Langsung ke konten utama

Tengku Embung Badariah

Foto: FB Riff ben Dahl


Beliau merupakan putri dari Tengku Alamuddin Shah bin Sultan Sultan Abdul Jalil Rahmad Shah, Yang Dipertuan Besar Negeri Siak, hasil perkawinan beliau dengan Daeng Tijah binti Daeng Pirani.
Tengku Embung Badariah diperkirakan lahir pada tahun 1751 di Siantan, Kesultanan Sambas. Beliau menikah dengan Syed Osman Syahabuddin' Ali Ba' Alawi, Mufti Kesultanan Sambas. Konon mas kawinnya berupa sekeranjang/seraga mata lanun yang sering mengganggu jalur perdagangan Kerajaan Siak.
Perkawinannya dengan Syed Osman diperkirakan terjadi pada tahun 1771. Dalam silsilah Raja-raja Siak Sri Indrapura, Pelalawan dan Tebing Tinggi mencatat bahwa turunan Tengku Embung Badariah dengan suaminya Syed Osman inilah yang menurunkan Raja-raja Siak dan Pelalawan serta menjadi penguasa Tebing Tinggi. Keturunan ini pula yang namanya hampir lengkap ditulis oleh para pencatat nasab keturunan Kerajaan Siak Sri Indrapura.
Perkawinannya dengan Syed Osman membuahkan beberapa orang anak antara lain Tengku Awi (Tengku Tuwah), Tengku Putih/Long Putih, Tengku Tengah (Tengku Hitam), Tengku Udo Syaid Ali, Sultan Assyaidis Syarif Ali Abdul Jalil Syaifudin yang merupakan Sultan Siak ke 7 dan Sultan Siak pertama yang berdarah keturunan arab, Tengku Syed Abdurrahman Fakhruddin, Yang Dipertuan Besar Kerajaan Pelalawan serta Tengku Busu Syed Ahmad , Panglima Besar Yang Dipertuan Muda Tebing Tinggi.
Sebagai saudara perempuan tertua dari Permaisuri seorang Sultan dan sesuai aturan adat lembaga kerajaan yang menganut sistem adat Perpatih dan Temanggung maka telah menjadi hak Tengku Embung setelah dewasanya untuk menggantikan peran ibunya sebagai pemegang amanah Regalia Kerajaan yang sangat penting dalam penobatan seorang Raja atau Sultan.
Tengku Embung Badariah adalah ibu dari para Sultan Siak dan Raja serta Sultan Pelalawan dan Penguasa Tebing Tinggi. Beliau wafat di Senapelan dan dimakamkan di Komplek Pemakaman Bukit Pekuburan di Pekanbaru tanpa di ketahui tahun pasti kewafatannya karena tak ada catatan yang menuliskannya.

Disalin dari kiriman FB Riff ben Dahl

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...