Langsung ke konten utama

Awal kedatangan Bugis di Melayu

Ilustrasi Gambar: indonesia.go.id


Perseteruan dengan kerajaan Aceh dan Portugis terus berlangsung sampai tahun 1641. Hal ini berakibat. Populasi penduduk Johor menurun drastis. Sultan Abdul Jalil Shah III mengambil kebijakan baru dengan menggalakkan penduduk dari negri takluknya di Sumatera untuk berimigrasi ke Johor.
Seiring dengan keruntuhan Kerajaan Gowa-Tallo di tahun 1669, para pelaut Bugis memulai diaspora keluar dari Pulau Sulawesi. Para petualang Bugis ini dikenal sebagai prajurit yang menyeramkan dilautan. Di sumatera dan semenanjung malaysia, para petualang bugis mencari daerah baru untuk dikuasai.
Disini mereka diterima dengan baik oleh Tun Habib Abdul Majid, Bendahara Kerajaan Johor-Riau. Kemudain dijadikan patron bagi semua orang Bugis. Mereka terlibat aktif dalam berbagai konflik yang melibatkan Kerajaan Johor di masa itu. Kelak, Keturunan Tun Abdul Majid inilah menjadi zuriat Sultan Terengganu, Pahang, Johor dan Negeri Selangor hingga sekarang ini.

Sepanjang abad ke 17 dan 18 Di Johor terjadi bentrokan antara kedua komunitas ini. Bentrokan antara Bugis dan Melayu-Minang, juga di Selangor, Terengganu, Pahang, Pulau Penang dam Negeri Sembilan. Para petualang Bugis yang terkenal mengerikan itu berhasil dibabat oleh orang Melayu- Minang di Negeri Sembilan dan Pulau Penang. Namun wilayah Johor, Selangor dan Pahang dikuasai sepenuhnya oleh Bugis


Disalin dari kiriman FB Riff ben Dahl

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...