Langsung ke konten utama

Ismail Abdul Jalil Shah (1765-1781)

Ilustrasi gambar: Go Sumatera


Kerajaan Siak Seri Indrapura dibangun oleh Raja Kecik dari serpihan Kerajaan Johor-Riau. Figur populer, kontroversial dan pemberani di Siak yang mewarisi Raja Kecik, yakni Tengku Ismail. Dalam literatur Eropa, Tengku Ismail digambarkan sebagai perompak paling kejam yang pernah ada di Alam Melayu. Ia dilahirkan sekitar tahun 1745 di Buantan, Siak. merupakan putra dari Sultan Mahmud Abdul Jalil Shah, sultan kedua dari Kerajaan Siak Seri indrapura.
Walau sejarah awal berdirinya Kerajaan Siak Seri Indrapura bermula akibat terjadi perselisihan di kerajaan Johor-Riau, dimasa Sultan Mahmud Adbul Jalil Muzaffar Shah perselisihan dengan Raja Sulaiman dapat diatasi. Selama empat belas tahun Sultan Mahmud bersama Raja Sulaiman memimpin kerajaan kerajaan Siak-Johor ini sebagai satu kesatuan, kelanjutan kerajaan Johor-Riau dan tetap menjalankan tata cara pemerintahan yang sama.
Raja Sulaiman mangkat di tahun 1760, tidak lama setelah itu putranya Tengku Besar dan istrinya Tengku Putih hanya berselang seminggu mangkat karena diracun. Daeng Kamboja melangkah lebih jauh dan membuat beberapa masalah yang sengaja merendahkan keturunan Raja-raja Melayu. Ia mengangkat putera almarhum Raja di Baruh menjadi Sultan Johor-Riau-Lingga-Pahang dengan gelar Sultan Ahmad Ri'ayat Shah. Penabalan Raja Ahmad menjadi Sultan digambarkan dalam Tuhfat Al Nafis dalam suasana yang sangat meriah. Karena masih terlalu kecil, 9 tahun tahun ia digendong menuju kursi kebesaran Kesultanan Johor Riau Pahang oleh seorang Bugis yang bernama Tok Kubu. Tidak lama setelah itu Sultan Ahmad mangkat akibat kena racun juga.
Daeng Kamboja juga mengangkat keponakannya Raja Haji sebagai Yang Dipertuan Muda Riau dengan gelar Raja Kelana. Merasa tersinggung sebab tidak diajak berunding, Sultan Mahmud memerintahkan penyerangan Riau. SIak menganggap Riau adalah bagian dari kedaulatannya. Rombongan bajak laut pimpinan Tengku Ismail berhasil masuk ke perairan Bintan untuk kemudian merapat dan mulai menyusun strategi sembari menunggu waktu paling tepat untuk menghancurkan benteng pertahanan Bugis di Tanjungpinang.
Pada Tahun 1761 Riau berhasil diduduki. Tengku Ismail mengambil alih jabatan Yang Dipertuan Muda Riau. Untuk mempertahankan kendali de facto atas kerajaan Johor, Daeng Kemboja melarikan cucu Raja Sulaiman yakni Raja Mahmud yang masih berusia 1 tahun ke tanah besr Johor. Ia kemudian mengangkatnya sebagai Sultan Johor dengan gelar Mahmud Abdul Jalil Ri'ayat Shah. Semenjak itu Daeng Kamboja bebas leluasa memerintah di wilayah kerajaan Johor-Pahang sebagai wali atau regent.
Daerah yang menjadi tujuan selanjutnya adalah Siantan yang merupakan gugusan Pulau Tujuh. Gugusan pulau-pulau di Laut Cina Selatan, dikenal dengan sebutan Pulau Tujuh merupakan satu kesatuan laut dengan ratusan pulau di dalamnya yang teratur rapi bagaikan untaian mutiara. Pulaunya, yakni Pulau Tambelan, Pulau Serasan, Pulau Subi, Pulau Bunguran, Pulau Laut, Pulau Siantan dan Pulau Jemaja. Pada tahun 1765 Tengku Ismail ditabalkan sebagai Sultan Siak keempat dengan gelar Ismail Abdul Jalil Shah menggantikan ayahnya yang mangkat. Namun satu tahun kemudian, dengan dukungan V.O.C, Tengku Muhammad Ali, sepupunya berhasil merebut Mempura. Dengan demikian Temgku Ismail kehilangan kedaulatan atas negeri Siak.
Tengku Ismail digambarkan dalam Syair Perang Siak sebagai anak raja pergi untuk meningkatkan daulatnya. Belanda menjulukinya bajak laut terbesar di Alam Melayu dan jadi penguasa Laut Cina Selatan. Pengembaraan Sultan Ismail tergambar dalam sejumlah literatur yang mengupas tentang Kerajaan Siak Seri Indrapura. Ia juga dikenal dengan Sultan Kudung. Tangannya putus sebelah dalam perlawanan menentang Belanda di perairan Selat Malaka.
Tengku Muhammad Ali menobatkan dirinya sebagai Sultan Siak kelima dengan gelar Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Shah. Ia memindahkan pusat Kesultanan Siak Sri Indrapura dari Mempura ke Senapelan. Antara 1766 hingga 1779 Tahta Siak diperebutkan oleh Tengku Ismail dan Tengku Muhammad Ali. Dari Riau mulailah Tengku Ismail menyusun kekuatan dengan tujuan utama merebut haknya sebagai pewaris Kerajaan Siak Seri Indrapura. Dalam perjalanannya ke Siantan, Tengku Ismail membawa sejumlah anak buahnya untuk kemudian ditempatkan di Pelalawan danTambelan .
