Jawa sedang terjadi perang Paregreg antara Kedaton Wetan dan Kedaton Kulon. Rombongannya menginjakkan kaki ke tanah Jawa (Majapahit) disambut dengan pedang hingga menewaskan 170 Orang, dari rombongan asal Cina. Pasukan Kedaton Kulon menuduh keberadaan rombongannya membantu Kedaton Wetan. Hal ini disangkal oleh Zheng He walau sebetulnya Majapahit dan Cina sudah terlibat konflik secara tidak langsung di perairan sekitar pulau Sumatera
Atas semua kejadian itu Zheng He melapor ke Kaisar Yongle. Kaisar Cina itu marah dan mengutus Zehng He dalam ekapedisi lanjutan untuk menjatuhkan denda ke Majapahit sebesar 60 ribu tael emas. Pada tahun 1412 Zheng He menagih denda tersebut ke Majapahit, jika tidak dibayar Jawa diancam akan diluluhlantahkan. Mjapahit yang saat itu diperintah Wikramawardhana hanya bisa membayar 10 ribu tael emas dan permohonan maaf ke Cina. Karena Majapahit mengalami kekosongan kas setelah perang Paregreg.
Kaisar Yongle merasa kasihan dan ia memaafkan serta memberi peringatan kepada Majapahit. Palembang kemudian dikembalikan dengan syarat syarat tertentu diantaranya adalah hak eksklusif para pedagang Cina di sejumlah kota bandar di Pulau Jawa itu sendiri. Akibat dari peristiwa ini hegemoni Majapahit digantikam oleh Cina. Kerajaan yang sebelumnya nyaris tidak terkalahkan ini berangsur-angsur memudar pamornya. Namun Demikian pengaruh Majapahit di Palembang bertahan dalam jangka watu yang cukup lama. Palembang memainkan peranan penting suksesi Jawa dari Kerajaan Majapahit kepada Kesultanan Demak
Berikut Daftar Penguasa Palembang dalam pengaruh 1377-1659 :
1. Laksamana Pu Nala alias Patih Arya Gajahmada (pendudukan militer Majapahit) Sebagai negara vassal majapahit (nominal)
2. Chen Zu Yi (13981407) Pendudukan militer Kekaisaran Cina (ekspedisi Khazanah)
3. Zheng he/ Ma huan (1407-1415) Vassal Majapahit (nominal)/ protektorat Cina (Dinasti Ming)
4. Shi Jin Qing alias Sabokingking (1415-1443)
5. Tan Swan Liong alias Pangeran Arya Damar (1443-1475) Lepas ikatan dengan Majapahit, berdirinya Kesultanan Demak
6. Jin Bun alias Raden Fatah (1475-1509) alias Sultan Shah Alam Akbar I, Sultan Demak I (1479-1509)
7. Raden Trenggono alias Pate Rodim alias Ki Mas Palembang I (1509- 1543) alaias Sultan Shah Alam Akbar III , Sultan Demak III (1521-1546), Ekspedisi Jihad I dan II,
8. Raden Arya Jipang alias Ki Mas Palembang II ( 1543-1558), Sultan Demak V (1550-1558)
9. Raden Arya Mataram alias Ki Mas Palembang III alas Pangeran Seda ing Lautan (1558-1575)Demak runtuh, lepas ikatan dengan jawa masa peralihan menuju Era kesultanan Palembang
10. Kiyai Gedeh ing Suro (1575-1596), Palembang diserang Banten.
11.Kiyai Gedeh ing Suro Mudo alias Ki Mas Anom Adipati ing Suro alias Pangeran Madi ing Angsoko (periode kuto gawang) (1596-1623)
12. Pangeran Seda ing Puro (1623-1636)
13. Pangeran Seda ing Kanayan alias Pangeran Seda ing Pesarean
(1636-1647) (vassal mataram nominal)
14. Pangeran Seda ing Rejek (1647 -1659) (palembang dijual kepada V.O.C oleh Amangkurat I, perang V.OC-Palembang
Periode Kuto Gawang berakhir, lepas ikatan dengan Mataram, dilanjutkan periode Candi Lawang, berdirinya Kesultanan Palembang Darussalam

Disalin dari kiriman FB Riff ben Dahl


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...