Langsung ke konten utama

Ibrahim Shah (1677-1685M)


Pada tahun 1666 Jambi menuntut pengakuan sebagai kerajaan yang sejajar dengan Johor. Oleh karena peperangan meletus antara Johor dan Jambi. Pada 4 April 1673 Jambi menyerbu Batusawar melalui serangan mengejutkan selepas subuh dengan 471 kapal jawa, 5 kapal lancang , 6 buah jong cina dan 1 buah kapal galley Belanda.
Sultan Abdul Jalil Shah III meloloskan diri namun Bendahara Tun Jenal gugur. Melalui sungai johor dan terus menuju mersing kemudian menuju Pahang. Johor mengalami kerugian yang besar. Istana Batusawar di jarah beserta seluruh harta kekayaan Johor. Dikatakan hasil rampasan itu berupa 140 buah kapal, 4 ton emas dan 95 pucuk meriam besi dan logam dan segala senjata api yang dimiliki oleh Johor.
Pada tahun 1677 Sultan Abdul Jalil Syah III mangkat kemudian sepupunya Raja Ibrahim. Ia merupakan putra kepada Raja Bajau, Raja Muda Pahang bin Sultan Abdullah Ma'ayat Shah. Ia dilantik sebagai Sultan Johor di Pahang pada 1677 dengan gelar Ibrahim Shah. Laksamana Tun Abdul Jamil bertindak sebagai penasihat Sultan Ibrahim. Johor memindahkan pusat pemerintahan ke Bintan. Dari situ, Laksamana Tun Abdul Jamil membina pelabuhan Bintan sehingga pelabuhan tersebut dapat mencapai kegemilangan yang dulu oleh pelabuhan Melaka. Pada tahun 1679 Tun Habib Abdul Majid ditunjuk sebagai Bendahara menggantikan pamannya Tun Jenal yg gugur.
Laksamana Tun Abdul Jamil berjaya menaikkan pamor Kerajaan Johor dalam Perang Johor-Jambi. Johor kembali bangkit, pada tahun 1679 Laksamana Tun Abdul Jamil memimpin armada Johor mengalahkan Jambi di celah nyamuk dengan bantuan orang laut kemudian menduduki Tungkal dan mengancam ibukota Jambi. Sementara itu Bendahara Tun Habib Abdul Majid memimpin pasukan bugis bersama Palembang memasuki Jambi melalui Sugai Tembesi.
Tidak ada pilihan, Jambi memilih mengakhiri permusuhan, kemudian bersekutu dengan Johor menghadapi Palembang. Johor bersedia membantu Jambi dalam menghadapi Palembang dengan syarat jambi mengakui kedaulatan Johor seperti sebelum tahun 1615, menyerahkan Tungkal dan mengembalikan hqrya yang dirampas. Pangeran Dipati Anom, Tengku Mahkota Jambi ketika itu membayar pampasan sejumlah yang diminta. Jambi pula terpaksa mengirimkan dua orang kerabat diraja ke sebagai tanda takluk.
Johor pecah menjadi 2 kubu, Laksamana Tun Abdul Jamil yg didukung orang laut berada di pihak Jambi, sementara Bendahara Tun Habib, yang tidak bisa mengkhianati Palembang yang jadi sekutunya. Ia juga tidak bisa melupakan serangan memalukan di Batusawar. Bersama Bugis dirinya memilih berada di pihak Palembang. Atas hal ini l kuasa Bendahara diambil alih oleh Laksamana Tun Abdul Jamil. Bendahara Tun Habib diberhentikan dari jabatannya kemudian diusir ke Terengganu.
Pada tahun 1681 Laksamana Tun Abdul Jamil membantu Jambi menahan serangan orang Palembang dan Bugis. Kemudian menyerang balik sehingga menjarah kawasan pesisir Palembang dan menduduki Pulau Bangka. Kalau tidak kerana campur tangan V.O.C. iscaya Johor mampu menakluk Palembang dan meletakkan Palembang ke dalam kekuasaan Johor ketika itu. Kejayaan itu membuatkan Laksamana Tun Abdul Jamil mendapat gelaran Paduka Raja dan diberi kuasa melampaui para pembesar yang lain,
Dimasa itu, Pelabuhan Bintan mencapai masa keemasannya dikunjungi oleh sekurang-kurangnya 600 buah kapal dagang dan pedagang-pedagang yang mengunjungi pelabuhan Riau datang dari segala pelusuk dunia seperti China, Portugis, Belanda, Inggris, India, Arab dan sebagainya.
Ibrahim Shah mangkat di Riau pada tanggal 16 Februari 1685, kemudian digelar Marhum Bongsu. Ia diracuni oleh istri ketiganya yang juga putri dari Laksamana Tun Abdul Jamil. Pada 1687 Tun Habib Abdul Majid yang dipinggirkan memimpin sebuah pemberontakan. Ia bersama Pasukan Bugisnya menyerang Bintan Tun Abdul Jamil beserta ahli keluarga dan para pengikutnya berundur dari Riau menuju Terengganu. Kali ini orang laut tidak membantunya karena mencurigainya terlibat dalam pembunuhan Sultan .
Pada tahun 1688 di pantai di Terengganu, berlaku satu pertempuran hebat di antara pihak Tun Abdul Jamil dan Tun Habib Abdul Majid. Pihak Tun Abdul Jamil yang kehabisan peluru meriam terpaksa menggunakan wang syiling emas sebagai ganti peluru ketika berperang. Dalam pertempuran sengit itu Tun Abdul Jamil dan beserta ahli keluarganya telah terbunuh. Tun Habib Abdul Majid berjaya menyingkirkan Laksamana Tun Abdul Jamil. Tun Habib Abdul Majid pergi ke Riau membawa Sultan Mahmud Shah II yang saat itu berusia 11 Tahun serta mengambil alih perwalian. Pada tahun 1689 Ia Kemudian membawa penguasa muda itu ke Kota tinggi, Johor.
A History of Johore. The Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society: R.O. Winstedt. 1992

Disalin dari kiriman Riff ben Dahl

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...