Tengku Ismail yang tak disukai oleh Belanda, muncul sebagai Raja Laut, menguasai perairan timur Sumatera sampai ke Lautan Cina Selatan. Ia membangun kekuatan di gugusan Pulau Tujuh karena dukungan Orang Laut. Saat tiba di Siantan, penduduk lokal yang statusnya Orang Laut menerima dengan tangan terbuka. Sebagai keturuan sah raja-raja Melayu, Tengku Ismail dianggap Titisan Dewa. Ikatan genealogis menjadikan Orang laut setia. Tengku Ismail datang diberi hadiah dalam bentuk real spanyol.
Tengku Ismail bersekutu dengan Sultan Sambas dan juga orang laut penguasa Siantan. Orang laut juga tertarik dengan hasil perompakan. Ia berkuasa di Laut Cina Selatan dengan dukungan Orang Laut ini. Tengku Ismail menempatkan orang-orangnya di beberapa lokasi strategis. Mereka ditempatkan di pantai timur Sumatera dan di Riau di antara sungai-sungai Jambi dan Indragiri. Komumitas Orang Laut itu tersebar sebagai kelompok kecil di sepanjang cabang sungai atau hidup di perahu.
Didukung oleh Orang Laut, terus menunjukan dominasinya di kawasan perairan timur Sumatera, dengan mulai mengontrol perdagangan timah di Pulau Bangka. Sultan Palembang memberikan imbalan sebesar 1000 pikul perak kepada Tengku Ismail. Perak ini adalah imbalan kepada Tengku Ismail sebagai uang jaminan karena armada laut Tengku Ismail menjaga perairan disekitar pulau Bangka dari serangan saingannya yakni para Lanun Bugis Johor pimpinan Daeng Kemboja. Selain mendapatkan imbalan, Sultan Palembang juga mengizinkan bangsawan kerajaan Siak ini untuk membuka tambang tambang timah di Pulau Bangka. Laporan Belanda menyebutkan Palembang telah membayar 3000 ringgit kepada Tengku Ismail agar jalur pelayarannya aman dari gangguan. Sementara Hikayat Siak menceritakan tentang kemeriahan sambutan yang diterima oleh Tengku Ismail sewaktu kedatangannya ke Palembang.
Sekitar tahun 1767. Tengku Ismail juga merompak di kapal-kapal diselat Johor, sangat dekat dengan kekuasaan Johor. Aksi ini mendapat perlawanan dari kelompok Lanun Bugis Johor pimpinan Daeng Kemboja. Pasukan bugis dipimpin Daeng Kamboja berhasil memukul mundur Tengku Ismail. Peperangan di Selat Johor ini merupakan upaya Tengku Ismail untuk menaklukkan Kerajaan Johor-Pahang. Dengan pengaruhnya yang besar sampai ke Trengganu, Tengku Ismail mengukuhkan diri sebagai penguasa kerajaan Riau yang berbasis lautan dengan mengeksploitasi Sumatera Timur, Semenanjung Malaya dan Laut Cina Selatan. Meski begitu berkuasa di Sumatera dan semenanjung Melayu, Tengku Ismail tak pernah berhasil menaklukan kerajaan Johor-Pahang.
Pada tahun 1767 Tengku Ismail menaklukan Mempawah di Kalimantan Barat. Ia juga menjalin komunikasi ke Jambi, Palembang dan Trengganu. Pada tahun 1769 bersama 92 perahu, Tengku Ismail datang ke Mempawah untuk memadamkan pembrontakan disana. Ia juga menyerang Thailand Selatan dan mendapatkan banyak tawanan. Tengku Ismail juga menjalin hubungan yang erat dengan Trengganu. Ia menikah dengan Tengku Tipah atau Raja Nih anak Raja Trengganu, Mansur Shah. Hubungan kekerabatan ini tercapai setelah Tengku Ismail membantu Raja Trengganu menaklukan Kelantan.
Pada tahun 1779, Tengku Ismail menduduki Siak. Ia mengambil alih kedudukan Yang Dipertuan Besar Siak dari sepupunya Tengku Muhammad Ali. Pusat pemerintahan dikembalikan ke Mempura. Tahun 1780, Ia menaklukkan daerah Langkat, dan menjadikan wilayah tersebut dalam pengawasannya, termasuk wilayah Deli dan Serdang. Ia mangkat di Mempura saat menggelar acara di Balairungseri. Namanya pun dikenal dengan Marhum Mangkat di Balai. Makamnya terletak bersebelahan dengan ayahnya, Sultan Mahmud Abdul Jalil Muzaffar Shah alias Tengku Buang Asmara di Mempura.
Bacaan:
Syair Perang Siak telah dianalisis oleh Donald J. Goudie dan diterbitkan oleh The Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society. 1996.
Pusat Kekuasaan Ganda, Masyarakat dan Alam Siak & Sumatera Timur 1674-1827. KITLV Press Leiden,2003.

Disalin dari kriman FB Riff ben Dahl

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...